[Pintu itu ada di sana… Tanpa sengaja tertutup rapat dan terkunci saat kita pergi melaluinya… Kini kita hanya bisa berharap sang pemilik rumah mau berbesar hati membukakannya untuk kita… Melulu sebuah anugerah jika akhirnya sang daun pintu berderit pelan menunjukkan jalan pulang…]
“There has been no harsher critic of Barack Obama’s lack of experience than Joe Biden. Biden has denounced Barack Obama’s poor foreign policy judgment and has strongly argued in his own words what Americans are quickly realizing — that Barack Obama is not ready to be President,” said Ben Porritt, a spokesman for Mr. McCain.
Kepastian penunjukan Senator Joe Biden sebagai pendamping Barack Obama maju dalam Pemilihan Presiden AS mewakili Partai Demokrat segera disambut “black campaign” yang dilancarkan oleh kubu John McCain - rival utama mereka dari Partai Republik. Bahan utamanya tak lain adalah ucapan Joe Biden di masa lalu yang terang-terangan mengeksploitasi kekurangan Obama.
Tahun 2007, saat Joe Biden maju untuk memperebutkan satu kursi calon presiden dari Partai Demokrat, politisi senior ini menyebut Obama belum siap menjadi pemimpin Negeri Paman Sam. Dia menyebutkan fakta bahwa rivalnya tak punya pengalaman dalam politik luar negeri dan minim jam terbang sebagai politisi. Serangan langsung terhadap popularitas Obama yang saat itu mulai menanjak.
Orang tak mudah lupa dengan kritik pedas Joe Biden itu. Kini, setelah Joe Biden mengaku kalah dari pencalonan Partai Demokrat, pernyataan sinisnya justru menjadi amunisi utama Partai Republik untuk mengadu domba pendukung Partai Demokrat. Bagaimana mungkin seseorang yang dulu sangat keras dan pedas mengkritik kini berubah sikap menjadi pendukung utama orang yang dulu dikritiknya?
Terlepas dari pertimbangan rasional bahwa pemilihan Joe Biden dilakukan untuk menutupi kelemahan Obama dalam merumuskan kebijakan luar negeri dan kiprahnya di pentas politik yang masih seumur jagung, Obama menunjukkan sikap besar hati dengan memilih orang yang pernah mengkritiknya dengan sangat keras. Sepintas peristiwa itu menunjukkan betapa Obama tidak menyimpan dendam atas kesalahan orang lain. Bahkan orang yang menjatuhkannya pun tak kehilangan kesempatan menjadi pendampingnya menuju singgasana kejayaan.
Tak banyak orang yang seberuntung Joe Biden. Pun tak banyak manusia yang berjiwa pemaaf seperti Obama. Beruntunglah Andriy Shevchenko yang mengalami pengalaman serupa. Kesalahannya di masa lalu dengan meninggalkan AC Milan tak membuat manajemen klub elite Italia itu serta merta mencoret nama Sheva. Ketika ada kesempatan untuk kembali, Silvio Berlusconi dengan tangan terbuka menerima kembali Sheva yang dianggapnya sebagai “anak yang hilang”. Read the rest of this entry »