<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>injurytime</title>
	<link>http://injurytime.dagdigdug.com</link>
	<description>belajar hidup dan ilmu kehidupan dari lapangan hijau</description>
	<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 12:18:45 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Mencintai pedih</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/04/mencintai-pedih/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/04/mencintai-pedih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 12:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menjadi Bijak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/04/mencintai-pedih/</guid>
		<description><![CDATA[[Jatuh itu sakit. Apalagi jika terjun bebas dari ketinggian. Luar biasa pedih! Tapi, diam-diam seringkali muncul kenikmatan yang tanpa kita sadari justru membuat kita enggan berdiri lagi.]

Teman kami sedang amat sangat down. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kariernya hancur berantakan, nama baiknya tercemar, plus persoalan pribadi yang kebetulan datang bersamaan. Pendeknya, nyaris [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>[Jatuh itu sakit. Apalagi jika terjun bebas dari ketinggian. Luar biasa pedih! Tapi, diam-diam seringkali muncul kenikmatan yang tanpa kita sadari justru membuat kita enggan berdiri lagi.]<br />
</em></strong></p>
<p>Teman kami sedang amat sangat <em>down</em>. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kariernya hancur berantakan, nama baiknya tercemar, plus persoalan pribadi yang kebetulan datang bersamaan. Pendeknya, nyaris tak ada cahaya dalam kesehariannya. Detik demi detik dilalui dengan gugat parau pada keadilan sang empunya hidup. Situasi buruk yang membawa petaka dalam hari-harinya.</p>
<p>Sebagai kawan-kawan sejati, kami semua berusaha ikut bersimpati - dan sebisanya membantu. Yang paling mudah tentulah dengan kalimat-kalimat penghiburan&#8230; &#8220;Ayo, jangan menyerah! Buktikan bahwa kamu memang orang hebat. Jadikan pengalaman buruk ini sebagai pelajaran dan cambuk untuk bangkit&#8221;. Dan serendeng kalimat-kalimat penyemangat lain yang tak bosan kami lantunkan.</p>
<p>Sebisa mungkin kami juga mengajaknya untuk ikut serta dalam setiap proyek yang kami dapatkan. Sekadar mau mengatakan bahwa masih ada orang yang mempercayainya dan selalu ada yang bisa dikerjakannya. Sudah tak terhitung berapa kali kami mengangsurkan bantuan untuk meringankan beban ekonominya. Pun, tak terhitung berpuluh-puluh kali kesempatan diluangkan untuk mendengarkan keluh-kesahnya.</p>
<p>Hari berganti hari, bulan bergulung bulan, tak jua terlihat kemajuan dari karib kami - yang sebenarnya sarat potensi itu. Masih saja jadi pengangguran, tetap saja mengulang cerita ketidakadilan yang menderanya, selalu saja punya alasan menolak setiap peluang kecil untuk kembali bangkit. Adakah dia terlena dalam keterpurukannya? Merasakan banyak kemudahan dari teman-teman dan lingkungannya dengan setumpuk simpati dan uluran tangan yang senantiasa diterimanya?</p>
<p>Pemaafan - apapun bentuknya dan siapapun pelakunya - sepertinya cenderung membuat kita terbuai. Tidak ada yang menyangkal bakat besar Alvaro Recoba sebagai pemain brilian. Bakat El Chino, julukan Recoba, ditemukan oleh Sandro Mazzola, legenda Inter Milan pada era &#8216;60an, ketika menyaksikan Nacional of Montevideo, Uruguay bermain. Saat itu, pada 1996, remaja Recoba di usianya yang baru menginjak 20 tahun telah sanggup mencetak 30 gol dalam 27 pertandingan dengan bekal skill di atas rata-rata dan gol-gol yang terbilang spektakuler. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/04/mencintai-pedih/#more-85" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=85&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_85" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/04/mencintai-pedih/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyapu debu abadi</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/02/menyapu-debu-abadi/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/02/menyapu-debu-abadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 15:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menjadi Bijak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/02/menyapu-debu-abadi/</guid>
		<description><![CDATA[[Kita semua pasti paham bahwa &#8220;memang tidak ada yang sempurna&#8221; - meski berbeda-beda menyikapinya. Ada yang bersedia menerima cacat itu, namun banyak yang memilih mencampakkannya&#8230;]
Sepintas, menyapu adalah sebuah kegiatan yang sangat sepele. Membuat gerakan yang sama berulang-ulang untuk sekadar membersihkan sesuatu - bisa lantai, rumah, pekarangan, atau perabotan - dari debu atau kotoran. Pekerjaan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Kita semua pasti paham bahwa &#8220;memang tidak ada yang sempurna&#8221; - meski berbeda-beda menyikapinya. Ada yang bersedia menerima cacat itu, namun banyak yang memilih mencampakkannya&#8230;]</strong></em></p>
<p>Sepintas, menyapu adalah sebuah kegiatan yang sangat sepele. Membuat gerakan yang sama berulang-ulang untuk sekadar membersihkan sesuatu - bisa lantai, rumah, pekarangan, atau perabotan - dari debu atau kotoran. Pekerjaan yang boleh jadi telah lama kita tinggalkan karena kesibukan atau sudah ada orang lain yang mengerjakan.</p>
<p>Namun, apa jadinya jika kegiatan sepele itu jarang atau malah tak pernah dilakukan dalam kurun waktu tertentu? Nyamankah kita tinggal di rumah yang penuh debu, dengan pekarangan yang sarat sampah, dan lantai yang kesat? Pastilah sangat tidak mengenakkan. Itu sebabnya banyak di antara kita yang kelimpungan saat terpaksa memberi ijin mudik kepada <em>our house keeping staff</em> sesaat menjelang Lebaran.</p>
<p>Jika bicara soal debu, tak susah mencari jalan keluarnya. Tentu harus disapu atau dibersihkan sesering mungkin untuk membuat rumah kita menjadi seperti istana yang membuat betah. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan jika debu yang mengganggu hidup kita berbentuk sikap, perilaku, atau sosok seseorang dalam keseharian kita? Seseorang yang mudah membuat kita jengkel, kesal, dan marah?</p>
<p>Haruskah kita setia &#8220;menyapu&#8221; ketidaksempurnaan orang lain yang akan selalu muncul seperti debu - sembari berharap kelak dia akan insyaf, atau &#8220;membiarkannya menjadi onggokan debu&#8221; dengan membiarkan atau malah mencampakkannya? Hmmm&#8230; tidak mudah menjawabnya ya&#8230;</p>
<p>Hari-hari ini Adrian Mutu tengah sibuk menyusun memori banding atas denda senilai 17,17 juta euro yang dijatuhkan FIFA atas pemutusan kontrak yang dilakukan Chelsea terhadap sang pemain akibat terbukti memakai kokain dan gagal lolos tes doping.The Blues seperti berniat mencampakkan Mutu menjadi seonggok debu dan memastikan dia dihukum seberat-beratnya atas cacat dan perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukannya di masa lalu.</p>
<p><em>No mercy!</em> <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/02/menyapu-debu-abadi/#more-84" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=84&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_84" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/09/02/menyapu-debu-abadi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membuka tanpa alasan</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/27/membuka-tanpa-alasan/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/27/membuka-tanpa-alasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 10:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/27/membuka-tanpa-alasan/</guid>
		<description><![CDATA[[Pintu itu ada di sana&#8230; Tanpa sengaja tertutup rapat dan terkunci saat kita pergi melaluinya&#8230; Kini kita hanya bisa berharap sang pemilik rumah mau berbesar hati membukakannya untuk kita&#8230; Melulu sebuah anugerah jika akhirnya sang daun pintu berderit pelan menunjukkan jalan pulang&#8230;]
“There has been no harsher critic of Barack Obama’s lack of experience than  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Pintu itu ada di sana&#8230; Tanpa sengaja tertutup rapat dan terkunci saat kita pergi melaluinya&#8230; Kini kita hanya bisa berharap sang pemilik rumah mau berbesar hati membukakannya untuk kita&#8230; Melulu sebuah anugerah jika akhirnya sang daun pintu berderit pelan menunjukkan jalan pulang&#8230;]</strong></em></p>
<p><em>“There has been no harsher critic of Barack Obama’s lack of experience than  Joe Biden. Biden has denounced Barack Obama’s poor foreign policy judgment and  has strongly argued in his own words what Americans are quickly realizing — that  Barack Obama is not ready to be President,” said Ben Porritt, a spokesman for  Mr. McCain.</em></p>
<p>Kepastian penunjukan Senator Joe Biden sebagai pendamping Barack Obama maju dalam Pemilihan Presiden AS mewakili Partai Demokrat segera disambut &#8220;<em>black campaign</em>&#8221; yang dilancarkan oleh kubu John McCain - rival utama mereka dari Partai Republik. Bahan utamanya tak lain adalah ucapan Joe Biden di masa lalu yang terang-terangan mengeksploitasi kekurangan Obama.</p>
<p>Tahun 2007, saat Joe Biden maju untuk memperebutkan satu kursi calon presiden dari Partai Demokrat, politisi senior ini menyebut Obama belum siap menjadi pemimpin Negeri Paman Sam. Dia menyebutkan fakta bahwa rivalnya tak punya pengalaman dalam politik luar negeri dan minim jam terbang sebagai politisi. Serangan langsung terhadap popularitas Obama yang saat itu mulai menanjak.</p>
<p>Orang tak mudah lupa dengan kritik pedas Joe Biden itu. Kini, setelah Joe Biden mengaku kalah dari pencalonan Partai Demokrat, pernyataan sinisnya justru menjadi amunisi utama Partai Republik untuk mengadu domba pendukung Partai Demokrat. Bagaimana mungkin seseorang yang dulu sangat keras dan pedas mengkritik kini berubah sikap menjadi pendukung utama orang yang dulu dikritiknya?</p>
<p>Terlepas dari pertimbangan rasional bahwa pemilihan Joe Biden dilakukan untuk menutupi kelemahan Obama dalam merumuskan kebijakan luar negeri dan kiprahnya di pentas politik yang masih seumur jagung, Obama menunjukkan sikap besar hati dengan memilih orang yang pernah mengkritiknya dengan sangat keras. Sepintas peristiwa itu menunjukkan betapa Obama tidak menyimpan dendam atas kesalahan orang lain. Bahkan orang yang menjatuhkannya pun tak kehilangan kesempatan menjadi pendampingnya menuju singgasana kejayaan.</p>
<p>Tak banyak orang yang seberuntung Joe Biden. Pun tak banyak manusia yang berjiwa pemaaf seperti Obama. Beruntunglah Andriy Shevchenko yang mengalami pengalaman serupa. Kesalahannya di masa lalu dengan meninggalkan AC Milan tak membuat manajemen klub elite Italia itu serta merta mencoret nama Sheva. Ketika ada kesempatan untuk kembali, Silvio Berlusconi dengan tangan terbuka menerima kembali Sheva yang dianggapnya sebagai &#8220;anak yang hilang&#8221;. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/27/membuka-tanpa-alasan/#more-83" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=83&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_83" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/27/membuka-tanpa-alasan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran boleh, kawin jangan</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/14/pacaran-boleh-kawin-jangan/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/14/pacaran-boleh-kawin-jangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 17:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jatuh Bangun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/14/pacaran-boleh-kawin-jangan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sadar nggak sih ama yang lu lakuin selama ini?&#8221; sentak seorang karib kepada sohibnya suatu kali. &#8220;Apa lu nggak nyadar berapa orang yang lu sakiti dengan kelakuan minus lu itu? Apa nggak cukup semua daftar korban yang kalau dideretin bisa lebih dari selembar kwarto?&#8221;
Aha&#8230; ternyata obrolan dua lelaki itu tak jauh dari soal wanita. Sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Sadar nggak sih ama yang lu lakuin selama ini?&#8221; sentak seorang karib kepada sohibnya suatu kali. &#8220;Apa lu nggak nyadar berapa orang yang lu sakiti dengan kelakuan minus lu itu? Apa nggak cukup semua daftar korban yang kalau dideretin bisa lebih dari selembar kwarto?&#8221;</p>
<p>Aha&#8230; ternyata obrolan dua lelaki itu tak jauh dari soal wanita. Sang karib memprotes kebiasaan buruk sohibnya yang suka gonta-ganti pacar - mencoba berempati para mantan yang diasumsikan pastilah sakit hati. Setahu saya, dia bukan <em>playboy</em>. Tapi, kalau ukurannya lama pacaran, kawan kami ini terbilang penyuka <em>short relation</em>. Maksudnya, baru sebentar lantas segera putus. Nyambung lagi, putus lagi. Begitu seterusnya.</p>
<p>Mau tahu jawabannya? Begini&#8230; &#8220;Gue memang bukan malaikat,&#8221; katanya sambil mengisap rokok dalam-dalam. &#8220;Tapi, gue pengen banget hanya menikah sekali. Gue tahu gue nggak gampang dipuaskan. Maka, gue jadikan masa pacaran untuk benar-benar mengenal calon gue. Kalau nggak cocok ya lebih baik putus. Gue merasa lebih baik gonta-ganti pacar sekarang daripada selingkuh kalau sudah merit nanti.&#8221;</p>
<p>Alasan yang masuk akal. Baginya, sebuah perkawinan ibarat medan laga yang sesungguhnya. Pacaran adalah masa berlatih sebelum benra-benar bertempur. Lebih baik berdarah-darah saat latihan, tapi menang gilang-gemilang ketika maju ke medan laga yang sesungguhnya. Tapi, sayang, tak banyak kita yang bisa menerima pendarahan saat berlatih. Kebanyakan kita merasa harus selalu menang di setiap saat.</p>
<p>Lihatlah AS Roma yang mendapat hujan kritik dalam masa pra-musim kali ini. Kalah dari Steau Bucharest, imbang dengan AS Monaco, dan hanya menang tipis atas Al-Ahly, Mesir dianggap bukan cara bersiap yang ideal. Apalagi ketika gawang Roma kebobolan 5 gol saat beruji coba melawan Tottenham Hotspur. Apapun alasannya, tak bisa Luciano Spalletti menutup telinga dari raungan alarm yang dibunyikan suporter dan pers Italia. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/14/pacaran-boleh-kawin-jangan/#more-82" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=82&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_82" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/08/14/pacaran-boleh-kawin-jangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Hei, lihat, kami terjepit di sini&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/28/hei-lihat-kami-terjepit-di-sini/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/28/hei-lihat-kami-terjepit-di-sini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 12:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menjadi Bijak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/28/hei-lihat-kami-terjepit-di-sini/</guid>
		<description><![CDATA[[Kita semua berhak menikmati jerih payah mendaki ke puncak. Tapi, tak ada salahnya menimbang mereka yang di bawah.]
Pernikahan adalah momen spesial yang diharapkan hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Wajar jika nyaris semua kita menginginkan upacara suci itu berjalan hikmat, sakral, sekaligus penuh kesan. Ketika peradaban menawarkan kemungkinan untuk makin customized, berlomba-lombalah kita merancang pesta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Kita semua berhak menikmati jerih payah mendaki ke puncak. Tapi, tak ada salahnya menimbang mereka yang di bawah.]</strong></em></p>
<p>Pernikahan adalah momen spesial yang diharapkan hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Wajar jika nyaris semua kita menginginkan upacara suci itu berjalan hikmat, sakral, sekaligus penuh kesan. Ketika peradaban menawarkan kemungkinan untuk makin <em>customized</em>, berlomba-lombalah kita merancang pesta bakal abadi melekat dalam benak. Makin unik sebuah gelaran, makin besar kesan yang ditinggalkannya.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan keinginan pasangan Adinda Bakrie dan Seng Hoo Ong menggelar rangkaian upacara dan pesta yang semeriah mungkin untuk meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan suci. Segala hal yang berhubungan dengan acara itu - mulai dari undangan, cindera mata, akad nikah, respesi, dan <em>private party</em> - dirancang sesuai dengan kelas mereka sebagai salah satu anggota komunitas sosialita (kalangan papan atas) negeri ini.  Bahkan, gosipnya, sampai mendatangkan nama-nama tenar dari manca negara demi memastikan  sebuah acara yang super prima.</p>
<p>Menurut berita yang beredar di sejumlah media, total dana yang dikeluarkan mencapai puluhan miliar rupiah - meski kemudian mendapat bantahan keras dari pihak keluarga. Sejumlah media meng-<em>claim </em>bahwa inilah pesta pernikahan termahal di negeri ini. Kalaupun benar, tak ada yang salah dengan biaya semahal itu dan pesta semeriah itu serta undangan seekslusif itu. Toh keluarga Bakrie memang dikenal sebagai penguasa sukses yang cukup memiliki uang untuk membiaya semua itu untuk menjadi nyata.</p>
<p>Masalahnya, ada sementara kalangan yang dengan sinis menyebut pernikahan itu seolah-olah seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain. Tak lain karena adanya fakta bahwa persoalan bencana di Desa Porong, Sidoardjo yang terkait erat dengan keberadaan PT Lapindo Brantas melakukan eksplorasi di daerah itu belumlah tuntas dan masih menjadi kontroversi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.</p>
<p>Berpikir naif dan bodoh, akan lebih baik rasanya jika dana miliaran rupiah itu digelontorkan untuk membantu kesulitan yang terus menimpa warga desa Porong dan sekitarnya. Sebuah tuntutan sosial yang masuk akal - meski tidakada dasar hukumnya mengingat pengadilan telah memvonis PT Lapindo Brantas tidak terbukti bersalah atas terjadinya bencana alam yang amat sangat dahsyat dampaknya tersebut.</p>
<p>Sebagai anggota kerabat Bakrie, Adinda - yang sebenarnya punya kualitas sangat baik sebagai seorang pribadi yang digambarkan taat beragama, punya pergaulan luas, dan menamatkan pendidikan dengan predikat <em>magna cumlaude</em> di negeri Paman Sam - terimbas sentimen negatif di masyarakat. Mau tak mau, pesta sekali seumur hidupnya itu terusik oleh sinisme yang merebak di sejumlah kanal media tanpa bisa dibendung. Padahal, praktis dia tak punya sangkut-paut langsung dengan bencana di Porong.</p>
<p>Suka atau tidak, kadang publik menuntut pertanggungjawaban sosial mereka yang dianggap lebih mampu, lebih mapan, lebih <em>powerfull</em>. Dalam konteks inilah maka belakangan di Italia menyeruak sinisme kepada klub-klub elite Serie-A yang dianggap tidak peduli pada saudara-saudaranya di Serie-B dan Serie-C. Kesuksesan yang mereka sandang sebagai sederet klub terkaya di dunia ternyata tak sanggup menolong kebangkrutan sejumlah klub kecil di negeri spaghetti itu. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/28/hei-lihat-kami-terjepit-di-sini/#more-81" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=81&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_81" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/28/hei-lihat-kami-terjepit-di-sini/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>R U really care?</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/22/r-u-really-care/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/22/r-u-really-care/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 15:46:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menjadi Bijak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/22/r-u-really-care/</guid>
		<description><![CDATA[[Kita kadang merasa lebih tahu apa yang terbaik bagi orang lain. Tapi, seringkali tanpa sadar itu melulu cerminan yang terbaik bagi kita.]
Kasihan sekali keponakan saya. Hari-hari ini gadis tanggung yang seharusnya sedang penuh canda tawa menjalani hari-harinya sontak memamerkan tampang bermuram durja. Berbeda dengan remaja tanggung seusianya, Christina kerap tertangkap sedang menerawang kosong dan terdiam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Kita kadang merasa lebih tahu apa yang terbaik bagi orang lain. Tapi, seringkali tanpa sadar itu melulu cerminan yang terbaik bagi kita.]</strong></em></p>
<p>Kasihan sekali keponakan saya. Hari-hari ini gadis tanggung yang seharusnya sedang penuh canda tawa menjalani hari-harinya sontak memamerkan tampang bermuram durja. Berbeda dengan remaja tanggung seusianya, Christina kerap tertangkap sedang menerawang kosong dan terdiam di saat seluruh kerabat berkumpul.</p>
<p>Gerangan apa yang membuatnya berduka? &#8220;Aku nggak boleh nerusin sekolah di sini Om,&#8221; ceritanya beberapa hari lalu. &#8220;Bapak marah besar waktu tahu aku hanya bisa masuk jurusan Sosial. Bapak dan ibu mengharuskan aku masuk jurusan Ilmu Pasti biar nanti nggak sulit memilih jurusan di Universitas.&#8221;</p>
<p>Diam-diam saya tersenyum kecut di dalam hati. Persis pengalaman saya yang sempat didiamkan sejak kelas 2 SMA sampai kira-kira saat menjelang wisuda karena gagal memenuhi keinginan orangtua saya masuk jurusan Ilmu Pasti. Bukan pengalaman mengenakkan dan butuh pembuktian lama untuk meyakinkan dan membuktikan bahwa Ilmu Pasti bukan jaminan sukses seseorang. Sebaliknya, jurusan Sosial pun - juga Bahasa dan Humaniora - bisa menjadi jalan emas.</p>
<p>&#8220;Bapak tetep ngotot aku harus masuk IPA,&#8221; lanjut gadis jangkung berkulit agak legam itu. &#8220;Karena sekolah nggak mau memberi dispensasi, akhirnya bapak nyari sekolah di daerah lain yang mau menerimaku di jurusan IPA. Aku sedih harus pindah dari kota ini, padahal baru setahun aku punya teman-teman baru dan lingkungan baru.&#8221;</p>
<p>Minggu lalu dia terpaksa terbang belasan jam lamanya hanya untuk memastikan bisa masuk jurusan IPA. Kembali ke kota asalnya nun jauh di ujung Nusantara untuk memenuhi keinginan bapak-ibunya.  Memastikan tuntutan agar kelak bisa meneruskan profesi sebagai dokter yang sukses bisa mulai dirintis sedini mungkin.</p>
<p>Entah berapa kali kita merasa paling tahu apa yang harus dipilih oleh orang lain&#8230; Bagi Sir ALex Ferguson, tempat terbaik baik Cristiano Ronaldo adalah klub asuhannya sendiri, Manchester United. Dia menegaskan bahwa pemain yang belakangan menyiratkan hasrat untuk segera pindah ke klub lain itu harus tetap tinggal di Old Trafford jika ingin mengembangkan talentanya ke titik maksimal. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/22/r-u-really-care/#more-79" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=79&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_79" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/22/r-u-really-care/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dua cara menyesal</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/17/dua-cara-menyesal/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/17/dua-cara-menyesal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 17:57:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rimba Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/17/dua-cara-menyesal/</guid>
		<description><![CDATA[[Silakan pilih: menyesal karena belum berbuat atau karena sudah melakukan? Putuskan apakah lebih suka menengok ke belakang dan mengevaluasi atau melongok ke depan dan terus bermimpi.]
Memiliki rumah idaman untuk warga Jakarta bukan perkara mudah. Bahkan untuk para profesional muda yang biasanya bergaji relatif pas dengan kebutuhannya. Menyisihkan sedikit uang dari pendapatan guna mencicil sebuah rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Silakan pilih: menyesal karena belum berbuat atau karena sudah melakukan? Putuskan apakah lebih suka menengok ke belakang dan mengevaluasi atau melongok ke depan dan terus bermimpi.]</strong></em></p>
<p>Memiliki rumah idaman untuk warga Jakarta bukan perkara mudah. Bahkan untuk para profesional muda yang biasanya bergaji relatif pas dengan kebutuhannya. Menyisihkan sedikit uang dari pendapatan guna mencicil sebuah rumah kerap dipandang sebagai pilihan yang terlalu dini bagi eksekutif muda yang baru saja merintis karier.</p>
<p>Kadang penundaan itu menyisakan penyesalan di belakang hari. &#8220;Gile bener! Harga rumah sekarang mahalnya selangit. Gaji gue memang makin besar, tapi kenaikan harga rumah berkali-kali lipat di atasnya,&#8221; keluh seorang kawan yang bekerja di sebuah perusahaan ternama. &#8220;Gue nyesel kenapa nggak dari dulu nyicil rumah. Kalau dari dulu nyicil, mungkin sekarang gue udah punya rumah meski belum lunas.&#8221;</p>
<p>Tapi, jangan dikira mereka yang sadar menyicil rumah sejak awal memiliki gaji bulanan tak menyesal juga. &#8220;Lu enak masih bisa dugem kapanpun lu mau karena nggak perlu nyicil rumah. Kalau dipikir-pikir, gue juga nyesel pake sok-sokan nyicil rumah dengan gaji pas-pasan. Duit bujang gue menguap tak berbekas. Hidup harus super hemat supaya bisa <em>survive</em>. Seharusnya gue milih tipe yang lebih kecil biar hasrat dugem gue tetep bisa tersalur,&#8221; timpal kawan lain menceritakan pengalamannya bertahun-tahun lalu.</p>
<p>Dua kawan kami itu sama-sama menyesal. Bedanya, yang satu menyesal karena tak mencicil rumah dan sampai detik ini masih terus saja menyesali kenapa tak kunjung berani mengambil cicilan. Sementara kawan yang lain menggugat keputusannya sendiri karena merasa kenikmatannya tergerus sampai batas minimal, meski kini bisa menepuk dada karena sudah bisa mendiami rumah mungilnya bersama istri dan anak-anaknya.</p>
<p>Benar kata orang bijak, sesal selalu datang belakangan. Entah itu terhadap sesuatu yang sudah kita lakukan atau justru karena kita belum melakukannya. Kalau boleh memutar kembali waktu yang telah berjalan, Christian Vieri pasti tak akan mau mengulangi pilihannya pindah dari Inter Milan ke AC Milan dan kemudian hijrah lagi ke AS Monaco. Keputusan yang belakangan diakuinya sangat disesali.</p>
<p> <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/17/dua-cara-menyesal/#more-77" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=77&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_77" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/17/dua-cara-menyesal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Time to choose</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/16/time-to-choose/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/16/time-to-choose/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 11:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rimba Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/16/time-to-choose/</guid>
		<description><![CDATA[[Hidup adalah permainan pikiran. Berbahagialah mereka yang selalu bisa menemukan alasan untuk memilih, meski berkawan dengan sesal. Daripada mereka yang mencintai bimbang ragu dan diam-diam mencintai keterhentian langkah.]
Ini khas penulis&#8230; yang berpretensi menghasilkan master piece&#8230; dengan berlama-lama termenung dalam benaknya sendiri&#8230; dan tak kunjung mau merangkai kata pun kalimat. Mungkin hampir semua penulis pernah merasakannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Hidup adalah permainan pikiran. Berbahagialah mereka yang selalu bisa menemukan alasan untuk memilih, meski berkawan dengan sesal. Daripada mereka yang mencintai bimbang ragu dan diam-diam mencintai keterhentian langkah.]</strong></em></p>
<p>Ini khas penulis&#8230; yang berpretensi menghasilkan <em>master piece</em>&#8230; dengan berlama-lama termenung dalam benaknya sendiri&#8230; dan tak kunjung mau merangkai kata pun kalimat. Mungkin hampir semua penulis pernah merasakannya. Kebuntuan melahirkan karya karena tak juga berani menuangkan ide-idenya di atas kertas atau layar komputer.</p>
<p>Berminggu-minggu lamanya saya kehilangan <em>mood</em> untuk mengisi blog ini. Hari demi hari terlewati begitu saja tanpa ada segurat gores pun di dalamnya. Macam-macam alasannya. Sedang kehabisan ide lah, sedang malas menulis lah, sedang sibuk lah, dan sedang sedang lainnya. Padahal, kalau mau, lebih mudah di depan komputer menuliskan apa pun -  menghapus dan mengeditnya jika dirasa kurang pas, daripada sekadar berandai-andai merangkai ide di kepala tapi tak juga berani membuka <em>a new file</em>.</p>
<p>Hidup seringkali identik dengan permainan pikiran kita sendiri. Jika kita menemukan alasan, niscaya tak ada satu pun yang bisa menghambatnya - meski dengan risiko gagal, salah, mengundang sesal. Tapi, jika sang diri lebih asyik merangkai angan dalam segala ragu, pastilah tak akan berani kita memilih atau memutuskan sesuatu.</p>
<p>Jalan ke depan terantuk batu atau aman di tempat tapi tak melakukan apa-apa. Begitulah hidup memberi kita pilihan yang jelas. Dalam kemudaannya, Chase Hilgenbrinck tak ragu menetapkan pilihan untuk mengubah total jalan hidupnya. Pemuda berumur 26 tahun itu berani pensiun dini sebagai pemain sepak bola profesional. Dia tanggalkan statusnya sebagai bek muda potensial yang tengah menjalani kontrak dengan sebuah klub di Major League Soccer (MLS), New England Revolution. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/16/time-to-choose/#more-76" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=76&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_76" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/16/time-to-choose/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Luka karena percaya</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/01/luka-karena-percaya/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/01/luka-karena-percaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 17:23:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menjadi Bijak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/01/luka-karena-percaya/</guid>
		<description><![CDATA[[Jika kau melepaskan segala, tiada luka yang kan terbuka. Jika kau mempercayai sesuatu, tiada mudah pedih disanggah.]
B******N!!!
Wajahnya mengeras, kedua rahang mengatup, menatap penuh murka yang tak terbayangkan. Nafasnya sesak, menahan luapan amarah di dada yang berdegup tak karuan. Tiba-tiba tangannya mengepal, mengayun, dan melontarkan gelora sang pesakitan, &#8220;B*******N!!!&#8221;
Umpatan yang mewakili segala rasanya.
Dengan nafas tersengal, sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Jika kau melepaskan segala, tiada luka yang kan terbuka. Jika kau mempercayai sesuatu, tiada mudah pedih disanggah.]</strong></em></p>
<p>B******N!!!</p>
<p>Wajahnya mengeras, kedua rahang mengatup, menatap penuh murka yang tak terbayangkan. Nafasnya sesak, menahan luapan amarah di dada yang berdegup tak karuan. Tiba-tiba tangannya mengepal, mengayun, dan melontarkan gelora sang pesakitan, &#8220;B*******N!!!&#8221;</p>
<p>Umpatan yang mewakili segala rasanya.</p>
<p>Dengan nafas tersengal, sang kalah mengumpat habis-habisan. Entah kepada siapa&#8230; Entah untuk apa&#8230; Selain karena dorongan pedih yang tak tertanggungkan&#8230; &#8220;Kalian memang jahanam yang tak tahu malu. Sekian lama kulakukan semua untuk kebaikan kalian, kini dengan semena-mena kalian campakkan begitu saja. Inikah balasan untuk semua keringat yang telah kukucurkan? Inikah bayaran untuk semua derita yang kutanggung? Kalian memang B*******N! Terkutuklah kalian di neraka!&#8221;</p>
<p>Kami tahu dunia sang kalah sedang runtuh. Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia memperjuangkan semuanya dari titik terendah hingga sejauh ini. Sekian banyak kerja dilakukannya sepenuh hati dengan sekian risiko yang mau ditanggungnya. Kini, tiba-tiba saja semua itu dianggap tak ada. Sang kalah dianggap tak cukup baik untuk meneruskan upayanya. &#8220;Maaf, ada orang lain yang lebih layak,&#8221; begitu sang menang menjawabnya enteng.</p>
<p>Sesuatu yang dipegang sekian lama, dipercayai, diperjuangkan dengan segala cara memang berisiko menghadirkan luka pedih nan perih yang tak terperikan rasanya. &#8220;<em>Spain was simply better</em>&#8220;, begitu tulis koran <em>Bild </em>menanggapi kekalahan Jerman dari Spanyol di final Piala Eropa 2008. Judul yang memang sangat mewakili 90 menit jalannya pertandingan ketika kecepatan Fernando Torres mampu mengalahkan kelambanan Phillip Lahm dan Jens Lehmann. Ketika sekian banyak peluang El Matador terbuang percuma di saat Der Panzer seperti kehilangan daya untuk menandingi. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/01/luka-karena-percaya/#more-74" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=74&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_74" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/07/01/luka-karena-percaya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Secarik kontrak, selarik onak</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/secarik-kontrak-selarik-onak/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/secarik-kontrak-selarik-onak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 15:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menjadi Bijak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/secarik-kontrak-selarik-onak/</guid>
		<description><![CDATA[[Jika Tuhan saja selalu ikhlas memberi maaf, kenapa manusia tidak? Faktanya, ada banyak maaf yang tak bisa diterima dengan sempurna. Karena kita manusia, bukan Tuhan, yang masih terbujuk ihwal duniawi.]
Suatu malam, dalam dekap hening, bertuturlah sang hati kepada sang pencipta. &#8220;Tuhan, saya menyesal atas segala dosa yang telah saya perbuat. Saya kotor dan hina, tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Jika Tuhan saja selalu ikhlas memberi maaf, kenapa manusia tidak? Faktanya, ada banyak maaf yang tak bisa diterima dengan sempurna. Karena kita manusia, bukan Tuhan, yang masih terbujuk ihwal duniawi.]</strong></em></p>
<p>Suatu malam, dalam dekap hening, bertuturlah sang hati kepada sang pencipta. &#8220;Tuhan, saya menyesal atas segala dosa yang telah saya perbuat. Saya kotor dan hina, tidak layak menghadapMu. Saya mohon ampun dan meminta segala maaf dariMu. Aku berjanji tidak akan berbuat dosa lagi kalau Kau mau mengabulkan permintaanku ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Lantas mengalirlah sebait pinta seorang manusia kepada Sang Ilahi. Doa yang lagi-lagi meminta kebaikan Tuhan demi kepentingan dirinya sendiri. Hamparan damba yang dibalut sederet janji sebagai balasan padaNya. Reaksi spontan seorang manusia yang sesungguhnya tanpa sadar telah mengikat kontrak yang pantang diingkari&#8230;</p>
<p>Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Adakah sang pendamba setia melaksanakan janjinya - meski Yang Kuasa telah menurunkan anugerah besar dengan mengabulkan segala permintaannya? Tidak. Banyak kita tetap saja bergelimang dosa meski entah berapa banyak doa kita yang dikabulkan. Seakan-akan menjadikan janji tobat sekadar pelengkap di ruang doa dan beban berat dalam dunia nyata.</p>
<p>Beruntunglah kita yang tak pernah digugat meski berkali-kali melanggar kontrak kehidupan kita sendiri. Sekian banyak kita meminta maaf, sekian banyak pula kita dimaafkan - dengan segala bonus dalam kehidupan kita yang tak pernah kita hitung sebagai hutang pada sang pemilik kehidupan.</p>
<p>Tapi, mari berkaca, seberapa sering kita - manusia - menjadikan ikatan kontrak sebagai dasar menjalani kehidupan?Â  &#8220;Jika kami (Italia) gagal menembus babak semifinal (Euro 2008) dan tidak ada kesepakatan di antara kedua belah pihak untuk memperpanjang kontrak, maka perjanjian yang telah ditandatangani bisa dibatalkan. Jadi, tidak ada pemecatan (terhadap Roberto Donadoni,&#8221; kata Presiden FIGC, Giancarlo Abete, mencoba menjernihkan isu yang mengatakan pelatih tim nasional Italia akan segera dipecat.  <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/secarik-kontrak-selarik-onak/#more-73" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=73&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_73" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/secarik-kontrak-selarik-onak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Magis ketiadaan</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/magis-ketiadaan/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/magis-ketiadaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 17:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rimba Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/magis-ketiadaan/</guid>
		<description><![CDATA[[Jangan pernah menyesali keterbatasan. Arungilah segala arus yang mengempaskan kita ke tubir jurang. Dan, saat kelokan terakhir terlampaui, kepalkanlah tanganmu! Berteriaklah sekeras-kerasnya! Yes, it&#8217;s done!!!]
Bak disambar petir di siang bolong, Dra. Irna Minauli, M.Psi hanya bisa meratap saat diberitahu dokter bahwa buah hatinya mengidap penyakit autis. Iqbal Rahyan, yang kini telah berumur 18 tahun, saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Jangan pernah menyesali keterbatasan. Arungilah segala arus yang mengempaskan kita ke tubir jurang. Dan, saat kelokan terakhir terlampaui, kepalkanlah tanganmu! Berteriaklah sekeras-kerasnya! </strong></em><strong>Yes, it&#8217;s done!</strong><strong>!!</strong><em><strong>]</strong></em></p>
<p>Bak disambar petir di siang bolong, Dra. Irna Minauli, M.Psi hanya bisa meratap saat diberitahu dokter bahwa buah hatinya mengidap penyakit autis. Iqbal Rahyan, yang kini telah berumur 18 tahun, saat itu belum juga bisa berbicara layaknya teman-teman sebaya dan selalu terlihat ketakutan jika bertemu orang. Ternyata, Iqbal menderita autis yang membuat perkembangannya tidak normal dan menjadi berbeda dengan anak-anak lain.</p>
<p>&#8220;Saya menutup diri dan depresi selama setahun,&#8221; cerita Irna kepada Tabloid Nova mengenang masa-masa sulitnya. &#8220;Saya berhenti ikut pengajian dan arisan. Saya marah pada Tuhan.&#8221; Mengetahui orang yang sangat kita sayangi menderita dan diyakini bakal menanggung sekian banyak kesulitan dalam hidupnya tentu membuat kita semua menyalahkan keadaan dan Yang Kuasa. Reaksi yang sangat wajar.</p>
<p>Reaksi serupa juga muncul dari Herniwaty saat mengetahui anaknya, Natrio Catra Yososha atau Osha divonis dokter menderita autis karena ada kelainan otak. Dokter menyarankan untuk tidak memaksa Osha sekolah. Kalau hanya kuat sampai SMP ya jangan dipaksa terus ke SMA dan Perguruan Tinggi. Orangtua mana yang tega melihat anaknya tidak akan pernah bisa menjadi &#8220;orang&#8221; lewat bangku pendidikan?</p>
<p>&#8220;Saya terus menggugat kenapa semua ini bisa terjadi. Dokter kemudian bertanya, apakah saya mau tetap berjalan di tempat, sibuk mencari tahu penyebabnya - atau segera mencari jalan keluar? Akhirnya saya tersadar bahwa harus mencari tahu apa yang harus saya lakukan untuk Osha,&#8221; paparnya di tabloid yang sama.</p>
<p>Kini masa-masa suram itu telah lewat. Dengan segala perjuangan, kelelahan, dan air mata - Iqbal dan Osha tumbuh menjadi remaja normal. Iqbal tidak lagi perlu dibantu untuk melakukan aktivitas hariannya. Dia malah akan protes jika ada yang memperlakukannya sebagai orang cacat dan tak mampu. Osha malah membuat banyak orang tercengang karena kini telah lulus ujian saringan masuk Universitas Gadjah Mada - mencoba menggapai cita-citanya menjadi sejarahwan.</p>
<p>Fatih Terim tidak menderita autis. Anak-anak asuhannya semua juga terbilang pemain sepak bola pilihan dari negeri kecil bernama Turki - yang beberapa di antaranya bermain untuk klub-klub elite Eropa. Tapi, mantan pelatih AC Milan itu sadar sekali betapa tim yang dilatihnya bukanlah tim unggulan. &#8220;Saya ke sini hanya untuk mengingatkan orang supaya tidak lupa kepada Turki,&#8221; kata pelatih berjuluk The Emperor ini. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/magis-ketiadaan/#more-72" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=72&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_72" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/25/magis-ketiadaan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>When everything is right and wrong&#8230;</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/24/when-everything-is-right-and-wrong/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/24/when-everything-is-right-and-wrong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 17:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jatuh Bangun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/24/when-everything-is-right-and-wrong/</guid>
		<description><![CDATA[[Kala sukses, sekonyong-konyong semua menjadi benar. Sebaliknya, saat gagal, semua tiba-tiba menjadi salah. That&#8217;s life. Just accept it.]
&#8220;Apa-apaan ini!&#8221; murka bos besar kami. &#8220;Kayak anak kemaren sore aja! Sejak kapan kantor ini memproduksi barang rongsokan seperti ini? Kalau tidak niat kerja, bilang sekarang! Jangan banyak alasan! Kalau kita berani menjual barang sebobrok ini, bersiaplah cari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Kala sukses, sekonyong-konyong semua menjadi benar. Sebaliknya, saat gagal, semua tiba-tiba menjadi salah. </strong></em><strong>That&#8217;s life. Just accept it.</strong><em><strong>]</strong></em></p>
<p>&#8220;Apa-apaan ini!&#8221; murka bos besar kami. &#8220;Kayak anak kemaren sore aja! Sejak kapan kantor ini memproduksi barang rongsokan seperti ini? Kalau tidak niat kerja, bilang sekarang! Jangan banyak alasan! Kalau kita berani menjual barang sebobrok ini, bersiaplah cari pekerjaan dan kantor baru! Kita semua akan segera jadi pengangguran!!!&#8221;</p>
<p>Kami semua hanya bisa diam. Tertunduk. Mendengarkan saja pasrah segala semprotan yang diakhiri dengan nada tinggi dari orang yang paling berkuasa di kantor kami itu. Tak peduli dalam hati kami bersungut-sungut karena merasa sudah menjalankan semua dengan baik dan benar, faktanya barang yang keluar di pasar memang jauh di bawah standard. Sia-sia kami ngotot betapa kami sudah berusaha maksimal.</p>
<p>&#8220;Kita terima saja. Hasil kerja kita kali ini memang payah sekali. Tidak ada orang yang mau peduli dengan segala argumentasi dan pembelaan kita. Ada saatnya semua menjadi tidak benar, apalagi jika hasilnya memang mengecewakan. Mari kita balas dengan memproduksi yang lebih bagus. Percayalah, semua akan menjadi benar dengan sendirinya,&#8221; kata ketua regu kami mengembalikan semangat kami yang sudah berada di titik nadir.</p>
<p>Hari-hari ini sedikit sekali yang ingat pada penampilan spektakuler Belanda yang amat sangat perkasa di penyisihan Grup C Euro 2008. Berada di &#8220;The Group of Death&#8221; bersama Perancis, Italia, dan Rumania - anak asuh Marco van Basten ternyata sanggup melenggang mudah. Dengan total 9 gol yang dikemas ke gawang tiga lawan yang terbilang tak enteng itu - dan hanya kebobolan 1 gol - sontak meroketkan reputasi tim muda itu sebagai favorit juara yang diprediksi bakal sulit ditundukkan. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/24/when-everything-is-right-and-wrong/#more-71" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=71&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_71" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/24/when-everything-is-right-and-wrong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membeli bahagia</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/20/membeli-bahagia/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/20/membeli-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 12:54:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menjadi Bijak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/20/membeli-bahagia/</guid>
		<description><![CDATA[[Masihkah sebuah kemenangan menjadi berarti tanpa kelengkapan sebuah prosesi? Semua menjadi sia-sia jika ada yang terluka karenanya.]
Apa yang akan kita lakukan jika suatu hari berada dalam setting cerita berikut ini? Pada suatu hari, seorang laki-laki pulang dari bekerja larut malam. Hari itu  sangat melelahkan baginya. Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya yang  berusia 5 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Masihkah sebuah kemenangan menjadi berarti tanpa kelengkapan sebuah prosesi? Semua menjadi sia-sia jika ada yang terluka karenanya.]</strong></em></p>
<p>Apa yang akan kita lakukan jika suatu hari berada dalam <em>setting</em> cerita berikut ini? Pada suatu hari, seorang laki-laki pulang dari bekerja larut malam. Hari itu  sangat melelahkan baginya. Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya yang  berusia 5 tahun sudah menunggunya di depan pintu rumah.</p>
<p>Anak: &#8220;Ayah,  boleh aku bertanya?&#8221;<br />
Ayah: &#8220;Yeah, boleh, ada apa?&#8221; jawab sang ayah.<br />
Anak:  &#8220;Ayah, berapa gaji ayah dalam satu jam?&#8221;<br />
Ayah: &#8220;Bukan urusanmu. Ngapain  kamu nanya-nanya hal begitu?&#8221;<br />
Anak: &#8220;Aku  cuma pengen tahu ayah&#8230; tolonglah ayah, beritahu aku&#8230;&#8221;<br />
Ayah: &#8220;Baiklah, gaji ayah cuma Rp.30.000 sejam.. puas?&#8221; jawab si  ayah dengan ketus.<br />
Anak: &#8221; Oh&#8230; Boleh nggak aku minta  Rp.15.000?&#8221; tanya si anak dengan ragu-ragu..<br />
Ayah: &#8220;oh.. jadi kamu cuma mau minta uang untuk beli mainan2 nggak penting atau barang nggak  berguna lainnya? Sekarang kamu cepat masuk ke kamar dan  tidur! Ayah<br />
kerja keras tiap  hari untuk kamu dan mamamu, tapi kamu terus merengek.Â  Sana tudir&#8221; .</p>
<p>Dengan wajah sedih dan kepala menunduk, si anak segera masuk ke kamarnya tanpa berkata-kata. Pipinya mulai basah oleh tetsan air mata kesedihan. Sang ayah lalu duduk di kursi dan tanpa  sengaja kembali memikirkan permintaan anaknya di tengah malam itu. Dia sangat kesal dan tak habis pikir kok  tega-teganya anak kesayangannya itu minta di saat ia baru saja  pulang dan capek setelah bekerja keras seharian. Perlahan suara batinnya mulai menyenandungkan nada penyesalan. Tak seharusnya dia melampiaskan kesal pada anaknya. Dia tahu telah menghancurkan hati anaknya itu&#8230;</p>
<p>Sukses atau pencapaian tertentu kadang memang memakan banyak sekali korban. Seperti kisah ayah di atas, Fatih Terim juga tak habis pikir kenapa prestasi besar Turki lolos ke perempat final Euro 2008 harus memakan korban. Usai menang 3-2 atas Rep. Ceko yang lebih diunggulkan di partai terakhir penyisihan Grup A, euforia kemenangan ternyata ada yang berujung pada petaka. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/20/membeli-bahagia/#more-66" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=66&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_66" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/20/membeli-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Awas kesandung&#8230;</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/19/awas-kesandung/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/19/awas-kesandung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 21:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jatuh Bangun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/19/awas-kesandung/</guid>
		<description><![CDATA[[Hidup memang sebaiknya selalu melihat ke depan. Tapi, awas, tanpa pijakan yang kokoh pada kekinian, tiada pernah kita bakal sampai ke tujuan.]
&#8220;Aku harus bisa!&#8221;
Dengarkan baik-baik, seberapa kerap kita menyerukan kalimat penyemangat itu untuk diri kita sendiri? Acap kali - entah sekadar dalam gumaman atau disertai pekikan dari hati. Sebagai penanda tekad yang berkobar-kobar. Stumulus yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>[Hidup memang sebaiknya selalu melihat ke depan. Tapi, awas, tanpa pijakan yang kokoh pada kekinian, tiada pernah kita bakal sampai ke tujuan.]</em></strong></p>
<p>&#8220;Aku harus bisa!&#8221;</p>
<p>Dengarkan baik-baik, seberapa kerap kita menyerukan kalimat penyemangat itu untuk diri kita sendiri? Acap kali - entah sekadar dalam gumaman atau disertai pekikan dari hati. Sebagai penanda tekad yang berkobar-kobar. Stumulus yang seringkali amat jitu untuk mencapai apa yang kita inginkan - dengan segala daya kemampuan yang ada.</p>
<p>Seorang kawan mengeluh kariernya tak kunjung menanjak. Padahal, dia mengaku sudah menyiapkan segalanya sejak jauh-jauh hari. Terutama dengan bekal pendidikan tinggi yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Tak sekadar sekolah, kawan yang selalu menyabet gelar terbaik di setiap level yang dilewatinya itu tak sedikit pun membuang-buang waktunya untuk bersantai. Belajar, belajar, dan belajar.</p>
<p>&#8220;Aku pikir dengan menjadi pintar bakal menjamin kesuksesan seseorang,&#8221; tuturnya sambil menerawang. Jauh&#8230; entah ke mana. &#8220;Waktuku habis untuk sekolah, mengikuti banyak les dan kursus, serta belajar dan mengerjakan tugas. Aku jarang sekali bermain dengan teman-teman, apalagi dugem seperti anak sekarang.&#8221;</p>
<p>Baik. Benar. Tidak salah. Tapi, belakangan dia sadar betapa tekadnya mempersiapkan hari depan yang cemerlang tak otomatis membuat mimpi indahnya itu terwujud. Kekakuan sikap karena kurang berinteraksi dalam pergaulan sosial, sempitnya wawasan gara-gara merasa sayang membuang waktu untuk membaca informasi, keterampilan kerja yang pas-pasan akibat merasa tak perlu aktif dalam organisasi apa pun menjadi sederet kekurangan yang sulit diterima di lingkungan kerja profesional.</p>
<p>&#8220;Aku terlalu melihat ke depan. Aku kehilangan kesempatan besar karena tak hidup pada saat itu,&#8221; rutuknya dalam penyesalan mendalam. Sayang, Raymond Domenech tak bisa sebijak kawan saya itu. Pelatih timnas Perancis yang sarat kontroversi itu masih saja tenggelam dalam harapannya bahwa di depan sana ada masa gilang-gemilang bagi tim asuhannya. Dia lupa, masa depan harus diraih dengan meletakkan fondasi yang kokoh. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/19/awas-kesandung/#more-65" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=65&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_65" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/19/awas-kesandung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Yes, it was because money&#8230; So what?</title>
		<link>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/17/yes-it-was-because-money-so-what/</link>
		<comments>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/17/yes-it-was-because-money-so-what/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 16:45:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>injurytime</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menjadi Bijak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/17/yes-it-was-because-money-so-what/</guid>
		<description><![CDATA[[Jangan mudah mencibiri orang kaya. Seakan-akan mereka semua tak punya hati dan hanya mengejar keuntungan semata. Terimalah&#8230; memang ada orang yang berhak dihargai lebih karena keistimewaannya. Bukan karena serakah dan atau menghalalkan segala cara.]
Kami punya seorang kawan yang sejak SMU memang brilian. Juara kelas tak pernah lepas dari genggamannya. Meski tak terlalu cemerlang di bangku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>[Jangan mudah mencibiri orang kaya. Seakan-akan mereka semua tak punya hati dan hanya mengejar keuntungan semata. Terimalah&#8230; memang ada orang yang berhak dihargai lebih karena keistimewaannya. Bukan karena serakah dan atau menghalalkan segala cara.]</strong></em></p>
<p>Kami punya seorang kawan yang sejak SMU memang brilian. Juara kelas tak pernah lepas dari genggamannya. Meski tak terlalu cemerlang di bangku kuliah, belakangan kariernya melaju pesat. Meninggalkan rekan-rekan seangkatannya dengan kecepatan yang tak bisa ditandingi siapapun. Gaji sudah lebih dari dua digit, mengendarai mobil termewah yang pernah kami bayangkan, berkantor di gedung tinggi dengan fasilitas wah.</p>
<p>&#8220;Dia memang benar-benar beruntung,&#8221; celetuk seseorang dalam sebuah reuni. &#8220;Bagaimana nggak sukses? Dia pandai me-<em>lobby </em>orang untuk memberinya pekerjaan yang lebih baik,&#8221; sambut yang lain. &#8220;Bayangkan, dalam 10 tahun dia sudah berpindah lebih dari 4 kali. Pantas saja kariernya cepat maju. Dasar kutu loncat,&#8221; timpal yang lain dengan nada tak senang. Cemburu tepatnya.</p>
<p>Padahal, kalau dipikir-pikir, tak ada yang salah dengan kawan seangkatan kami itu. Adalah hak setiap orang untuk mencari dan menemukan yang terbaik dalam hidupnya. Bahwa hal itu berarti karier bagus, keluarga harmonis, hidup serba berkecukupan - sama sekali tak ada yang salah. Apalagi kami tahu dia memang pintar, supel bergaul, dan pandai meyakinkan orang. Kemampuan yang - kalau mau jujur - tak semuanya kami miliki sehingga wajar jika kami tertinggal jauh.</p>
<p>Sia-sia mengumbar rasa iri dengan mencoba mencari sisi salah kawan kami itu. Sama tak bergunanya dengan mencoba menggugat keputusan Luiz Felipe Scolari yang tiba-tiba saja sudah ditunjuk menjadi manajer baru Chelsea. Begitulah yang tengah terjadi hari-hari ini - saat sejumlah kolumnis dan pemberitaan berusaha menyudutkan moralitas pelatih senior yang kini tengah menjalankan tugas memimpin timnas Portugal merengkuh piala bergengsi pertama dalam sejarah sepak bola negeri itu. <a href="http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/17/yes-it-was-because-money-so-what/#more-64" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://injurytime.dagdigdug.com/?p=64&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_64" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://injurytime.dagdigdug.com/2008/06/17/yes-it-was-because-money-so-what/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

