17  Jul
Dua cara menyesal

[Silakan pilih: menyesal karena belum berbuat atau karena sudah melakukan? Putuskan apakah lebih suka menengok ke belakang dan mengevaluasi atau melongok ke depan dan terus bermimpi.]

Memiliki rumah idaman untuk warga Jakarta bukan perkara mudah. Bahkan untuk para profesional muda yang biasanya bergaji relatif pas dengan kebutuhannya. Menyisihkan sedikit uang dari pendapatan guna mencicil sebuah rumah kerap dipandang sebagai pilihan yang terlalu dini bagi eksekutif muda yang baru saja merintis karier.

Kadang penundaan itu menyisakan penyesalan di belakang hari. “Gile bener! Harga rumah sekarang mahalnya selangit. Gaji gue memang makin besar, tapi kenaikan harga rumah berkali-kali lipat di atasnya,” keluh seorang kawan yang bekerja di sebuah perusahaan ternama. “Gue nyesel kenapa nggak dari dulu nyicil rumah. Kalau dari dulu nyicil, mungkin sekarang gue udah punya rumah meski belum lunas.”

Tapi, jangan dikira mereka yang sadar menyicil rumah sejak awal memiliki gaji bulanan tak menyesal juga. “Lu enak masih bisa dugem kapanpun lu mau karena nggak perlu nyicil rumah. Kalau dipikir-pikir, gue juga nyesel pake sok-sokan nyicil rumah dengan gaji pas-pasan. Duit bujang gue menguap tak berbekas. Hidup harus super hemat supaya bisa survive. Seharusnya gue milih tipe yang lebih kecil biar hasrat dugem gue tetep bisa tersalur,” timpal kawan lain menceritakan pengalamannya bertahun-tahun lalu.

Dua kawan kami itu sama-sama menyesal. Bedanya, yang satu menyesal karena tak mencicil rumah dan sampai detik ini masih terus saja menyesali kenapa tak kunjung berani mengambil cicilan. Sementara kawan yang lain menggugat keputusannya sendiri karena merasa kenikmatannya tergerus sampai batas minimal, meski kini bisa menepuk dada karena sudah bisa mendiami rumah mungilnya bersama istri dan anak-anaknya.

Benar kata orang bijak, sesal selalu datang belakangan. Entah itu terhadap sesuatu yang sudah kita lakukan atau justru karena kita belum melakukannya. Kalau boleh memutar kembali waktu yang telah berjalan, Christian Vieri pasti tak akan mau mengulangi pilihannya pindah dari Inter Milan ke AC Milan dan kemudian hijrah lagi ke AS Monaco. Keputusan yang belakangan diakuinya sangat disesali.

Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: July 17, 2008, 12:57 am | 1 Comment »

16  Jul
Time to choose

[Hidup adalah permainan pikiran. Berbahagialah mereka yang selalu bisa menemukan alasan untuk memilih, meski berkawan dengan sesal. Daripada mereka yang mencintai bimbang ragu dan diam-diam mencintai keterhentian langkah.]

Ini khas penulis… yang berpretensi menghasilkan master piece… dengan berlama-lama termenung dalam benaknya sendiri… dan tak kunjung mau merangkai kata pun kalimat. Mungkin hampir semua penulis pernah merasakannya. Kebuntuan melahirkan karya karena tak juga berani menuangkan ide-idenya di atas kertas atau layar komputer.

Berminggu-minggu lamanya saya kehilangan mood untuk mengisi blog ini. Hari demi hari terlewati begitu saja tanpa ada segurat gores pun di dalamnya. Macam-macam alasannya. Sedang kehabisan ide lah, sedang malas menulis lah, sedang sibuk lah, dan sedang sedang lainnya. Padahal, kalau mau, lebih mudah di depan komputer menuliskan apa pun -  menghapus dan mengeditnya jika dirasa kurang pas, daripada sekadar berandai-andai merangkai ide di kepala tapi tak juga berani membuka a new file.

Hidup seringkali identik dengan permainan pikiran kita sendiri. Jika kita menemukan alasan, niscaya tak ada satu pun yang bisa menghambatnya - meski dengan risiko gagal, salah, mengundang sesal. Tapi, jika sang diri lebih asyik merangkai angan dalam segala ragu, pastilah tak akan berani kita memilih atau memutuskan sesuatu.

Jalan ke depan terantuk batu atau aman di tempat tapi tak melakukan apa-apa. Begitulah hidup memberi kita pilihan yang jelas. Dalam kemudaannya, Chase Hilgenbrinck tak ragu menetapkan pilihan untuk mengubah total jalan hidupnya. Pemuda berumur 26 tahun itu berani pensiun dini sebagai pemain sepak bola profesional. Dia tanggalkan statusnya sebagai bek muda potensial yang tengah menjalani kontrak dengan sebuah klub di Major League Soccer (MLS), New England Revolution. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: July 16, 2008, 6:10 pm | 1 Comment »

25  Jun
Magis ketiadaan

[Jangan pernah menyesali keterbatasan. Arungilah segala arus yang mengempaskan kita ke tubir jurang. Dan, saat kelokan terakhir terlampaui, kepalkanlah tanganmu! Berteriaklah sekeras-kerasnya! Yes, it’s done!!!]

Bak disambar petir di siang bolong, Dra. Irna Minauli, M.Psi hanya bisa meratap saat diberitahu dokter bahwa buah hatinya mengidap penyakit autis. Iqbal Rahyan, yang kini telah berumur 18 tahun, saat itu belum juga bisa berbicara layaknya teman-teman sebaya dan selalu terlihat ketakutan jika bertemu orang. Ternyata, Iqbal menderita autis yang membuat perkembangannya tidak normal dan menjadi berbeda dengan anak-anak lain.

“Saya menutup diri dan depresi selama setahun,” cerita Irna kepada Tabloid Nova mengenang masa-masa sulitnya. “Saya berhenti ikut pengajian dan arisan. Saya marah pada Tuhan.” Mengetahui orang yang sangat kita sayangi menderita dan diyakini bakal menanggung sekian banyak kesulitan dalam hidupnya tentu membuat kita semua menyalahkan keadaan dan Yang Kuasa. Reaksi yang sangat wajar.

Reaksi serupa juga muncul dari Herniwaty saat mengetahui anaknya, Natrio Catra Yososha atau Osha divonis dokter menderita autis karena ada kelainan otak. Dokter menyarankan untuk tidak memaksa Osha sekolah. Kalau hanya kuat sampai SMP ya jangan dipaksa terus ke SMA dan Perguruan Tinggi. Orangtua mana yang tega melihat anaknya tidak akan pernah bisa menjadi “orang” lewat bangku pendidikan?

“Saya terus menggugat kenapa semua ini bisa terjadi. Dokter kemudian bertanya, apakah saya mau tetap berjalan di tempat, sibuk mencari tahu penyebabnya - atau segera mencari jalan keluar? Akhirnya saya tersadar bahwa harus mencari tahu apa yang harus saya lakukan untuk Osha,” paparnya di tabloid yang sama.

Kini masa-masa suram itu telah lewat. Dengan segala perjuangan, kelelahan, dan air mata - Iqbal dan Osha tumbuh menjadi remaja normal. Iqbal tidak lagi perlu dibantu untuk melakukan aktivitas hariannya. Dia malah akan protes jika ada yang memperlakukannya sebagai orang cacat dan tak mampu. Osha malah membuat banyak orang tercengang karena kini telah lulus ujian saringan masuk Universitas Gadjah Mada - mencoba menggapai cita-citanya menjadi sejarahwan.

Fatih Terim tidak menderita autis. Anak-anak asuhannya semua juga terbilang pemain sepak bola pilihan dari negeri kecil bernama Turki - yang beberapa di antaranya bermain untuk klub-klub elite Eropa. Tapi, mantan pelatih AC Milan itu sadar sekali betapa tim yang dilatihnya bukanlah tim unggulan. “Saya ke sini hanya untuk mengingatkan orang supaya tidak lupa kepada Turki,” kata pelatih berjuluk The Emperor ini. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 25, 2008, 12:25 am | No Comments »

15  Jun
Salah berharap

[Jangan mudah percaya pada predikat. Hanya akan mengundang kecewa dan heran. Lihatlah saja realita - karena di sanalah letak hakikat predikat yang sesungguhnya.]

Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar kata “Agung”? Hanya orang bodoh yang mengartikan predikat itu sebagai “biasa-biasa saja”. Sebaliknya, hal itu identik dengan status “the best of the best“, yang terbaik di antara yang terbaik. Sang istimewa yang jauh berbeda dengan kita yang biasa-biasa saja. Memendarkan sinar berwarna emas - minus arang hitam pun jelaga. Karena keluarbiasaannya, bukan karena kebobrokannya.

Logikanya, lembaga yang berani menyandang nama Kejaksaan Agung tentulah berisi pribadi-pribadi terbaik sebagai ujung tombak penegakan keadilan di negerinya. Kumpulan aparat penegak hukum berintegritas yang pantang bekerja seadanya, tak mudah tergoda bujuk rayu, pun tegas menolak upaya menjual keputusan keadilan yang berada dalam genggaman tanggung jawabnya. Kita berharap banyak pada mereka semua.

Faktanya, kita terpaksa mengelus dada. Ternyata pilar-pilar keadilan kita itu mudah menyerah pada money power. Mengikuti pemberitaan media yang gencar mengulas skenario kongkalikong antara “terdakwa” dan “pendakwa”yang diperantarai oleh para petinggi “rumah keadilan, segera makin lunturlah kepercayaan kita pada mereka yang diharapkan menjadi ujung tombak penegakkan keadilan di negeri ini.

Dada kita makin sesak jika menyadari betapa ini bukan kasus pertama yang mencoreng reputasi lembaga tinggi negara. Memang, tak ada kesalahan yang bisa dihukum sebelum ada keputusan final di meja hijau. Sederet sangkalan mulai meluncur deras dari “rumah yang agung” itu. Pembelaan yang membuat kita makin mencibir melihat betapa keras usaha mereka membersihkan citra agung lembaganya yang jelas-jelas sudah penuh noda hitam. Wajahnya menghitam… meredupkan pancaran sinar emasnya…

Sekeras apa pun Joachim Loew menyangkal kekerdilan timnya saat kalah 1-2 dari Kroasia di partai kedua penyisihan Grup B Piala Eropa 2008, tetap saja publik dibuat kecewa oleh penampilan salah satu tim favorit tersebut. Pujian setinggi langit yang diperoleh Michael Ballack dkk saat mengandaskan Polandia 2-0 di partai pertama sontak menguap setelah Kroasia melesakkan dua gol telak ke gawang Jens Lehmann. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 15, 2008, 1:48 am | No Comments »

10  Jun
Pujian menyesatkan

[Silakan percaya dan bergembira menerima sanjungan. Tapi, sebaiknya kita mewaspadai apa maksud sesungguhnya. Salah-salah malah membuat kita terjebak dan terjepit.]

Banyak ilmu kebijaksanaan mengajarkan bahwa pujian adalah salah satu cara yang paling efektif untuk membangkitkan motivasi. Tepatnya, mengapresiasi tindakan orang lain sehingga yang bersangkutan merasa ada dan dihargai. Tapi, awas, kadang sanjungan juga mudah membuat orang lain lupa diri. Bukannya terangkat eksistensinya, malah perlahan mengubur peran dan keberadaannya.

Bak pedang bermata dua, pujian bisa menguntungkan dan merugikan. Seorang anak, misalnya, akan benar-benar menjadi pandai nan cerdas jika pujian dari orangtuanya dianggap sebagai dorongan untuk terus mempertahankan dan meningkatkan pencapaiannya. Sebaliknya, dia lama-lama akan menjadi malas dan bodoh jika menganggap pujian sebagai hasil akhir yang tak perlu ditingkatkan lagi.

Mempercayai pujian memang bisa membuat kita lupa diri. Seolah-olah kita sudah berada di garis finish dan merasa tak perlu bekerja keras untuk mempertahankan pujian itu. Bagi yang mengetahui risiko pujian yang sangat merusak itu, kadang mereka justru sengaja melontarkan pujian untuk mendapatkan efek negatif yang bisa menguntungkan mereka.

Banyak kita tak menyadari betapa pujian juga bisa menjadi senjata paling ampuh untuk melumpuhkan lawan. Lihatlah cara Guus Hiddink mencoba mengganggu keunggulan materi calon lawannya di partai perdana Grup D malam ini. Sadar Rusia yang dilatihnya di atas kertas kalah segalanya, dia secara terbuka melebih-lebihkan status Spanyol sebagai tim yang lebih baik. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 10, 2008, 1:59 pm | 1 Comment »

[Kalau kita mau memberi karena punya banyak, itu biasa. Tapi, kalau kita kekurangan dan masih rela berbagi, tak semua kita bersedia melakukannya.]

KONTROVERSI program Bantuan Langsung Tunai (BLT) mungkin sudah lengser sebagai primadona pemberitaan. Di tengah pro dan kontra, inisiatif pemerintah membantu warganya yang miskin itu berjalan relatif lancar. Rasanya hanya segelintir kita yang merasa masih kekurangan nekat melepas tiga ratus ribu rupiah di depan mata nyaris tanpa usaha apapun alias cuma-cuma. Diakui atau tidak, kebanyakan kita kerap enggan mengurangi, apalagi melepaskan keuntungan.

Tapi, bacalah sebuah feature di Harian KOMPAS di saat program BLT masih marak memenuhi headline surat kabar itu. Saya lupa tepatnya tanggal berapa berita kategori humaniora itu muncul di halaman pertama. Yang saya ingat, cerita ringan itu membuat bulu kuduk saya merinding mengetahui betapa besar jiwa saudara-saudara kita - justru di saat berada dalam situasi serba kekurangan. Alih-alih menjadi rakus dan egois, mereka dengan suka hati membagi keberuntungan mereka yang sesungguhnya sangat berarti.

Dikisahkan di sejumlah desa muncul gerakan solidaritas spontan dari penerima BLT. Bukan untuk gotong-royong menyewa angkutan umum untuk menuju kantor pos terdekat mengambil uang gratisan, namun secara sadar memotong jatahnya masing-masing untuk diberikan kepada sesama warga miskin yang tidak terdata sebagai penerima BLT. Ada yang secara personal langsung memotong jatahnya untuk diberikan kepada tetangga, ada juga sebuah desa yang mengumpulkan semua uang BLT kemudian dibagi rata kepada seluruh warga miskin.

“Kami semua sama-sama miskin. Kalau ada yang dapat BLT dan ada yang tidak, rasanya tidak enak. Maka kami sepakat membagi uang kami untuk mereka yang tak kebagian. Kami susah sama-sama dan senang sama-sama,” jelas seorang warga tentang gerakan solidaritas spontan itu. Padahal, di tempat lain, jamak kita baca orang saling bunuh hanya untuk berebut beberapa ribu perak saja. Atau oknum pejabat yang sampai tega menguasai harta rakyat dalam jumlah miliaran rupiah!

Mereka memang miskin. Tapi, kekurangan itu tak menghalangi membuhulnya panggilan nurani untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Aston Villa juga terbilang melarat di antara klub-klub kaya di Inggris dan Eropa. Baik itu dari sisi pencapaian prestasi maupun dari ukuran finansial. Bandingkan dengan Manchester United, Chelsea, Liverpool, dan Arsenal yang dikenal sebagai pelopor tren klub sepak bola sebagai profit center. Harta Aston Villa jelas tak ada apa-apanya dibanding milik rival-rivalnya. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 4, 2008, 10:08 pm | No Comments »

03  Jun
Memilih salah

[Salah tak bisa menjadi benar hanya karena alasan waktu. Kadang kita suka mengaburkan hakekat salah dengan waktu kejadian. Seolah-olah bisa mengurangi bobot sang alpa.]

Senayan geger lagi. Untuk kesekian kalinya, tercium aroma tak sedap dari rumah rakyat itu. Salah satu petinggi di lembaga milik masyarakat itu diisukan melakukan tindakan yang tak terpuji. Max Moein, salah satu anggota yang terbilang cukup populer dari sebuah partai besar, dilaporkan ke Badan Kehormatan DPR karena dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap mantan sekretarisnya. Masih belum cukup, dalam waktu yang nyaris bersamaan, tersebar foto politikus itu bersama seorang wanita - dalam pose yang tak bisa dibilang wajar dan sopan.

Seperti biasa, adu argumentasi mencuat ke permukaan. Desi Firdianti, yang mengaku menjadi korban pelecehan, berkeras dirinya mendapat perlakuan tak senonoh sampai membutuhkan psikiater untuk mengobati keterguncangan jiwa. Pak politikus dengan santai mengatakan jika memang benar dia merasa dilecehkan, kenapa yang bersangkutan pernah melamar kembali untuk dipekerjakan lagi sebagai sekretaris pribadinya?

Yang paling mengganggu adalah upaya pak politikus itu menggeser pokok persoalan dengan mempermasalahkan waktu kemunculan berita. “Saya heran mengapa menjelang Pemilu (2009) potret itu (dan isu pelecehan-red) baru diangkat, apalagi saat kami sedang menggelar mukernas di Makassar untuk membicarakan pencalegan. Ini menurut saya satu pembunuhan karakter yang direncanakan. Sehingga saya perlu memberikan klarifikasi,” kata Max Moein yang mengaku foto syur itu terjadi pada tahun 2003.

Logikanya, Max Moein adalah korban konspirasi. Sebaliknya, moralitas masyarakat yang terusik melihat wakilnya di lembaga terhormat berpose tak pantas dan psikis korban pelecehan yang terganggu akibat ulahnya itu seolah-olah ditempatkan menjadi “pelaku”.

Padahal, bukankah salah tetaplah salah? Tak peduli kejadiannya sekarang, kemarin, atau puluhan tahun silam?

Kalau boleh memilih, Fabio Cannavaro tak mau mendapat cedera angkle kirinya di hari pertama latihan resmi Gli Azzurri di Austria. Dalam sebuah sesi latihan, bek andalan Real Madrid itu tergelepar kesakitan usai berebut bola dengan Giorgio Chiellini. Bukan hanya tak bisa meneruskan sesi latihan, kapten timnas Italia itu harus langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lanjutan. Dan, vonis pun jatuh: nama Canna tercoret dari 23 skuad yang boleh berlaga di Piala Eropa 2008. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 3, 2008, 3:07 pm | No Comments »

[Adakah tempat yang lebih rindang selain beranda rumah asri yang penuh peluk hangat pada diri? Jika sesak mulai mendesak, mungkin sebaiknya kita sejenak pulang melepas penat… sembari mencari kekuatan diri…]

“Mas, saya sudah tidak kuat lagi,” begitu seorang rekan kerja mengakhiri masa permenungannya. “Saya sudah mengikuti saran Mas untuk berusaha menikmati segala keindahan dari profesi ini. Tapi, tetap saja ada yang terasa hilang. Hampa. Bekerja tak lagi menyenangkan. Jiwa saya kering, meranggas digerus hiruk-pikuk ibu kota.”

Ya, teman saya yang satu ini memang selalu datang dengan kedalaman kata. Tanda betapa dia tak bisa menerima segala dalam indahnya permukaan belaka. Selalu mencari makna di balik segala peristiwa. Bak seorang petualang yang tiada henti mempertanyakan tujuan peziarahan hidupnya. Dengan jenggot lebat di dagu dan pakaian yang selalu serbahitam, dia memang bukan pribadi biasa.

Tak heran jika dia merasa tak kuasa mengikuti ritme ekstrim ibu kota. Pindah dari sebuah kota tenang di Jawa Tengah dengan prestasi cemerlang, banyak yang berharap akan lahir karya-karya geming dari sang kawan. Nyatanya, justru sederet keluhan yang berbulan-bulan disimpannya seorang diri. Menumpuk resah yang berujung pada pilihan menyerah untuk kembali pulang ke kampung halaman. Sebuah pilihan yang kabarnya kini malah menjadikannya orang yanglebih bahagia dengan segala keterbatasannya.

Pencerahan itulah yang tampaknya juga sedang terjadi pada diri Adriano Leite Ribeiro. Salah satu striker muda yang pernah disebut-sebut sebagai “Pangeran sepak bola dunia” karena kerakusannya membobol gawang lawan. Keahlian yang membuat Inter Milan rela membuang banyak uang untuk merekrutnya lebih dari sekali. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 2, 2008, 11:47 pm | No Comments »

« Previous Entries