[Silakan pilih: menyesal karena belum berbuat atau karena sudah melakukan? Putuskan apakah lebih suka menengok ke belakang dan mengevaluasi atau melongok ke depan dan terus bermimpi.]
Memiliki rumah idaman untuk warga Jakarta bukan perkara mudah. Bahkan untuk para profesional muda yang biasanya bergaji relatif pas dengan kebutuhannya. Menyisihkan sedikit uang dari pendapatan guna mencicil sebuah rumah kerap dipandang sebagai pilihan yang terlalu dini bagi eksekutif muda yang baru saja merintis karier.
Kadang penundaan itu menyisakan penyesalan di belakang hari. “Gile bener! Harga rumah sekarang mahalnya selangit. Gaji gue memang makin besar, tapi kenaikan harga rumah berkali-kali lipat di atasnya,” keluh seorang kawan yang bekerja di sebuah perusahaan ternama. “Gue nyesel kenapa nggak dari dulu nyicil rumah. Kalau dari dulu nyicil, mungkin sekarang gue udah punya rumah meski belum lunas.”
Tapi, jangan dikira mereka yang sadar menyicil rumah sejak awal memiliki gaji bulanan tak menyesal juga. “Lu enak masih bisa dugem kapanpun lu mau karena nggak perlu nyicil rumah. Kalau dipikir-pikir, gue juga nyesel pake sok-sokan nyicil rumah dengan gaji pas-pasan. Duit bujang gue menguap tak berbekas. Hidup harus super hemat supaya bisa survive. Seharusnya gue milih tipe yang lebih kecil biar hasrat dugem gue tetep bisa tersalur,” timpal kawan lain menceritakan pengalamannya bertahun-tahun lalu.
Dua kawan kami itu sama-sama menyesal. Bedanya, yang satu menyesal karena tak mencicil rumah dan sampai detik ini masih terus saja menyesali kenapa tak kunjung berani mengambil cicilan. Sementara kawan yang lain menggugat keputusannya sendiri karena merasa kenikmatannya tergerus sampai batas minimal, meski kini bisa menepuk dada karena sudah bisa mendiami rumah mungilnya bersama istri dan anak-anaknya.
Benar kata orang bijak, sesal selalu datang belakangan. Entah itu terhadap sesuatu yang sudah kita lakukan atau justru karena kita belum melakukannya. Kalau boleh memutar kembali waktu yang telah berjalan, Christian Vieri pasti tak akan mau mengulangi pilihannya pindah dari Inter Milan ke AC Milan dan kemudian hijrah lagi ke AS Monaco. Keputusan yang belakangan diakuinya sangat disesali.