04  Sep
Mencintai pedih

[Jatuh itu sakit. Apalagi jika terjun bebas dari ketinggian. Luar biasa pedih! Tapi, diam-diam seringkali muncul kenikmatan yang tanpa kita sadari justru membuat kita enggan berdiri lagi.]

Teman kami sedang amat sangat down. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kariernya hancur berantakan, nama baiknya tercemar, plus persoalan pribadi yang kebetulan datang bersamaan. Pendeknya, nyaris tak ada cahaya dalam kesehariannya. Detik demi detik dilalui dengan gugat parau pada keadilan sang empunya hidup. Situasi buruk yang membawa petaka dalam hari-harinya.

Sebagai kawan-kawan sejati, kami semua berusaha ikut bersimpati - dan sebisanya membantu. Yang paling mudah tentulah dengan kalimat-kalimat penghiburan… “Ayo, jangan menyerah! Buktikan bahwa kamu memang orang hebat. Jadikan pengalaman buruk ini sebagai pelajaran dan cambuk untuk bangkit”. Dan serendeng kalimat-kalimat penyemangat lain yang tak bosan kami lantunkan.

Sebisa mungkin kami juga mengajaknya untuk ikut serta dalam setiap proyek yang kami dapatkan. Sekadar mau mengatakan bahwa masih ada orang yang mempercayainya dan selalu ada yang bisa dikerjakannya. Sudah tak terhitung berapa kali kami mengangsurkan bantuan untuk meringankan beban ekonominya. Pun, tak terhitung berpuluh-puluh kali kesempatan diluangkan untuk mendengarkan keluh-kesahnya.

Hari berganti hari, bulan bergulung bulan, tak jua terlihat kemajuan dari karib kami - yang sebenarnya sarat potensi itu. Masih saja jadi pengangguran, tetap saja mengulang cerita ketidakadilan yang menderanya, selalu saja punya alasan menolak setiap peluang kecil untuk kembali bangkit. Adakah dia terlena dalam keterpurukannya? Merasakan banyak kemudahan dari teman-teman dan lingkungannya dengan setumpuk simpati dan uluran tangan yang senantiasa diterimanya?

Pemaafan - apapun bentuknya dan siapapun pelakunya - sepertinya cenderung membuat kita terbuai. Tidak ada yang menyangkal bakat besar Alvaro Recoba sebagai pemain brilian. Bakat El Chino, julukan Recoba, ditemukan oleh Sandro Mazzola, legenda Inter Milan pada era ‘60an, ketika menyaksikan Nacional of Montevideo, Uruguay bermain. Saat itu, pada 1996, remaja Recoba di usianya yang baru menginjak 20 tahun telah sanggup mencetak 30 gol dalam 27 pertandingan dengan bekal skill di atas rata-rata dan gol-gol yang terbilang spektakuler. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: September 4, 2008, 7:14 pm | No Comments »

02  Sep
Menyapu debu abadi

[Kita semua pasti paham bahwa “memang tidak ada yang sempurna” - meski berbeda-beda menyikapinya. Ada yang bersedia menerima cacat itu, namun banyak yang memilih mencampakkannya…]

Sepintas, menyapu adalah sebuah kegiatan yang sangat sepele. Membuat gerakan yang sama berulang-ulang untuk sekadar membersihkan sesuatu - bisa lantai, rumah, pekarangan, atau perabotan - dari debu atau kotoran. Pekerjaan yang boleh jadi telah lama kita tinggalkan karena kesibukan atau sudah ada orang lain yang mengerjakan.

Namun, apa jadinya jika kegiatan sepele itu jarang atau malah tak pernah dilakukan dalam kurun waktu tertentu? Nyamankah kita tinggal di rumah yang penuh debu, dengan pekarangan yang sarat sampah, dan lantai yang kesat? Pastilah sangat tidak mengenakkan. Itu sebabnya banyak di antara kita yang kelimpungan saat terpaksa memberi ijin mudik kepada our house keeping staff sesaat menjelang Lebaran.

Jika bicara soal debu, tak susah mencari jalan keluarnya. Tentu harus disapu atau dibersihkan sesering mungkin untuk membuat rumah kita menjadi seperti istana yang membuat betah. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan jika debu yang mengganggu hidup kita berbentuk sikap, perilaku, atau sosok seseorang dalam keseharian kita? Seseorang yang mudah membuat kita jengkel, kesal, dan marah?

Haruskah kita setia “menyapu” ketidaksempurnaan orang lain yang akan selalu muncul seperti debu - sembari berharap kelak dia akan insyaf, atau “membiarkannya menjadi onggokan debu” dengan membiarkan atau malah mencampakkannya? Hmmm… tidak mudah menjawabnya ya…

Hari-hari ini Adrian Mutu tengah sibuk menyusun memori banding atas denda senilai 17,17 juta euro yang dijatuhkan FIFA atas pemutusan kontrak yang dilakukan Chelsea terhadap sang pemain akibat terbukti memakai kokain dan gagal lolos tes doping.The Blues seperti berniat mencampakkan Mutu menjadi seonggok debu dan memastikan dia dihukum seberat-beratnya atas cacat dan perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukannya di masa lalu.

No mercy! Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: September 2, 2008, 10:39 pm | No Comments »

[Kita semua berhak menikmati jerih payah mendaki ke puncak. Tapi, tak ada salahnya menimbang mereka yang di bawah.]

Pernikahan adalah momen spesial yang diharapkan hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Wajar jika nyaris semua kita menginginkan upacara suci itu berjalan hikmat, sakral, sekaligus penuh kesan. Ketika peradaban menawarkan kemungkinan untuk makin customized, berlomba-lombalah kita merancang pesta bakal abadi melekat dalam benak. Makin unik sebuah gelaran, makin besar kesan yang ditinggalkannya.

Tidak ada yang salah dengan keinginan pasangan Adinda Bakrie dan Seng Hoo Ong menggelar rangkaian upacara dan pesta yang semeriah mungkin untuk meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan suci. Segala hal yang berhubungan dengan acara itu - mulai dari undangan, cindera mata, akad nikah, respesi, dan private party - dirancang sesuai dengan kelas mereka sebagai salah satu anggota komunitas sosialita (kalangan papan atas) negeri ini.  Bahkan, gosipnya, sampai mendatangkan nama-nama tenar dari manca negara demi memastikan  sebuah acara yang super prima.

Menurut berita yang beredar di sejumlah media, total dana yang dikeluarkan mencapai puluhan miliar rupiah - meski kemudian mendapat bantahan keras dari pihak keluarga. Sejumlah media meng-claim bahwa inilah pesta pernikahan termahal di negeri ini. Kalaupun benar, tak ada yang salah dengan biaya semahal itu dan pesta semeriah itu serta undangan seekslusif itu. Toh keluarga Bakrie memang dikenal sebagai penguasa sukses yang cukup memiliki uang untuk membiaya semua itu untuk menjadi nyata.

Masalahnya, ada sementara kalangan yang dengan sinis menyebut pernikahan itu seolah-olah seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain. Tak lain karena adanya fakta bahwa persoalan bencana di Desa Porong, Sidoardjo yang terkait erat dengan keberadaan PT Lapindo Brantas melakukan eksplorasi di daerah itu belumlah tuntas dan masih menjadi kontroversi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Berpikir naif dan bodoh, akan lebih baik rasanya jika dana miliaran rupiah itu digelontorkan untuk membantu kesulitan yang terus menimpa warga desa Porong dan sekitarnya. Sebuah tuntutan sosial yang masuk akal - meski tidakada dasar hukumnya mengingat pengadilan telah memvonis PT Lapindo Brantas tidak terbukti bersalah atas terjadinya bencana alam yang amat sangat dahsyat dampaknya tersebut.

Sebagai anggota kerabat Bakrie, Adinda - yang sebenarnya punya kualitas sangat baik sebagai seorang pribadi yang digambarkan taat beragama, punya pergaulan luas, dan menamatkan pendidikan dengan predikat magna cumlaude di negeri Paman Sam - terimbas sentimen negatif di masyarakat. Mau tak mau, pesta sekali seumur hidupnya itu terusik oleh sinisme yang merebak di sejumlah kanal media tanpa bisa dibendung. Padahal, praktis dia tak punya sangkut-paut langsung dengan bencana di Porong.

Suka atau tidak, kadang publik menuntut pertanggungjawaban sosial mereka yang dianggap lebih mampu, lebih mapan, lebih powerfull. Dalam konteks inilah maka belakangan di Italia menyeruak sinisme kepada klub-klub elite Serie-A yang dianggap tidak peduli pada saudara-saudaranya di Serie-B dan Serie-C. Kesuksesan yang mereka sandang sebagai sederet klub terkaya di dunia ternyata tak sanggup menolong kebangkrutan sejumlah klub kecil di negeri spaghetti itu. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: July 28, 2008, 7:54 pm | 3 Comments »

22  Jul
R U really care?

[Kita kadang merasa lebih tahu apa yang terbaik bagi orang lain. Tapi, seringkali tanpa sadar itu melulu cerminan yang terbaik bagi kita.]

Kasihan sekali keponakan saya. Hari-hari ini gadis tanggung yang seharusnya sedang penuh canda tawa menjalani hari-harinya sontak memamerkan tampang bermuram durja. Berbeda dengan remaja tanggung seusianya, Christina kerap tertangkap sedang menerawang kosong dan terdiam di saat seluruh kerabat berkumpul.

Gerangan apa yang membuatnya berduka? “Aku nggak boleh nerusin sekolah di sini Om,” ceritanya beberapa hari lalu. “Bapak marah besar waktu tahu aku hanya bisa masuk jurusan Sosial. Bapak dan ibu mengharuskan aku masuk jurusan Ilmu Pasti biar nanti nggak sulit memilih jurusan di Universitas.”

Diam-diam saya tersenyum kecut di dalam hati. Persis pengalaman saya yang sempat didiamkan sejak kelas 2 SMA sampai kira-kira saat menjelang wisuda karena gagal memenuhi keinginan orangtua saya masuk jurusan Ilmu Pasti. Bukan pengalaman mengenakkan dan butuh pembuktian lama untuk meyakinkan dan membuktikan bahwa Ilmu Pasti bukan jaminan sukses seseorang. Sebaliknya, jurusan Sosial pun - juga Bahasa dan Humaniora - bisa menjadi jalan emas.

“Bapak tetep ngotot aku harus masuk IPA,” lanjut gadis jangkung berkulit agak legam itu. “Karena sekolah nggak mau memberi dispensasi, akhirnya bapak nyari sekolah di daerah lain yang mau menerimaku di jurusan IPA. Aku sedih harus pindah dari kota ini, padahal baru setahun aku punya teman-teman baru dan lingkungan baru.”

Minggu lalu dia terpaksa terbang belasan jam lamanya hanya untuk memastikan bisa masuk jurusan IPA. Kembali ke kota asalnya nun jauh di ujung Nusantara untuk memenuhi keinginan bapak-ibunya.  Memastikan tuntutan agar kelak bisa meneruskan profesi sebagai dokter yang sukses bisa mulai dirintis sedini mungkin.

Entah berapa kali kita merasa paling tahu apa yang harus dipilih oleh orang lain… Bagi Sir ALex Ferguson, tempat terbaik baik Cristiano Ronaldo adalah klub asuhannya sendiri, Manchester United. Dia menegaskan bahwa pemain yang belakangan menyiratkan hasrat untuk segera pindah ke klub lain itu harus tetap tinggal di Old Trafford jika ingin mengembangkan talentanya ke titik maksimal. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: July 22, 2008, 10:46 pm | 1 Comment »

[Jika kau melepaskan segala, tiada luka yang kan terbuka. Jika kau mempercayai sesuatu, tiada mudah pedih disanggah.]

B******N!!!

Wajahnya mengeras, kedua rahang mengatup, menatap penuh murka yang tak terbayangkan. Nafasnya sesak, menahan luapan amarah di dada yang berdegup tak karuan. Tiba-tiba tangannya mengepal, mengayun, dan melontarkan gelora sang pesakitan, “B*******N!!!”

Umpatan yang mewakili segala rasanya.

Dengan nafas tersengal, sang kalah mengumpat habis-habisan. Entah kepada siapa… Entah untuk apa… Selain karena dorongan pedih yang tak tertanggungkan… “Kalian memang jahanam yang tak tahu malu. Sekian lama kulakukan semua untuk kebaikan kalian, kini dengan semena-mena kalian campakkan begitu saja. Inikah balasan untuk semua keringat yang telah kukucurkan? Inikah bayaran untuk semua derita yang kutanggung? Kalian memang B*******N! Terkutuklah kalian di neraka!”

Kami tahu dunia sang kalah sedang runtuh. Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia memperjuangkan semuanya dari titik terendah hingga sejauh ini. Sekian banyak kerja dilakukannya sepenuh hati dengan sekian risiko yang mau ditanggungnya. Kini, tiba-tiba saja semua itu dianggap tak ada. Sang kalah dianggap tak cukup baik untuk meneruskan upayanya. “Maaf, ada orang lain yang lebih layak,” begitu sang menang menjawabnya enteng.

Sesuatu yang dipegang sekian lama, dipercayai, diperjuangkan dengan segala cara memang berisiko menghadirkan luka pedih nan perih yang tak terperikan rasanya. “Spain was simply better“, begitu tulis koran Bild menanggapi kekalahan Jerman dari Spanyol di final Piala Eropa 2008. Judul yang memang sangat mewakili 90 menit jalannya pertandingan ketika kecepatan Fernando Torres mampu mengalahkan kelambanan Phillip Lahm dan Jens Lehmann. Ketika sekian banyak peluang El Matador terbuang percuma di saat Der Panzer seperti kehilangan daya untuk menandingi. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: July 1, 2008, 12:23 am | 1 Comment »

[Jika Tuhan saja selalu ikhlas memberi maaf, kenapa manusia tidak? Faktanya, ada banyak maaf yang tak bisa diterima dengan sempurna. Karena kita manusia, bukan Tuhan, yang masih terbujuk ihwal duniawi.]

Suatu malam, dalam dekap hening, bertuturlah sang hati kepada sang pencipta. “Tuhan, saya menyesal atas segala dosa yang telah saya perbuat. Saya kotor dan hina, tidak layak menghadapMu. Saya mohon ampun dan meminta segala maaf dariMu. Aku berjanji tidak akan berbuat dosa lagi kalau Kau mau mengabulkan permintaanku ini…”

Lantas mengalirlah sebait pinta seorang manusia kepada Sang Ilahi. Doa yang lagi-lagi meminta kebaikan Tuhan demi kepentingan dirinya sendiri. Hamparan damba yang dibalut sederet janji sebagai balasan padaNya. Reaksi spontan seorang manusia yang sesungguhnya tanpa sadar telah mengikat kontrak yang pantang diingkari…

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Adakah sang pendamba setia melaksanakan janjinya - meski Yang Kuasa telah menurunkan anugerah besar dengan mengabulkan segala permintaannya? Tidak. Banyak kita tetap saja bergelimang dosa meski entah berapa banyak doa kita yang dikabulkan. Seakan-akan menjadikan janji tobat sekadar pelengkap di ruang doa dan beban berat dalam dunia nyata.

Beruntunglah kita yang tak pernah digugat meski berkali-kali melanggar kontrak kehidupan kita sendiri. Sekian banyak kita meminta maaf, sekian banyak pula kita dimaafkan - dengan segala bonus dalam kehidupan kita yang tak pernah kita hitung sebagai hutang pada sang pemilik kehidupan.

Tapi, mari berkaca, seberapa sering kita - manusia - menjadikan ikatan kontrak sebagai dasar menjalani kehidupan?  “Jika kami (Italia) gagal menembus babak semifinal (Euro 2008) dan tidak ada kesepakatan di antara kedua belah pihak untuk memperpanjang kontrak, maka perjanjian yang telah ditandatangani bisa dibatalkan. Jadi, tidak ada pemecatan (terhadap Roberto Donadoni,” kata Presiden FIGC, Giancarlo Abete, mencoba menjernihkan isu yang mengatakan pelatih tim nasional Italia akan segera dipecat. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: June 25, 2008, 10:25 pm | No Comments »

20  Jun
Membeli bahagia

[Masihkah sebuah kemenangan menjadi berarti tanpa kelengkapan sebuah prosesi? Semua menjadi sia-sia jika ada yang terluka karenanya.]

Apa yang akan kita lakukan jika suatu hari berada dalam setting cerita berikut ini? Pada suatu hari, seorang laki-laki pulang dari bekerja larut malam. Hari itu sangat melelahkan baginya. Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya yang berusia 5 tahun sudah menunggunya di depan pintu rumah.

Anak: “Ayah, boleh aku bertanya?”
Ayah: “Yeah, boleh, ada apa?” jawab sang ayah.
Anak: “Ayah, berapa gaji ayah dalam satu jam?”
Ayah: “Bukan urusanmu. Ngapain kamu nanya-nanya hal begitu?”
Anak: “Aku cuma pengen tahu ayah… tolonglah ayah, beritahu aku…”
Ayah: “Baiklah, gaji ayah cuma Rp.30.000 sejam.. puas?” jawab si ayah dengan ketus.
Anak: ” Oh… Boleh nggak aku minta Rp.15.000?” tanya si anak dengan ragu-ragu..
Ayah: “oh.. jadi kamu cuma mau minta uang untuk beli mainan2 nggak penting atau barang nggak berguna lainnya? Sekarang kamu cepat masuk ke kamar dan tidur! Ayah
kerja keras tiap hari untuk kamu dan mamamu, tapi kamu terus merengek.  Sana tudir” .

Dengan wajah sedih dan kepala menunduk, si anak segera masuk ke kamarnya tanpa berkata-kata. Pipinya mulai basah oleh tetsan air mata kesedihan. Sang ayah lalu duduk di kursi dan tanpa sengaja kembali memikirkan permintaan anaknya di tengah malam itu. Dia sangat kesal dan tak habis pikir kok tega-teganya anak kesayangannya itu minta di saat ia baru saja pulang dan capek setelah bekerja keras seharian. Perlahan suara batinnya mulai menyenandungkan nada penyesalan. Tak seharusnya dia melampiaskan kesal pada anaknya. Dia tahu telah menghancurkan hati anaknya itu…

Sukses atau pencapaian tertentu kadang memang memakan banyak sekali korban. Seperti kisah ayah di atas, Fatih Terim juga tak habis pikir kenapa prestasi besar Turki lolos ke perempat final Euro 2008 harus memakan korban. Usai menang 3-2 atas Rep. Ceko yang lebih diunggulkan di partai terakhir penyisihan Grup A, euforia kemenangan ternyata ada yang berujung pada petaka. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: June 20, 2008, 7:54 pm | No Comments »

[Jangan mudah mencibiri orang kaya. Seakan-akan mereka semua tak punya hati dan hanya mengejar keuntungan semata. Terimalah… memang ada orang yang berhak dihargai lebih karena keistimewaannya. Bukan karena serakah dan atau menghalalkan segala cara.]

Kami punya seorang kawan yang sejak SMU memang brilian. Juara kelas tak pernah lepas dari genggamannya. Meski tak terlalu cemerlang di bangku kuliah, belakangan kariernya melaju pesat. Meninggalkan rekan-rekan seangkatannya dengan kecepatan yang tak bisa ditandingi siapapun. Gaji sudah lebih dari dua digit, mengendarai mobil termewah yang pernah kami bayangkan, berkantor di gedung tinggi dengan fasilitas wah.

“Dia memang benar-benar beruntung,” celetuk seseorang dalam sebuah reuni. “Bagaimana nggak sukses? Dia pandai me-lobby orang untuk memberinya pekerjaan yang lebih baik,” sambut yang lain. “Bayangkan, dalam 10 tahun dia sudah berpindah lebih dari 4 kali. Pantas saja kariernya cepat maju. Dasar kutu loncat,” timpal yang lain dengan nada tak senang. Cemburu tepatnya.

Padahal, kalau dipikir-pikir, tak ada yang salah dengan kawan seangkatan kami itu. Adalah hak setiap orang untuk mencari dan menemukan yang terbaik dalam hidupnya. Bahwa hal itu berarti karier bagus, keluarga harmonis, hidup serba berkecukupan - sama sekali tak ada yang salah. Apalagi kami tahu dia memang pintar, supel bergaul, dan pandai meyakinkan orang. Kemampuan yang - kalau mau jujur - tak semuanya kami miliki sehingga wajar jika kami tertinggal jauh.

Sia-sia mengumbar rasa iri dengan mencoba mencari sisi salah kawan kami itu. Sama tak bergunanya dengan mencoba menggugat keputusan Luiz Felipe Scolari yang tiba-tiba saja sudah ditunjuk menjadi manajer baru Chelsea. Begitulah yang tengah terjadi hari-hari ini - saat sejumlah kolumnis dan pemberitaan berusaha menyudutkan moralitas pelatih senior yang kini tengah menjalankan tugas memimpin timnas Portugal merengkuh piala bergengsi pertama dalam sejarah sepak bola negeri itu. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: June 17, 2008, 11:45 pm | 1 Comment »

« Previous Entries