“Sadar nggak sih ama yang lu lakuin selama ini?” sentak seorang karib kepada sohibnya suatu kali. “Apa lu nggak nyadar berapa orang yang lu sakiti dengan kelakuan minus lu itu? Apa nggak cukup semua daftar korban yang kalau dideretin bisa lebih dari selembar kwarto?”

Aha… ternyata obrolan dua lelaki itu tak jauh dari soal wanita. Sang karib memprotes kebiasaan buruk sohibnya yang suka gonta-ganti pacar - mencoba berempati para mantan yang diasumsikan pastilah sakit hati. Setahu saya, dia bukan playboy. Tapi, kalau ukurannya lama pacaran, kawan kami ini terbilang penyuka short relation. Maksudnya, baru sebentar lantas segera putus. Nyambung lagi, putus lagi. Begitu seterusnya.

Mau tahu jawabannya? Begini… “Gue memang bukan malaikat,” katanya sambil mengisap rokok dalam-dalam. “Tapi, gue pengen banget hanya menikah sekali. Gue tahu gue nggak gampang dipuaskan. Maka, gue jadikan masa pacaran untuk benar-benar mengenal calon gue. Kalau nggak cocok ya lebih baik putus. Gue merasa lebih baik gonta-ganti pacar sekarang daripada selingkuh kalau sudah merit nanti.”

Alasan yang masuk akal. Baginya, sebuah perkawinan ibarat medan laga yang sesungguhnya. Pacaran adalah masa berlatih sebelum benra-benar bertempur. Lebih baik berdarah-darah saat latihan, tapi menang gilang-gemilang ketika maju ke medan laga yang sesungguhnya. Tapi, sayang, tak banyak kita yang bisa menerima pendarahan saat berlatih. Kebanyakan kita merasa harus selalu menang di setiap saat.

Lihatlah AS Roma yang mendapat hujan kritik dalam masa pra-musim kali ini. Kalah dari Steau Bucharest, imbang dengan AS Monaco, dan hanya menang tipis atas Al-Ahly, Mesir dianggap bukan cara bersiap yang ideal. Apalagi ketika gawang Roma kebobolan 5 gol saat beruji coba melawan Tottenham Hotspur. Apapun alasannya, tak bisa Luciano Spalletti menutup telinga dari raungan alarm yang dibunyikan suporter dan pers Italia. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: August 14, 2008, 12:33 am | 1 Comment »

[Kala sukses, sekonyong-konyong semua menjadi benar. Sebaliknya, saat gagal, semua tiba-tiba menjadi salah. That’s life. Just accept it.]

“Apa-apaan ini!” murka bos besar kami. “Kayak anak kemaren sore aja! Sejak kapan kantor ini memproduksi barang rongsokan seperti ini? Kalau tidak niat kerja, bilang sekarang! Jangan banyak alasan! Kalau kita berani menjual barang sebobrok ini, bersiaplah cari pekerjaan dan kantor baru! Kita semua akan segera jadi pengangguran!!!”

Kami semua hanya bisa diam. Tertunduk. Mendengarkan saja pasrah segala semprotan yang diakhiri dengan nada tinggi dari orang yang paling berkuasa di kantor kami itu. Tak peduli dalam hati kami bersungut-sungut karena merasa sudah menjalankan semua dengan baik dan benar, faktanya barang yang keluar di pasar memang jauh di bawah standard. Sia-sia kami ngotot betapa kami sudah berusaha maksimal.

“Kita terima saja. Hasil kerja kita kali ini memang payah sekali. Tidak ada orang yang mau peduli dengan segala argumentasi dan pembelaan kita. Ada saatnya semua menjadi tidak benar, apalagi jika hasilnya memang mengecewakan. Mari kita balas dengan memproduksi yang lebih bagus. Percayalah, semua akan menjadi benar dengan sendirinya,” kata ketua regu kami mengembalikan semangat kami yang sudah berada di titik nadir.

Hari-hari ini sedikit sekali yang ingat pada penampilan spektakuler Belanda yang amat sangat perkasa di penyisihan Grup C Euro 2008. Berada di “The Group of Death” bersama Perancis, Italia, dan Rumania - anak asuh Marco van Basten ternyata sanggup melenggang mudah. Dengan total 9 gol yang dikemas ke gawang tiga lawan yang terbilang tak enteng itu - dan hanya kebobolan 1 gol - sontak meroketkan reputasi tim muda itu sebagai favorit juara yang diprediksi bakal sulit ditundukkan. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: June 24, 2008, 12:16 am | No Comments »

19  Jun
Awas kesandung…

[Hidup memang sebaiknya selalu melihat ke depan. Tapi, awas, tanpa pijakan yang kokoh pada kekinian, tiada pernah kita bakal sampai ke tujuan.]

“Aku harus bisa!”

Dengarkan baik-baik, seberapa kerap kita menyerukan kalimat penyemangat itu untuk diri kita sendiri? Acap kali - entah sekadar dalam gumaman atau disertai pekikan dari hati. Sebagai penanda tekad yang berkobar-kobar. Stumulus yang seringkali amat jitu untuk mencapai apa yang kita inginkan - dengan segala daya kemampuan yang ada.

Seorang kawan mengeluh kariernya tak kunjung menanjak. Padahal, dia mengaku sudah menyiapkan segalanya sejak jauh-jauh hari. Terutama dengan bekal pendidikan tinggi yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Tak sekadar sekolah, kawan yang selalu menyabet gelar terbaik di setiap level yang dilewatinya itu tak sedikit pun membuang-buang waktunya untuk bersantai. Belajar, belajar, dan belajar.

“Aku pikir dengan menjadi pintar bakal menjamin kesuksesan seseorang,” tuturnya sambil menerawang. Jauh… entah ke mana. “Waktuku habis untuk sekolah, mengikuti banyak les dan kursus, serta belajar dan mengerjakan tugas. Aku jarang sekali bermain dengan teman-teman, apalagi dugem seperti anak sekarang.”

Baik. Benar. Tidak salah. Tapi, belakangan dia sadar betapa tekadnya mempersiapkan hari depan yang cemerlang tak otomatis membuat mimpi indahnya itu terwujud. Kekakuan sikap karena kurang berinteraksi dalam pergaulan sosial, sempitnya wawasan gara-gara merasa sayang membuang waktu untuk membaca informasi, keterampilan kerja yang pas-pasan akibat merasa tak perlu aktif dalam organisasi apa pun menjadi sederet kekurangan yang sulit diterima di lingkungan kerja profesional.

“Aku terlalu melihat ke depan. Aku kehilangan kesempatan besar karena tak hidup pada saat itu,” rutuknya dalam penyesalan mendalam. Sayang, Raymond Domenech tak bisa sebijak kawan saya itu. Pelatih timnas Perancis yang sarat kontroversi itu masih saja tenggelam dalam harapannya bahwa di depan sana ada masa gilang-gemilang bagi tim asuhannya. Dia lupa, masa depan harus diraih dengan meletakkan fondasi yang kokoh. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: June 19, 2008, 4:13 am | No Comments »

17  Jun
The battle of life

[Hidup adalah perjuangan… Bukan sekadar dalam pesan iklan, tapi sungguh ada dalam tiap detik tapak hidup kita… Yang dengan sendirinya akan terapresiasi tanpa perlu uang miliaran rupiah kampanye media…]

“Hidup adalah perjuangan”. Begitu seorang pemimpin partai politik di negeri ini memenuhi ruang iklan di banyak media. Tak jelas benar sebenarnya apa pesan yang diusung tokoh itu - kecuali bahwa di setiap jenis iklan selalu memunculkan sosoknya sendiri sebagai bagian utama dari visualisasi iklan tersebut.

Sebaris kata di awal tulisan itu memang terkesan heroik. Bukankah hidup memang sekumpulan pilihan yang berujuang pada perjuangan untuk survive? Dan, betapa kita amat sangat mudah memberi simpati kepada underdog yang mampu mengejar mimpinya di langit ketujuh dengan segala ketidakberdayaan dan ketidakidealannya? Makin dramatis backround dan prosesnya, makin tersimpati kita karenanya.

Turki jelas bukan unggulan di Grup A Euro 2008. Sejak hasil undian diumumkan, peta kekuatan di grup ini menjagokan duet Portugal dan Rep. Ceko sebagai favorit untuk lolos ke babak perempat final sebagai juara dan runner up grup. Ramalan hampir menjadi kenyataan di partai hidup-mati tim asuhan Fatih Terim itu. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: June 17, 2008, 12:26 am | No Comments »

[Bisakah kita selalu di atas? Mungkinkah kita selalu di bawah? Bisa. Mungkin. Tapi, biasanya, hidup  ibarat putaran yoyo… turun, naik, turun, naik… Sayang, kita kerap tak terima saat terjepit di bawah.] 

“Dasar kapitalis!” murka seorang kawan seusai menghadiri rapat evaluasi tahunan. “Sedikit saja ada angka merah, mata mereka langsung mendelik menelanjangi kesalahan orang. Mereka ngerti bisnis nggak sih? Ekonomi sedang lesu akibat daya beli turun karena masyarakat masih kaget dengan kenaikan harga BBM dan nyaris seluruh barang di pasaran. Maunya kok untung terus…”

Di tempat kerja kawan saya itu, evaluasi memang nyaris identik dengan untung atau rugi. Indikator utama adalah seberapa tinggi angka penjualan dan keuntungan yang diperoleh. Soal bagaimana mencapainya, silakan dipikirkan sendiri karena bukan urusan board. Kawan saya itu, misalnya, tetap terkena teguran keras karena berada dalam posisi merah meski tahun lalu masuk kategori unit yang sangat berprestasi. 

“Baru beberapa bulan lalu mereka memuji tim gue setinggi langit karena mampu melewati target. Bahu gue ditepuk-tepuk dengan senyum lebar. Sekarang boro-boro ditepuk, disalamin aja enggak. K*****T! Gue malah ditanya-tanyain kayak nggak ngerjain apa-apa sampai angkanya bisa merah begitu. Kayaknya yang gue capai kemaren-kemaren sama sekali nggak ada artinya buat mereka.”

Suka atau tidak, yang paling penting bagi kebanyakan orang adalah hari ini. Tak peduli kemarin atau esok akan menjadi baik, kalau hari ini kita dinilai jelek ya seperti itulah penilaian pihak lain kepada kita. Semarah apa pun kita mereaksinya, tak lantas dengan mudah akan mengubah keadaan. Kadang, apa yang menurut kita sudah baik belum tentu dianggap cukup oleh orang lain. 

Marco Materazzi datang ke Euro 2008 dengan koleksi gelar Piala Dunia 2006 di Jerman dan tiga perisai scudetto yang diraih bersama Inter Milan. Tapi, semua prestasi gemilang itu tak membuat bek jangkung ini secara otomatis mendapat satu tempat inti di timnas Italia. Untuk kesekian kalinya pemain yang dikenal sangat berapi-api ini harus berjuang keras untuk sekadar bisa bermain di turnamen akbar. “Saya tahu kemampuan saya, tapi memang tidak ada kepastian saya bakal bermain (di Euro 2008),” akunya jujur. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: June 9, 2008, 3:23 am | No Comments »

01  May
Mengelola aib

Karikatur RonaldoKita semua pasti pernah khilaf. Berbuat salah – entah disengaja atau tidak. Tapi, tentulah tidak semua kita pernah merasakan bagaimana perih pedih didera ketakutan akibat sang alpa. Sebuah fase – menurut para pelakunya – yang sungguh membuat depresi dan frustrasi. Membuat kesalahan saja sudah berat, apalagi dibumbui baying-bayang risiko besar sebagai efek peristiwa yang biasanya terlambat kita sesali itu.

Bagi kita yang berstatus orang biasa alias warga kebanyakan mungkin sedikit penyimpangan tak mengapa. Lain soal bagi mereka yang dipercaya menjadi sosok sentral dalam komunitasnya. Entah itu pejabat, selebritis, atau tokoh organisasi. Nama baik, citra bersih, reputasi terhormat kadang menjadi segala-galanya bagi public figure itu. Sedikit saja tercoreng, kerapkali berarti kemunduran atau bahkan kematian kecemerlangan mereka. Meredupkan segala kebenderangan yang terpancar dari sosok jati diri.

Itu sebabnya kenapa hari-hari ini Ronaldo merasa perlu menutup diri dan hidupnya untuk sementara waktu usai ulahnya menjadi berita utama media-media sekolong jagat. Mengunci diri di rumah, menolak komunikasi dengan pihak luar, membatalkan dua appoinment tampil di acara televisi lokal yang telah disepakati jauh-jauh hari sebelumnya. Alasan resmi yang dipublikasikan adalah Ronaldo memerlukan waktu sendiri untuk melanjutkan sesi fisioterapi. Padahal, sesungguhnya, striker AC Milan itu tengah berupaya memulihkan mentalnya. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: May 1, 2008, 12:34 am | 3 Comments »

22  Apr
Kanker kehidupan

Raul dan istriDokter mengatakan hidupnya sudah tinggal sebentar lagi. Sel-sel kanker telah menggerogoti seluruh tubuhnya. Menjalar ke mana-mana, termasuk ke bagian-bagian vital tubuhnya. Entah sudah berapa macam obat yang ditelannya, termasuk terapi kemoterapi yang luar biasa menyakitkan - dan sejumlah pengobatan alternatif yang dengan antuasias dijalaninya serta bergunung-gunung doa yang dipanjatkannya.

Tapi, tak sedikit pun kemajuan didapatnya. Gadis muda yang hanya bisa terbaring lemah di pembaringan, nyaris tanpa masa depan dan keceriaan seperti layaknya wanita seusianya. Adakah dia menyerah? Di satu sisi dia menyadari betapa hanya mukjizat yang bisa menjadikannya normal kembali, namun di lain sisi dia tak pernah lelah menjalani segala demi kesembuhannya.

“Aku mungkin tidak akan pernah sembuh,” ucapnya lirih di pembaringan yang telah didiaminya berbulan-bulan. “Waktuku mungkin tinggal sebentar lagi. Tapi biarlah kuisi hari-hariku dengan semua obat dan terapi ini. Harapanku memang sudah sangat tipis, tapi siapa tahu Tuhan akan mengasihaniku jika Dia melihatku berusaha melawan penyakit ini.”

Diam-diam bulu kuduk saya merinding. Sederet kalimat keputusasaaan yang toh masih menyeruakkan semangat untuk terus hidup. Meski lentera harapan kian meredup, dia menolak untuk menyerah. Tidak menyalahkan sang lentera, namun justru memacu diri untuk membujuk sang lentera mengirimkan sinarnya…

Dalam skala yang rasanya jauh berbeda, Raul Gonzalez pun kini menyadari betapa harapannya untuk tampil di Piala Eropa 2008 amatlah sangat tipis. Namun, sebagai pejuang sejati, kapten Real Madrid ini menolak untuk menyerah - apalagi menyalahkan pihak lain atau keadaan - sebagai reaksi atas mimpinya yang nyaris kandas itu. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: April 22, 2008, 1:11 am | 1 Comment »

09  Apr
Unswallowable

Sang bijak berkata, “Tuhan tidak pernah memberi cobaan di luar kemampuan manusia.” Hmm… petuah yang sangat dalam maknanya sebagai penyemangat kita untuk tak lelah mengatasi kesulitan demi kesulitan yang muncul tiba-tiba merintangi perjalanan. Tapi, maaf - tanpa bermaksud mengesampingkan filosofi yang sangat positif itu, ada kalanya sesuatu menjadi terasa sangat berat dan tak tertanggungkan.

Setegar apapun Arsene Wenger berusaha menerima fakta pahit tersingkir dari perempatfinal Liga Champions kemarin, tetap saja dia merasa semua itu terlalu berat untuk diterima. Dua insiden yang menurutnya layak mendapat ganjaran pinalti menjadi ujung pangkal kekecewaannya yang sangat dalam.

Di first leg, sedikit tarikan Dirk Kuyt di kotak penalti Liverpool yang membuat Aleksandr Hleb terjatuh dan kehilangan bola dalam posisi berpeluang mencetak gol dianggap bukan pelanggaran oleh wasit Pieter Vink. “Saya melihat kembali rekaman televisi insiden itu dan menyatakan itu seharusnya dihukum tendangan penalti,” kata Wenger menyesali keputusan wasit.

Pahitnya, di second leg, insiden serupa - senggolan sedikit Kolo Toure terhadap Ryan Babel di kotak penalti Arsenal - langsung berbuah hukuman fatal. Wasit Peter Frojdfeldt tanpa basa-basi menunjuk titik putih dan membuahkan skor 3-2 untuk keunggulan The Reds. Anfield menggila ketika Babel mencetak gol keempat yang meloloskan tuan rumah dengan agregat 5-3 ke semifinal untuk menghadapi Chelsea.

“Kami merasakan kekecewaan yang amat sangat dan merasa diperlakukan tidak adil,” lanjut Sang Profesor. “Saat ini sungguh waktu yang sangat sulit bagi kami karena semua sangat down. Semua sudah berakhir bagi kami. Pahitnya, itu karena keputusan wasit yang tidak adil. Dua keputusan tidak adil dalam dua pertandingan sungguh berat untuk diterima. Kami harus menerimanya. Kadang kita memang harus ‘menelan’ (swallow) sesuatu yang ‘tidak bisa ditelan’ (unswallow).”

Memang tidak mudah menerima sesuatu yang tidak bisa diterima. Tapi, bahkan penegasan Wenger di atas makin menguatkan frase bijak di atas… “Tuhan tidak pernah memberi cobaan di luar kemampuan manusia.”

Semua terserah kita: mau menelannya dan hidup dengan segala upaya untuk menerimanya - atau kekeuh merasa tak pantas menjalani itu sambil terus merutuki ketidaksempurnaan itu…

It’s just up to us

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: April 9, 2008, 9:22 pm | No Comments »

« Previous Entries