“Sadar nggak sih ama yang lu lakuin selama ini?” sentak seorang karib kepada sohibnya suatu kali. “Apa lu nggak nyadar berapa orang yang lu sakiti dengan kelakuan minus lu itu? Apa nggak cukup semua daftar korban yang kalau dideretin bisa lebih dari selembar kwarto?”
Aha… ternyata obrolan dua lelaki itu tak jauh dari soal wanita. Sang karib memprotes kebiasaan buruk sohibnya yang suka gonta-ganti pacar - mencoba berempati para mantan yang diasumsikan pastilah sakit hati. Setahu saya, dia bukan playboy. Tapi, kalau ukurannya lama pacaran, kawan kami ini terbilang penyuka short relation. Maksudnya, baru sebentar lantas segera putus. Nyambung lagi, putus lagi. Begitu seterusnya.
Mau tahu jawabannya? Begini… “Gue memang bukan malaikat,” katanya sambil mengisap rokok dalam-dalam. “Tapi, gue pengen banget hanya menikah sekali. Gue tahu gue nggak gampang dipuaskan. Maka, gue jadikan masa pacaran untuk benar-benar mengenal calon gue. Kalau nggak cocok ya lebih baik putus. Gue merasa lebih baik gonta-ganti pacar sekarang daripada selingkuh kalau sudah merit nanti.”
Alasan yang masuk akal. Baginya, sebuah perkawinan ibarat medan laga yang sesungguhnya. Pacaran adalah masa berlatih sebelum benra-benar bertempur. Lebih baik berdarah-darah saat latihan, tapi menang gilang-gemilang ketika maju ke medan laga yang sesungguhnya. Tapi, sayang, tak banyak kita yang bisa menerima pendarahan saat berlatih. Kebanyakan kita merasa harus selalu menang di setiap saat.
Lihatlah AS Roma yang mendapat hujan kritik dalam masa pra-musim kali ini. Kalah dari Steau Bucharest, imbang dengan AS Monaco, dan hanya menang tipis atas Al-Ahly, Mesir dianggap bukan cara bersiap yang ideal. Apalagi ketika gawang Roma kebobolan 5 gol saat beruji coba melawan Tottenham Hotspur. Apapun alasannya, tak bisa Luciano Spalletti menutup telinga dari raungan alarm yang dibunyikan suporter dan pers Italia. Read the rest of this entry »

