[Sekali tertoreh, tak akan pernah dia tertutup dengan sempurna. Kutunggu waktuku untuk membalaskannya dengan sempurna. Entah kini atau esok kelak…]
Dua orang bersaudara tengah bertengkar. Tak usahlah disebut pangkal soalnya. Yang pasti, menyita sekian banyak energi untuk beradu argumentasi, bertukar bentakan, pun berebut gebrakan meja. Suasana panas tak juga kunjung mereda. Sampai keluarlah sebuah kalimat penutup yang ternyata menjadi awal perpisahan berkepanjangan.
“Ini rumahku!” teriak sang pemilik rumah. “Tidak kubiarkan seorang pun membentak-bentak di dalam pekaranganku. Sekarang pergilah, keluar dari rumah ini dan jangan pernah lagi berani menginjakkan kakimu di sini!” Ending sempurna untuk mengakhiri perselisihan, namun sekaligus perfect start untuk sebuah pembenaran kebencian berkepanjangan. Tanpa akhir, tanpa jembatan, tanpa maaf…
Sang lawan pertengkaran tiba-tiba diam. Mengeras, menunjukkan rasa marah yang luar biasa dengan air muka merah padam. Dia berbalik tanpa suara, membawa segumpal marah bercampur dendam yang tiada cara membasuhnya. Hanya tekad untuk membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih kasar dan akibat yang lebih pedih. Entah kapan…
Kemarahan punya banyak wajah. Ibarat luka, ada yang cuma tergores, tapi juga ada yang butuh waktu tahunan untuk sembuh. Ada yang akhirnya bisa seratus persen pulih, ada yang meninggalkan bekas - terlihat maupun tidak. Bekas itulah yang kini mendasari keputusan Clarence Seedorf menolak panggilan Marco van Basten untuk memperkuat Belanda di Piala Dunia 2008. Read the rest of this entry »