[Sekali tertoreh, tak akan pernah dia tertutup dengan sempurna. Kutunggu waktuku untuk membalaskannya dengan sempurna. Entah kini atau esok kelak…]

Dua orang bersaudara tengah bertengkar. Tak usahlah disebut pangkal soalnya. Yang pasti, menyita sekian banyak energi untuk beradu argumentasi, bertukar bentakan, pun berebut gebrakan meja. Suasana panas tak juga kunjung mereda. Sampai keluarlah sebuah kalimat penutup yang ternyata menjadi awal perpisahan berkepanjangan.

“Ini rumahku!” teriak sang pemilik rumah. “Tidak kubiarkan seorang pun membentak-bentak di dalam pekaranganku. Sekarang pergilah, keluar dari rumah ini dan jangan pernah lagi berani menginjakkan kakimu di sini!” Ending sempurna untuk mengakhiri perselisihan, namun sekaligus perfect start untuk sebuah pembenaran kebencian berkepanjangan. Tanpa akhir, tanpa jembatan, tanpa maaf…

Sang lawan pertengkaran tiba-tiba diam. Mengeras, menunjukkan rasa marah yang luar biasa dengan air muka merah padam. Dia berbalik tanpa suara, membawa segumpal marah bercampur dendam yang tiada cara membasuhnya. Hanya tekad untuk membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih kasar dan akibat yang lebih pedih. Entah kapan…

Kemarahan punya banyak wajah. Ibarat luka, ada yang cuma tergores, tapi juga ada yang butuh waktu tahunan untuk sembuh. Ada yang akhirnya bisa seratus persen pulih, ada yang meninggalkan bekas - terlihat maupun tidak. Bekas itulah yang kini mendasari keputusan Clarence Seedorf menolak panggilan Marco van Basten untuk memperkuat Belanda di Piala Dunia 2008. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Bara Hati. Date: May 19, 2008, 2:31 am | 2 Comments »

13  May
Memarahi uang

[Buat apa melawan kekuasaan uang yang faktanya bisa membeli apa saja. Sebutkan nilaimu, akan kubeli berapa pun yang kau minta!]

“Pertimbangkanlah sekali lagi masak-masak. Please…” begitu pinta saya kepada seorang rekan kerja yang meminta pamit. “Kami memang tidak bisa menandingi penawaran tinggi perusahaan besar yang memintamu bergabung. Tapi, ingatlah saat kita bahu-membahu membangun semua ini menjadi seperti sekarang. Mimpi-mimpi besar kita yang belum semua bisa terwujud. Tidakkah kamu sayang meninggalkan bangunan yang kita rintis bersama sejak awal dengan segala tetesan keringat dan air mata di tengah perjalanan?”

Kehilangan rekan kerja andalan bukan perkara mudah untuk diterima. Apalagi jika alasannya pergi terbilang sangat sederhana, “Ada tawaran yang lebih baik, Mas”. Realita yang kerap tak mempan dihindari dengan segala macam romantisme, idealisme, nilai-nila yang pernah sangat kuat didekap. Ketika seminggu kemudian karib seperjalanan kembali datang menghadap, saya tak bisa berbuat lain kecuali berusaha mengusik nuraninya.

“Adakah yang bisa saya lakukan untuk menahanmu? Katakan. Saya akan berusaha sekuat tenaga memenuhi permintaanmu,” tanya saya memelas. Tanya yang berjawab amat tegas tanpa kemungkinan diralat, “Maaf, tidak ada, Mas. Saya tahu perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan saya. Mari bersikap realistis. Saya juga butuh penghidupan yang lebih layak. Bukan sekadar nilai-nilai dan prinsip-prinsip mulia. Saya tidak bisa menolak tawaran terbaik yang pernah mendatangi saya.”

Ya, tawaran terbaik yang sulit ditolak. “Alexander Hleb tengah menyiapkan kepindahan paling serius dan terpenting dalam hidupnya. Dia akan meninggalkan Arsenal meski klub itu menawarkan perpanjangan kontrak yang lebih tinggi nilainya. Hanya waktu yang akan menjawab apakah itu salah atau benar. Sekarang tak ada jalan untuk kembali,” jelas Nikolai Shpilevsky, agen Hleb, seperti dikutip Harian Pressball, Belarusia. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Bara Hati. Date: May 13, 2008, 12:06 am | 1 Comment »

04  Apr
Mengumbar cemburu

RASA KESAL adalah warna emosi yang amat sangat manusiawi. Semua kita pasti pernah mengalaminya. Terutama di saat sesuatu berjalan tidak sesuai harapan kita atau harus menerima realita yang tak sanggup dimiliki. Saat sebuah mobil Ferrari sport melintas pelan di depan saya, misalnya, spontan bibir yang belum pernah merasakan bangku sekolah ini melontarkan reaksinya. “Yang namanya mobil balap itu ya harusnya buat membalap. Mana ada mobil balap cuma buat menuh-menuhin jalanan macet. Dasar orang kaya! Senengnya kok pamer. Huh!”

Padahal, apa urusannya saya dengan Ferrari mahal dan pengemudinya itu? Bisa jadi dia hanya supir yang sedang disuruh majikannya melakukan sesuatu. Atau kebetulan mobil utama sang pemilik - karena biasanya orang yang bisa beli Ferrari pastilah punya lebih dari satu mobil di garasinya - sedang mogok semua sehingga terpaksa mengeluarkan koleksi kesayangannya itu. Atau memang kebetulan saja sang empunya sedang ingin memanaskan mesin mobil supaya tidak rusak - meski terpaksa harus menghadapi risiko kemacetan luar biasa di jalanan Jakarta.

Buat apa juga coba saya usil mengomentari keberadaan Ferrari itu? Pastilah saya bukan tipe dermawan yang rela menyumbangkan uang seharga Ferrari itu untuk didermakan kepada kaum miskin - andai saya memang punya duit sebanyak itu. Yang lebih tepat mungkin karena saya cemburu dan iri hati tidak bisa memiliki mobil seharga miliaran rupiah itu - dan kemudian dengan sinisme berlebihan mengomentarinya yang bukan-bukan.

David Pizarro juga seharusnya tidak perlu ambil peduli dengan gaya Cristiano Ronaldo mengolah bola ketika memperkuat AS Roma menjamu Manchester United di Stadion Olimpico dalam first leg perempatfinal Liga Champions. Di akhir pertandingan, gelandang asal Cile ini mengungkapkan kekesalannya atas atraksi Ronaldo yang dianggapnya tidak perlu dan dianggap sengaja bermaksud mempermalukan lawan. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Bara Hati. Date: April 4, 2008, 11:46 pm | 3 Comments »

02  Apr
Marah zonder maaf

Manusia memang makhluk rentan. Tekanan demi tekanan biasanya membuat kita mudah alpa. Entah dengan tindakan serampangan tanpa pemikiran panjang atau sekadar ucapan singkat yang belakangan terpaksa disesali. Hanya mereka yang tetap bisa mengontrol diri dalam situasi sulitlah yang layak menjadi orang besar.

Melihat sepak terjang Roberto Mancini selama ini, rasanya pelatih Inter Milan tersebut belum pantas mendapat predikat pelatih besar. Sederet tekanan yang menerpanya justru membuatnya terlihat panik dan bingung. Alih-alih menunjukkan kematangannya sebagai pelatih, Mancio - demikian dia disapa - malah bersikap tak ubahnya seorang anak yang lantas ngambek karena mainannya direbut. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Bara Hati. Date: April 2, 2008, 4:10 pm | 1 Comment »

04  Mar
Ruginya punya hati

Kalau Anda merasa punya hati besar, tipe orang yang mengandalkan perasaan dalam bersikap, berhati-hatilah. Selain dalam banyak hal hati kita bisa memberikan bantuan untuk tidak sekadar menyelesaikan persoalan dengan logika, kadang hati kita juga bisa makin membuat runyam suasana. Saat panasnya suasana hati kita melontarkan kata-kata pedas, pun sikap tak patut.

“Orang ini jangan pernah bermain sepak bola lagi!” sergah Arsene Wenger berapi-api. “Melihat Eduardo tergeletak dengan cedera serius sangat sulit diterima para pemain. Kami harap ia cepat kembali. Minimum sampai akhir musim, tapi sepertinya akan lebih lama. Saya merasakan ada ide untuk menghentikan Arsenal dengan cara menendangnya dan itu yang terjadi.” Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Bara Hati. Date: March 4, 2008, 6:06 pm | No Comments »