[Jika kau melepaskan segala, tiada luka yang kan terbuka. Jika kau mempercayai sesuatu, tiada mudah pedih disanggah.]

B******N!!!

Wajahnya mengeras, kedua rahang mengatup, menatap penuh murka yang tak terbayangkan. Nafasnya sesak, menahan luapan amarah di dada yang berdegup tak karuan. Tiba-tiba tangannya mengepal, mengayun, dan melontarkan gelora sang pesakitan, “B*******N!!!”

Umpatan yang mewakili segala rasanya.

Dengan nafas tersengal, sang kalah mengumpat habis-habisan. Entah kepada siapa… Entah untuk apa… Selain karena dorongan pedih yang tak tertanggungkan… “Kalian memang jahanam yang tak tahu malu. Sekian lama kulakukan semua untuk kebaikan kalian, kini dengan semena-mena kalian campakkan begitu saja. Inikah balasan untuk semua keringat yang telah kukucurkan? Inikah bayaran untuk semua derita yang kutanggung? Kalian memang B*******N! Terkutuklah kalian di neraka!”

Kami tahu dunia sang kalah sedang runtuh. Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia memperjuangkan semuanya dari titik terendah hingga sejauh ini. Sekian banyak kerja dilakukannya sepenuh hati dengan sekian risiko yang mau ditanggungnya. Kini, tiba-tiba saja semua itu dianggap tak ada. Sang kalah dianggap tak cukup baik untuk meneruskan upayanya. “Maaf, ada orang lain yang lebih layak,” begitu sang menang menjawabnya enteng.

Sesuatu yang dipegang sekian lama, dipercayai, diperjuangkan dengan segala cara memang berisiko menghadirkan luka pedih nan perih yang tak terperikan rasanya. “Spain was simply better“, begitu tulis koran Bild menanggapi kekalahan Jerman dari Spanyol di final Piala Eropa 2008. Judul yang memang sangat mewakili 90 menit jalannya pertandingan ketika kecepatan Fernando Torres mampu mengalahkan kelambanan Phillip Lahm dan Jens Lehmann. Ketika sekian banyak peluang El Matador terbuang percuma di saat Der Panzer seperti kehilangan daya untuk menandingi.

Kapten tim yang kalah, Michael Ballack, terlihat hanya bisa diam dan berkacak pinggang menunggu penyerahan medali dan piala usai pertandingan yang berat sebelah itu. Wajahnya mengekspresikan kesedihan mendalam - mencoba memahami kenapa untuk kesekian kalinya dia gagal mewujudkan mimpinya memegang, mengangkat, dan meraih piala di kejuaraan bergengsi.

Padahal, dia sudah melawan kondisi tubuhnya yang tidak fit untuk bisa tampil di final - memimpin rekan-rekannya bertarung mati-matian di lapangan. Tak dipedulikannya risiko cedera lebih berat karena memaksakan untuk bermain. Luka di pelipis akibat tandukan lawan juga dikesampingkannya demi sebuah piala yang telah lama diidam-idamkannya. Ternyata semua itu tak cukup untuk menapaki tangga kejayaan. Nyatanya, permainan lawan memang lebih baik. Tak ada yang bisa menyangkal itu.

“Sangat wajar kami merasa sangat kecewa setelah berjalan sejauh ini,” katanya begitu mendarat di negeri asalnya. “Begitu banyak hari, minggu, bulan kami habiskan untuk bekerja keras - termasuk perjalanan panjang di babak kualifikasi. Lantas berjuang lagi untuk sampai di babak final hanya untuk kalah. Sangat pahit rasanya jika Anda kalah dalam sebuah final. Itu sangat jelas.”

Kegetiran makin terasa karena kapten Jerman itu sudah beberapa kali mengalami kekalahan di partai puncak. Padahal, umurnya sudah makin mendekati senja dan para pengamat mengatakan ini mungkin final besar terakhir yang bisa diikuti Ballack sebelum harus gantung sepatu nantinya. Enam tahun lalu, dia urung memperkuat Jerman yang kalah di final Piala Dunia 2002 dari juara dunia Brasil. Di tingkat klub, dua kali dia merasakan pahitnya kehilangan gelar yang sudah di depan mata: kalah dari Real Madrid saat membela Bayer Leverkusen dan dijungkalkan Manchester United saat berbaju Chelsea - dua-duanya di partai puncak Liga Champions.

Ballack kembali harus bertanya pada dirinya sendiri. Akankah dia sanggup mengatasi kepedihan itu dan kembali bertarung untuk meraih mimpi besarnya memeluk gelar bergengsi untuk klub dan negaranya? Atau memilih mundur dengan melupakan mimpi itu sehingga tak ada lagi kepedihan yang harus dirasakannya jika kelak punya kesempatan tampil lagi di final sebuah kejuaraan bergengsi?

Sama dengan sang kalah yang kini sedang mempertimbangkan pilihan yang kami ajukan kepadanya. “Tetaplah bertahan dengan segala idealisme itu dan tunjukkan bahwa kamu memang layak untuk dipilih atau lupakanlah segala mimpi kesempurnaanmu selama ini dan jadilah sama buruknya seperti mereka yang kini mencampakkanmu…”

Tak akan ada perih jika dia memilih bekerja seadanya, menurunkan standarnya sendiri, dan sekadar mengikuti kemauan para pimpinannya. Tak akan ada yang menyakitinya jika dia menganggap semua biasa-biasa saja. Tapi, sanggupkah dia melepas keteguhan hati, kekakuan prinsip, dan pembelaan kepada yang benar seperti yang selama ini dipercayai, diperjuangkan, dan dihidupinya?

Sebuah pilihan sulit bagi sang kalah.

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: July 1, 2008, 12:23 am |

One Response

  1. yonnie yanuar Says:

    memang kekalahan selalu menyakitkan,tapi kalo kita sudah bekerja keras untuk raih kejayaan, rasanya tak perlu larut dlm duka b-kepanjangan, toh kita sudah ikhtiar,Tuhanlah yang menentukan… yg penting bgmn kita menyikapinya….. broer

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.