[Kita semua berhak menikmati jerih payah mendaki ke puncak. Tapi, tak ada salahnya menimbang mereka yang di bawah.]
Pernikahan adalah momen spesial yang diharapkan hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Wajar jika nyaris semua kita menginginkan upacara suci itu berjalan hikmat, sakral, sekaligus penuh kesan. Ketika peradaban menawarkan kemungkinan untuk makin customized, berlomba-lombalah kita merancang pesta bakal abadi melekat dalam benak. Makin unik sebuah gelaran, makin besar kesan yang ditinggalkannya.
Tidak ada yang salah dengan keinginan pasangan Adinda Bakrie dan Seng Hoo Ong menggelar rangkaian upacara dan pesta yang semeriah mungkin untuk meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan suci. Segala hal yang berhubungan dengan acara itu - mulai dari undangan, cindera mata, akad nikah, respesi, dan private party - dirancang sesuai dengan kelas mereka sebagai salah satu anggota komunitas sosialita (kalangan papan atas) negeri ini. Bahkan, gosipnya, sampai mendatangkan nama-nama tenar dari manca negara demi memastikan sebuah acara yang super prima.
Menurut berita yang beredar di sejumlah media, total dana yang dikeluarkan mencapai puluhan miliar rupiah - meski kemudian mendapat bantahan keras dari pihak keluarga. Sejumlah media meng-claim bahwa inilah pesta pernikahan termahal di negeri ini. Kalaupun benar, tak ada yang salah dengan biaya semahal itu dan pesta semeriah itu serta undangan seekslusif itu. Toh keluarga Bakrie memang dikenal sebagai penguasa sukses yang cukup memiliki uang untuk membiaya semua itu untuk menjadi nyata.
Masalahnya, ada sementara kalangan yang dengan sinis menyebut pernikahan itu seolah-olah seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain. Tak lain karena adanya fakta bahwa persoalan bencana di Desa Porong, Sidoardjo yang terkait erat dengan keberadaan PT Lapindo Brantas melakukan eksplorasi di daerah itu belumlah tuntas dan masih menjadi kontroversi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
Berpikir naif dan bodoh, akan lebih baik rasanya jika dana miliaran rupiah itu digelontorkan untuk membantu kesulitan yang terus menimpa warga desa Porong dan sekitarnya. Sebuah tuntutan sosial yang masuk akal - meski tidakada dasar hukumnya mengingat pengadilan telah memvonis PT Lapindo Brantas tidak terbukti bersalah atas terjadinya bencana alam yang amat sangat dahsyat dampaknya tersebut.
Sebagai anggota kerabat Bakrie, Adinda - yang sebenarnya punya kualitas sangat baik sebagai seorang pribadi yang digambarkan taat beragama, punya pergaulan luas, dan menamatkan pendidikan dengan predikat magna cumlaude di negeri Paman Sam - terimbas sentimen negatif di masyarakat. Mau tak mau, pesta sekali seumur hidupnya itu terusik oleh sinisme yang merebak di sejumlah kanal media tanpa bisa dibendung. Padahal, praktis dia tak punya sangkut-paut langsung dengan bencana di Porong.
Suka atau tidak, kadang publik menuntut pertanggungjawaban sosial mereka yang dianggap lebih mampu, lebih mapan, lebih powerfull. Dalam konteks inilah maka belakangan di Italia menyeruak sinisme kepada klub-klub elite Serie-A yang dianggap tidak peduli pada saudara-saudaranya di Serie-B dan Serie-C. Kesuksesan yang mereka sandang sebagai sederet klub terkaya di dunia ternyata tak sanggup menolong kebangkrutan sejumlah klub kecil di negeri spaghetti itu. Read the rest of this entry »