25  Jun
Magis ketiadaan

[Jangan pernah menyesali keterbatasan. Arungilah segala arus yang mengempaskan kita ke tubir jurang. Dan, saat kelokan terakhir terlampaui, kepalkanlah tanganmu! Berteriaklah sekeras-kerasnya! Yes, it’s done!!!]

Bak disambar petir di siang bolong, Dra. Irna Minauli, M.Psi hanya bisa meratap saat diberitahu dokter bahwa buah hatinya mengidap penyakit autis. Iqbal Rahyan, yang kini telah berumur 18 tahun, saat itu belum juga bisa berbicara layaknya teman-teman sebaya dan selalu terlihat ketakutan jika bertemu orang. Ternyata, Iqbal menderita autis yang membuat perkembangannya tidak normal dan menjadi berbeda dengan anak-anak lain.

“Saya menutup diri dan depresi selama setahun,” cerita Irna kepada Tabloid Nova mengenang masa-masa sulitnya. “Saya berhenti ikut pengajian dan arisan. Saya marah pada Tuhan.” Mengetahui orang yang sangat kita sayangi menderita dan diyakini bakal menanggung sekian banyak kesulitan dalam hidupnya tentu membuat kita semua menyalahkan keadaan dan Yang Kuasa. Reaksi yang sangat wajar.

Reaksi serupa juga muncul dari Herniwaty saat mengetahui anaknya, Natrio Catra Yososha atau Osha divonis dokter menderita autis karena ada kelainan otak. Dokter menyarankan untuk tidak memaksa Osha sekolah. Kalau hanya kuat sampai SMP ya jangan dipaksa terus ke SMA dan Perguruan Tinggi. Orangtua mana yang tega melihat anaknya tidak akan pernah bisa menjadi “orang” lewat bangku pendidikan?

“Saya terus menggugat kenapa semua ini bisa terjadi. Dokter kemudian bertanya, apakah saya mau tetap berjalan di tempat, sibuk mencari tahu penyebabnya - atau segera mencari jalan keluar? Akhirnya saya tersadar bahwa harus mencari tahu apa yang harus saya lakukan untuk Osha,” paparnya di tabloid yang sama.

Kini masa-masa suram itu telah lewat. Dengan segala perjuangan, kelelahan, dan air mata - Iqbal dan Osha tumbuh menjadi remaja normal. Iqbal tidak lagi perlu dibantu untuk melakukan aktivitas hariannya. Dia malah akan protes jika ada yang memperlakukannya sebagai orang cacat dan tak mampu. Osha malah membuat banyak orang tercengang karena kini telah lulus ujian saringan masuk Universitas Gadjah Mada - mencoba menggapai cita-citanya menjadi sejarahwan.

Fatih Terim tidak menderita autis. Anak-anak asuhannya semua juga terbilang pemain sepak bola pilihan dari negeri kecil bernama Turki - yang beberapa di antaranya bermain untuk klub-klub elite Eropa. Tapi, mantan pelatih AC Milan itu sadar sekali betapa tim yang dilatihnya bukanlah tim unggulan. “Saya ke sini hanya untuk mengingatkan orang supaya tidak lupa kepada Turki,” kata pelatih berjuluk The Emperor ini.

Langkah pertama dimulai dengan buruk. Dua gol Portugal berujung kekalahan dan membuat publik langsung menempatkan Turki sebagai bakal calon yang tersisih dari Grup A. Apalagi di partai kedua, mereka harus tampil tanpa playmaker andalan Emre Beluzoglu dan bek tangguh Gokhan Zan serta Emre Gungor - yang cedera di partai pertama - melawan tuan rumah Swiss yang berharap tidak kehilangan muka di kandang.

Gol cepat Hakan Yakin membuat Turki terus tertekan di lapangan yang becek karena hujan. Ketika Semih Senturk menyamakan kedudukan di awal babak kedua, orang berpikir hasilnya akan seri. Namun, di masa injury time, Arda Turan melesakkan bola ke gawang lawan, 2-1! Peluang ke perempat final terbuka - asal menang lawan Rep. Ceko. Tugas amat sangat berat harus menaklukkan tim yang secara kualitas lebih baik.

Daftar cedera bertambah dengan bek andalan Tumer Metin masuk ke meja perawatan bersama Ayhan Akman dan Gokdeniz Karadeniz. Tertinggal 0-2 sampai 30 menit menjelang akhir jelaslah bukan kondisi ideal. Namun, entah mendapat kekuatan apa, dalam sisa waktu yang sangat sempit itu tercipta 3 gol spektakuler dari anak-anak Turki. Mengalahkan Rep. Ceko untuk pertama kali dan lolos ke perempat final jelas dalam kondisi tim yang pincang membuat banyak pengamat geleng-geleng kepala.

Masalahnya, sulit memprediksi Turki bisa melewati hadangan Kroasia di babak 8 besar. Apalagi mereka harus tampil tanpa kiper utama Volkan Demirel yang terkena sanksi dua larangan bertanding akibat terkena kartu merah saat terprovokasi pemain Rep. Ceko yang frustrasi. Tanpa kiper utama, tanpa dua bek utama, tanpa playmaker utama, dan tanpa pemain cadangan dengan kualitas setara - hanya keajaiban yang diharapkan.

Toh keajaiban itu datang juga. Gol Ivan Klasnic di menit terakhir langsung dibalas gol Semih Senturk hanya dalam hitungan detik. Dalam adu penalti, kiper Rustu Recber tampil heroik dan menamatkan perlawanan Kroasia. Kini, Fatih Terim sedang dipusingkan dengan minimnya stok pemain. Dia hanya punya sekitar 13 pemain yang siap turun. Bahkan, kabarnya, kiper ketiga mereka disiapkan untuk menjadi pemain di lapangan.

“Kami memiliki gabungan yang baik antara kepercayaan, keinginan kuat, dukungan teknik dan taktik permainan, dan terutama keberanian. Mungkin kami tidak memiliki pemain-pemain papan atas dunia, tapi kami memiliki pemain yang tampil dengan kecerdasan dan hati. Itu sangat penting buat sebuah tim. Saya membutuhkan pemain yang mau melakukan apa saja untuk timnya,” kata Terim panjang lebar.

Kesulitan, keterbatasan, kekurangan bukan keputusan akhir. Dengan hati dan segala kemampuan yang dianugerahkan kepada kita - plus restu dari sang pencipta, tak ada kemustahilan yang tak bisa diraih. “Nothing impossible. Berjuanglah sampai detik terakhir, sampai wasit meniupkan peluit terakhir,” begitu pesan Terim kepada anak asuhnya setiap kali berada dalam bibir jurang kekalahan.

Kalau melihat kekurangan sebagai kata akhir, mungkin Iqbal dan Osha masih akan tetap menjadi anak-anak terbelakang yang hanya akan meminta belas kasihan. Namun, dengan ketabahan luar biasa menembus segala penghalang, Herniwaty dan Irna Minauli mengantarkan buah hati mereka menjadi remaja-remaja berprestasi nan membanggakan.

Sukses yang dicapai dalam gelimang kelebihan tak akan sehebat pencapaian yang diraih dalam segala keterbatasan. Kita semua diundang untuk bergumul dalam keterbatasan kita masing-masing untuk menghasilkan keajaiban-keajaiban kita sendiri…

Yes, we can!

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 25, 2008, 12:25 am |

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.