[Kala sukses, sekonyong-konyong semua menjadi benar. Sebaliknya, saat gagal, semua tiba-tiba menjadi salah. That’s life. Just accept it.]

“Apa-apaan ini!” murka bos besar kami. “Kayak anak kemaren sore aja! Sejak kapan kantor ini memproduksi barang rongsokan seperti ini? Kalau tidak niat kerja, bilang sekarang! Jangan banyak alasan! Kalau kita berani menjual barang sebobrok ini, bersiaplah cari pekerjaan dan kantor baru! Kita semua akan segera jadi pengangguran!!!”

Kami semua hanya bisa diam. Tertunduk. Mendengarkan saja pasrah segala semprotan yang diakhiri dengan nada tinggi dari orang yang paling berkuasa di kantor kami itu. Tak peduli dalam hati kami bersungut-sungut karena merasa sudah menjalankan semua dengan baik dan benar, faktanya barang yang keluar di pasar memang jauh di bawah standard. Sia-sia kami ngotot betapa kami sudah berusaha maksimal.

“Kita terima saja. Hasil kerja kita kali ini memang payah sekali. Tidak ada orang yang mau peduli dengan segala argumentasi dan pembelaan kita. Ada saatnya semua menjadi tidak benar, apalagi jika hasilnya memang mengecewakan. Mari kita balas dengan memproduksi yang lebih bagus. Percayalah, semua akan menjadi benar dengan sendirinya,” kata ketua regu kami mengembalikan semangat kami yang sudah berada di titik nadir.

Hari-hari ini sedikit sekali yang ingat pada penampilan spektakuler Belanda yang amat sangat perkasa di penyisihan Grup C Euro 2008. Berada di “The Group of Death” bersama Perancis, Italia, dan Rumania - anak asuh Marco van Basten ternyata sanggup melenggang mudah. Dengan total 9 gol yang dikemas ke gawang tiga lawan yang terbilang tak enteng itu - dan hanya kebobolan 1 gol - sontak meroketkan reputasi tim muda itu sebagai favorit juara yang diprediksi bakal sulit ditundukkan.

Tapi, begitu tim anak bawang Rusia mampu menampilkan spontanitas permainan yang mematikan - mencetak 3 gol dan hanya berbalas 1 ke gawang Edwin van der Sar, tiba-tiba runtuh semua segala proses sempurna di tiga pertandingan terdahulu. Segala pujian beralih meniup ke arah Guus Hiddink - satu-satunya orang Belanda yang bersenandung riang malam itu menyaksikan keterpurukan negerinya di pentas bergengsi itu.

Sebaliknya, segala salah ada di pundak yuniornya, Van Basten. “Dua tahun pertama (sejak 2004), kami melewati babak kualifikasi dengan sempurna dan mampu lolos dari Grup Maut di Piala Dunia 2006 sebelum dihentikan Portugal. Dua tahun kedua (sejak 2006), kami kesulitan di kualifikasi, tampil bagus di Grup Maut di Piala Eropa 2008, namun kembali tersandung oleh Rusia.”

“Saya sangat terkejut melihat betapa lemahnya daya tahan fisik para pemain,” terang Van Basten keheranan. Keputusannya menurunkan tim kedua di partai terakhir penyisihan grup, dan mengistirahatkan nyaris semua pemain utama, justru membuat mereka kehilangan touch-nya. “Di penyisihan grup, kami bermain dengan penuh antusiasme. Sesuatu yang tidak terlihat saat melawan Rusia.”

Ya, semua jadi serba salah. Sama halnya dengan Italia yang sekali lagi harus menjalani siklus buruk selepas berjaya di Piala Dunia. Setelah menjuarai Piala Dunia 1982,mereka tak lolos kualifikasi Euro1984. Peringkat ketiga Piala Dunia 1990 diikuti dengan kegagalan tampil di Euro 1992. Sukses menembus final Piala Dunia 1994 justru berbuah gagal lolos di penyisihan grup Euro 1996. Kini, usai dua tahun lalu menjuarai Piala Dunia, mereka terjengkang dari Spanyol di Euro 2008.

“I just don’t have a reason,” kata Roberto Donadoni, pelatih muda Italia yang seketika berada di tubir jurang pemecatan. “Kami hanya kalah akibat adu tendangan penalti. Hasil akhir itu tak bisa dipakai untuk mengatakan bahwa semua berjalan lancar untuk tim yang menang, dan sebaliknya menganggap semua salah pada tim yang kalah.”

Tapi, tetap saja penonton, pengamat, dan media merasa lebih tahu apa yang terjadi. Mulailah Donadoni disalahkan karena terlalu bergantung pada Luca Toni yang terlihat kelelahan dan sering membuang-buang peluang. Dia juga dituduh terlalu bertahan saat melawan Spanyol, sebaliknya terlalu memforsir serangan dengan pola tak jelas. Lupalah semua pada puja-puji ketika Gianlugi Buffon cs dipuji setinggi langit karena kekokohan mental sehingga terhindar dari kekalahan saat melawan Rumania dan superioritas tanpa cela ketika menggusur musuh bebuyutannya, Perancis, di partai penentuan.

Slaven Bilic juga tak punya alasan untuk menerangkan kenapa gol Ivan Klasnic di injury time masih mampu disamakan gol ajaib Semih Sentruk hanya beberapa detik sebelum peluit akhir berbunyi. “Saya tidak tahu apa yang terjadi malam ini. Saya tidak mengira Turki mampu mengejar ketertinggalan sedemikian cepat. It’s beyond the technical aspect. Ada sesuatu yang terjadi pada Turki malam ini,” kata rocker enerjik ini lunglai.

Salah memang tidak benar. Tidak benar kerap berarti kegagalan. Dan kegagalan selalu berujung pada kegetiran, penyesalan, dan ketidakbenaran hasil akhir. Sia-sia kita merutuki sang salah yang sekonyong-konyong menyergap kita. Lebih baik menerima bahwa ada satu masa ketika hidup memberi berkah kesialan. Sama halnya di lain waktu tersungging senyum dan ekspresi bahagia menerima anugerah keberuntungan.

Produk kami memang jelek dan tidak laku di pasar. Kami terima bahwa kami salah. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima, mengevaluasi, dan muncul lagi dengan hasil karya lebih baik. Bukankah itu sesungguhnya makna siklus kehidupan kita semua? Jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi. Siklus gagal-berhasil pun salah-benar yang senantiasa silih-berganti mengisi hari-hari kita.

Lantas, kenapa kita perlu berlama-lama menyesali satu di antaranya? Jika kita tahu yang lain juga akan datang?

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: June 24, 2008, 12:16 am |

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.