20  Jun
Membeli bahagia

[Masihkah sebuah kemenangan menjadi berarti tanpa kelengkapan sebuah prosesi? Semua menjadi sia-sia jika ada yang terluka karenanya.]

Apa yang akan kita lakukan jika suatu hari berada dalam setting cerita berikut ini? Pada suatu hari, seorang laki-laki pulang dari bekerja larut malam. Hari itu sangat melelahkan baginya. Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya yang berusia 5 tahun sudah menunggunya di depan pintu rumah.

Anak: “Ayah, boleh aku bertanya?”
Ayah: “Yeah, boleh, ada apa?” jawab sang ayah.
Anak: “Ayah, berapa gaji ayah dalam satu jam?”
Ayah: “Bukan urusanmu. Ngapain kamu nanya-nanya hal begitu?”
Anak: “Aku cuma pengen tahu ayah… tolonglah ayah, beritahu aku…”
Ayah: “Baiklah, gaji ayah cuma Rp.30.000 sejam.. puas?” jawab si ayah dengan ketus.
Anak: ” Oh… Boleh nggak aku minta Rp.15.000?” tanya si anak dengan ragu-ragu..
Ayah: “oh.. jadi kamu cuma mau minta uang untuk beli mainan2 nggak penting atau barang nggak berguna lainnya? Sekarang kamu cepat masuk ke kamar dan tidur! Ayah
kerja keras tiap hari untuk kamu dan mamamu, tapi kamu terus merengek.  Sana tudir” .

Dengan wajah sedih dan kepala menunduk, si anak segera masuk ke kamarnya tanpa berkata-kata. Pipinya mulai basah oleh tetsan air mata kesedihan. Sang ayah lalu duduk di kursi dan tanpa sengaja kembali memikirkan permintaan anaknya di tengah malam itu. Dia sangat kesal dan tak habis pikir kok tega-teganya anak kesayangannya itu minta di saat ia baru saja pulang dan capek setelah bekerja keras seharian. Perlahan suara batinnya mulai menyenandungkan nada penyesalan. Tak seharusnya dia melampiaskan kesal pada anaknya. Dia tahu telah menghancurkan hati anaknya itu…

Sukses atau pencapaian tertentu kadang memang memakan banyak sekali korban. Seperti kisah ayah di atas, Fatih Terim juga tak habis pikir kenapa prestasi besar Turki lolos ke perempat final Euro 2008 harus memakan korban. Usai menang 3-2 atas Rep. Ceko yang lebih diunggulkan di partai terakhir penyisihan Grup A, euforia kemenangan ternyata ada yang berujung pada petaka.

Media massa di Turki melaporkan jatuhnya korban dalam perayaan besar-besaran warga Turki atas sukses tim nasional kebanggaan mereka itu. Ada seorang warga yang meluapkan kegembiraannya dengan melepaskan tembakan senjata. Sialnya, tembakan itu mengenai beberapa orang sehingga terpaksa dirawat di rumah sakit. Harga yang terlalu mahal untuk membayar sebuah kemenangan.

“Itu sangat menyedihkan,” kata Terim menanggapi insiden itu. “Semakin banyak saya mendengar informasi tentang kejadian itu, semakin menderita saya dibuatnya. Saya dengan seorang anak perempuan berumur 10 tahun cedera dan harus masuk ICU. Syukurlah saya mendengar keadaannya sudah berangsur-angsur membaik. Kami semua di sini sangat senang mendengar kabar itu.”

Terim tak habis mengerti kenapa kemenangan harus dirayakan dengan membuat orang lain menderita. “Bagi semua orang yang mendukung dan mencintai kami, saya ingin menegaskan bahwa seharusnya kemenangan ini tidak menjadi sumber penderitaan pihak lain. Tidak seharusnya seseorang menembakkan senjatanya untuk merayakan kemenangan ini - sekeras dan seberat apapun perjuangan kami di lapangan.”

Memang, perjalanan Turki di Euro 2008 bisa memancing emosi pada titik yang sangat rentan ledakan. Tim yang memang tidak diunggulkan ini nyaris saja tersisih di partai kedua melawan tuan rumah Swiss. Hanya karena gol di injury time yang menyelamatkan peluang mereka untuk memastikan keunggulan menjadi 2-1.

Lebih dramatis lagi saat melawan Rep. Ceko saat mereka masih tertinggal 0-2 menjelang peluit panjang ditiupkan. Dengan segala kemustahilan yang sempat mengemuka, Nihat Kahveci cs lantas mencetak 3 gol kemenangan di detik-detik akhir untuk meruntuhkan ramalan banyak pengamat. Hasil yang sangat emosional, dramatis, dan sarat tekanan.

Tapi, Terim merasa kesuksesan itu akan sia-sia jika ada yang terluka karenanya, “Saya ingin menegaskan bahwa tidak ada satu kemenangan pun yang cukup berharga untuk ditebus dengan nyawa manusia. Kami harus memastikan kemenangan ini tidak menjadi sumber duka bagi orang lain. Tidak juga untuk mereka yang terpaksa dirawat dan koma akibat perayaan kemenangan yang berlebihan.”

Ya, tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan. Lelaki di atas itu juga akhirnya menyesali sikap buruknya itu. Setelah beberapa jam berlalu, sang ayah mulai tenang, dan ia bisa berpikir sedikit lebih jernih. Sang ayah segera menuju kekamar anaknya, lalu membuka pintu kamar anaknya itu.

“Kamu udah tidur sayang?” tanya sang ayah.
“Belum ayah”, jawab anaknya dengan suara agak terbata-bata.
“Ayah minta maaf ya… tadi ayah terlalu keras padamu. Hari ini sangat melelahkan. Ini, Rp.15.000 yang kamu minta,” kata sang ayah mencoba memperbaiki kesalahannya.

Wajah si anak seketika berbinar-binar sambil menerima pemberian ayahnya. Kemudian, ia merogoh ke bawah bantalnya dan mengeluarkan setumpuk uang kertas yang sudah lusuh. Si anak kemudian mulai menyusun dan merapikan uang yang dimilikinya itu di atas kasur.  “Untuk apa kamu minta uang lagi kalau kamu udah punya uang sebanyak itu?”
tanya sang ayah dengan nada tinggi melihat anaknya sibuk menghitung uang.

“Soalnya sebelum ayah kasih, uangnya kurang… Ayah… sekarang aku sudah punya Rp.30.000.. boleh nggak aku membeli waktu ayah satu jam saja…?” tanya anaknya dengan nada sungguh-sungguh dan polos.. “Aku mau makan malam bareng ayah dan mama… besok ayah pulang cepat ya…” ujar si anak dengan sungguh-sungguh… matanya menatap polos pada sang ayah yang diam terpaku di hadapannya.

Mendengar perkataan anaknya, sang ayah langsung terenyuh dan menangis.. ia  segera merangkul anak yang disayanginya itu sambil menangis dan minta maaf pada sang anak..
“Maafkan ayah sayang…” ujar sang ayah. “Ayah telah khilaf, selama ini ayah lupa untuk apa ayah bekerja keras…maafkan ayah anakku…” kata sang ayah ditengah suara tangisnya. Si anak hanya diam membisu dalam dekapan sang ayah…

Bahkan sebuah niat untuk membahagiakan keluarga dengan hidup berkecukupan yang mewajibkan kita bekerja sekeras-kerasnya pun sangat berisiko melukai orang-orang yang kita cintai… Padahal, sungguh, tak ada apapun yang cukup berharga untuk meredupkan senyum orang-orang tercinta di rumah…

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: June 20, 2008, 7:54 pm |

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.