[Jangan mudah mencibiri orang kaya. Seakan-akan mereka semua tak punya hati dan hanya mengejar keuntungan semata. Terimalah… memang ada orang yang berhak dihargai lebih karena keistimewaannya. Bukan karena serakah dan atau menghalalkan segala cara.]
Kami punya seorang kawan yang sejak SMU memang brilian. Juara kelas tak pernah lepas dari genggamannya. Meski tak terlalu cemerlang di bangku kuliah, belakangan kariernya melaju pesat. Meninggalkan rekan-rekan seangkatannya dengan kecepatan yang tak bisa ditandingi siapapun. Gaji sudah lebih dari dua digit, mengendarai mobil termewah yang pernah kami bayangkan, berkantor di gedung tinggi dengan fasilitas wah.
“Dia memang benar-benar beruntung,” celetuk seseorang dalam sebuah reuni. “Bagaimana nggak sukses? Dia pandai me-lobby orang untuk memberinya pekerjaan yang lebih baik,” sambut yang lain. “Bayangkan, dalam 10 tahun dia sudah berpindah lebih dari 4 kali. Pantas saja kariernya cepat maju. Dasar kutu loncat,” timpal yang lain dengan nada tak senang. Cemburu tepatnya.
Padahal, kalau dipikir-pikir, tak ada yang salah dengan kawan seangkatan kami itu. Adalah hak setiap orang untuk mencari dan menemukan yang terbaik dalam hidupnya. Bahwa hal itu berarti karier bagus, keluarga harmonis, hidup serba berkecukupan - sama sekali tak ada yang salah. Apalagi kami tahu dia memang pintar, supel bergaul, dan pandai meyakinkan orang. Kemampuan yang - kalau mau jujur - tak semuanya kami miliki sehingga wajar jika kami tertinggal jauh.
Sia-sia mengumbar rasa iri dengan mencoba mencari sisi salah kawan kami itu. Sama tak bergunanya dengan mencoba menggugat keputusan Luiz Felipe Scolari yang tiba-tiba saja sudah ditunjuk menjadi manajer baru Chelsea. Begitulah yang tengah terjadi hari-hari ini - saat sejumlah kolumnis dan pemberitaan berusaha menyudutkan moralitas pelatih senior yang kini tengah menjalankan tugas memimpin timnas Portugal merengkuh piala bergengsi pertama dalam sejarah sepak bola negeri itu.
“Yes, that’s one of the reasons. Yes, absolutely,” jawab pelatih berumur 59 tahun itu ketika ditanya apakah dia memutuskan meninggalkan posnya sebagai pelatih timnas Portugal karena tawaran gaji tinggi yang disodorkan Chelsea. “Ada sejumlah uang yang ditawarkan kepada saya. Dan kita memang terbiasa memutuskan sesuatu berdasarkan angka-angka tersebut, bukan?” lanjutnya enteng.
A Bola, sebuah harian terkemuka di Portugal, merilis berita bahwa Scolari menerima upah sebesar 6 juta euri per tahun untuk jangka waktu 3 tahun. Tawaran itulah yang membuat pelatih tambun itu setuju menangani The Blues mulai 1 Juli 2008. “Dalam hidup, ada kalanya kita didatangi tawaran sekali seumur hidup. Selain uang, saya berpikir punya kesempatan untuk mengajak anak saya bersama-sama tinggal di Inggris untuk meneruskan studinya. Saya juga tidak ingin terus melatih sampai umur 70 tahun. Beberapa tahun lagi saya akan segera pensiun,” beber Scolari panjang lebar.
Apakah hal itu tidak menyakiti perasaan rakyat Portugal yang sangat berharap Scolari tetap melatih Cristiano Rolnaldo cs? “Semua ada awal dan akhirnya. Kita tahu suatu saat kontrak ini akan berakhir. Lima setengah tahun berada di sebuah tim adalah rekor saya melatih. Bahkan, di Gremio yang sangat saya cintai pun hanya bertahan 3 tahun,” jawab pelatih berkumis tanpa bermaksud membela diri.
“Presiden federasi sepak bola Portugal sudah berusaha mencari sponsor dalam 15 hari terakhir untuk memperpanjang kontrak saya. Namun, sampai pada waktunya dia tidak berhasil mendapatkannya. Dia datang kepada saya dan mengatakan bebas untuk bernegosiasi dan menerima tawaran siapapun. Presiden telah melakukan usaha terbaik, demikian juga saya,” kata Scolari menepis isu bahwa dia meninggalkan begitu saja timnya.
Scolari memang pantas dikejar-kejar oleh banyak pihak yang bermimpi memiliki sebuah tim hebat. Rekor bagus yang mengiringi karier kepelatihannya membuktikan bahwa dia memang pelatih jenius. Memulai langkah pada 1982 dengan melatih klub kecil di Brasil, dua puluh tahun lamanya dia malang-melintang melatih sejumlah klub. Yang paling menonjol, membawa dua klub elite Brasil - Gremio dan Palmeiras - menjuara Copa Libertadoros - setingkat Liga Champions untuk di kawasan Amerika Selatan.
Tahun 2001 dia setuju menangani timnas Brasil yang tengah tersudut. Hanya dalam waktu setahun, dia membawa Selecao menjadi yang terbaik di Piala Dunia 2008. Tawaran datang dari Portugal dan langsung disambutnya. Secara mencengangkan dia meloloskan tim penuh talenta yang belum pernah menjadi tim favorit itu lolos ke final Piala Eropa 2004. Meski kalah dari Yunani, itu prestasi terbaik Luis Figo cs. Dua tahun kemudian, sekali lagi dia membawa timnya sampai ke babak besar Piala Dunia 2006. Kini, diyakini Portugal adalah salah satu favorit juara Euro 2008.
Sempat menolak tawaran melatih timnas Inggris dua tahun lalu akibat merasa tak bakal kuat menghadapi tekanan media, kini Scolari memutuskan menerima pinangan Chelsea. Dengan gaji yang terbilang sangat tinggi, pelatih yang jago meramu taktik dan menangani pemain bintang ini akan segera meluncur ke Inggris untuk meramaikan Premier League. Lawan sebanding untuk Sir Alex Ferguson yang perkasa, Prof Arsene Wenger yang cerdas, pun Senor Rafael Benitez yang cerdik.
Tak ada gunanya menggugat keputusan Scolari. Hanya menunjukkan rasa dengki tanpa alasan dengan mencoba menyudutkannya dengan waktu pengumuman yang dianggap salah - hanya beberapa menit usai Portugal menang 3-1 atas Rep. Ceko untuk memastikan lolos ke perempat final, mengungkap besarnya gaji yang besar seakan-akan dia mata duitan, atau membesar-besarkan kekecewaan masyarakat Portugal yang berharap pelatih brilian itu bertahan.
Seharusnya kita angkat topi pada Scolari. Karier emasnya adalah hasil serangkaian kerja keras panjang yang patut diteladani. Bahwa karenanya dia digaji besar, tak perlu kitalantas mendiskreditkannya. Sama dengan teman kami yang memang pantas mendapatkan apa yang dimilikinya sekarang ini. Melulu karena kebisaan, kemampuan, dan keistimewaannya. Realita yang tak bisa disalahkan, disudutkan, digugat…
Kalau kita mau kaya, carilah jalan ke sana… Tak perlu dengan menjadikan orang lain sebagai sasaran tembak… Toh, kalau mau jujur, kita tak keberatan untuk berada dalam posisi orang yang kita tembak itu, bukan?
June 18th, 2008 at 6:00 pm
saya tidak anti orang kaya. penginnya sih malah kaya, karena kalau kaya saya bisa lebih banyak bantu orang lain. selain itu kalau kaya saya bisa berlagak miskin