[Silakan percaya dan bergembira menerima sanjungan. Tapi, sebaiknya kita mewaspadai apa maksud sesungguhnya. Salah-salah malah membuat kita terjebak dan terjepit.]
Banyak ilmu kebijaksanaan mengajarkan bahwa pujian adalah salah satu cara yang paling efektif untuk membangkitkan motivasi. Tepatnya, mengapresiasi tindakan orang lain sehingga yang bersangkutan merasa ada dan dihargai. Tapi, awas, kadang sanjungan juga mudah membuat orang lain lupa diri. Bukannya terangkat eksistensinya, malah perlahan mengubur peran dan keberadaannya.
Bak pedang bermata dua, pujian bisa menguntungkan dan merugikan. Seorang anak, misalnya, akan benar-benar menjadi pandai nan cerdas jika pujian dari orangtuanya dianggap sebagai dorongan untuk terus mempertahankan dan meningkatkan pencapaiannya. Sebaliknya, dia lama-lama akan menjadi malas dan bodoh jika menganggap pujian sebagai hasil akhir yang tak perlu ditingkatkan lagi.
Mempercayai pujian memang bisa membuat kita lupa diri. Seolah-olah kita sudah berada di garis finish dan merasa tak perlu bekerja keras untuk mempertahankan pujian itu. Bagi yang mengetahui risiko pujian yang sangat merusak itu, kadang mereka justru sengaja melontarkan pujian untuk mendapatkan efek negatif yang bisa menguntungkan mereka.
Banyak kita tak menyadari betapa pujian juga bisa menjadi senjata paling ampuh untuk melumpuhkan lawan. Lihatlah cara Guus Hiddink mencoba mengganggu keunggulan materi calon lawannya di partai perdana Grup D malam ini. Sadar Rusia yang dilatihnya di atas kertas kalah segalanya, dia secara terbuka melebih-lebihkan status Spanyol sebagai tim yang lebih baik.
Rusia memang datang ke Swiss/Austria sebagai tim termuda. Rata-rata umur pemain tim negeri Beruang Merah ini hanya 26,26 tahun. Kebeliaan yang mengindikasikan betapa hijaunya tim ini. Plus fakta bahwa hanya satu di antara 23 pemain yang memiliki pengalaman berkompetisi di luar Rusia – yaitu Ivan Saenko yang bermain untuk Nuernberg di Jerman. Selebihnya adalah pemain-pemain lokal yang minim jam terbang dan jarang berlaga di kompetisi berkualitas. Tak heran jika posisi underdog erat melekat.
Kebetulan Guus Hiddink tahu benar bagaimana mengeksploitasi kelemahan sebagai modal untuk membuat kejutan. Enam tahun lalu, Spanyol merasakan bagaimana ajaibnya sentuhan pelatih asal Belanda itu saat secara mengejutkan membawa Korea Selatan menang atas tim unggulan itu. Meski diwarnai kontroversi kepemimpinan wasit, prestasi member kemenangan pertama di ajang Piala Dunia bagi Korsel dalam keikutsertaan kelima dan duduk di peringkat ke-4 adalah prestasi besar.
Dua tahun lalu, dia juga nyaris mengantarkan Australia mempermalukan Italia yang akhirnya juara. Hanya karena keputusan kontroversial wasit yang memberikan pinalti kepada Fabio Grosso yang membuat tim non unggulan sekelas Australia menjadi buah bibir dunia. Padahal, banyak pengamat meyakini kalau pertandingan itu dilanjutkan ke adu pinalti, kemungkinan besar Italia bakal kalah.
Taktik itulah yang kini juga disuntikkan untuk membangkitkan motivasi Rusia. “Spanyol adalah tim favorit,†katanya kepada wartawan. “Mereka tim yang sangat berpengalaman. Para pemain Spanyol adalah figure-figur yang dikenal baik oleh sepak bola dunia. Kami hanya akan berusaha memberikan perlawanan terbaik untuk Spanyol. Saya tidak ingin melihat sebuah tim yang takut bertanding karena sejarah masa lalu yang buruk.â€
Sepertinya Hiddink ingin merusak konsentrasi lawan dengan seolah-olah mengatakan timnya bukan tandingan sepadan. Harapannya, Spanyol lengah dan memberi peluang bagi Rusia untuk membuat kejutan. “Para pemain kami tidak ada yang dikenal publik. Saya harap keadaan itu akan segera berubah dengan penampilan maksimal, dimulai dengan melawan Spanyol,†kata pelatih yang mengenal benar permainan Spanyol karena pernah melatih Real Madrid, Real Betis, dan Valencia itu.
“Saya puas dengan keseluruhan kerja tim. Mereka semua bekerja dengan amat sangat keras. Untuk tampil baik di sebuah turnamen, Anda harus mampu mengalahkan tim favorit. Meski begitu, saya sadar sepenuhnya Spanyol lebih pantas diunggulkan dibandingkan kami. Banyak di antara pemain kami yang baru pertama kali tampil di turnamen besar yang masih membutuhkan banyak pengalaman bertanding untuk menjadi pemain bintang. Kita akan melihat tim Rusia yang berniat bermain sepak bola sembari mempersulit hidup Spanyol,†tambah pelatih berumur 62 tahun ini.
Sayang, Rusia belum-belum sudah harus kehilangan striker andalannya, Pavel Pogrebnyak – top skorer kompetisi Piala UEFA bersama Luca Toni. Sementara Andrei Arshavin – aktor utama kemenangan Zenit St Petersburgh di final Piala UEFA melawan Glasgow Rangers bulan lalu – terkena larangan bermain akibat mendapat kartu merah di pertandingan terakhir babak kualifikasi. Namun, Hiddink masih punya kiper muda Igor Akinfeyev yang diprediksinya bakal menjadi bintang.
Dengan modal itulah, pelatih yang sebagian gajinya dibayar oleh Roman Abramovich ini berharap ada kejutan. “Kami berharap bisa merusak sejarah yang membuktikan bahwa tim favorit biasanya bisa memenangkan partai perdananya. Jadi, besok melawan Spanyol, yang berkali-kali saya tegaskan adalah salah satu tim favorit, kami berharap bisa membuat tradisi baru,†kata Hiddink member ancaman terselubung.
Kita akan lihat apakah kali ini Hiddink berhasil menjalankan taktiknya atau tidak. Semua tergantung kepada Spanyol. Apakah mau begitu saja mempercayai pujian itu sehingga berisiko menjadi lengah atau justru menjadi ekstra waspada dengan memainkan sepak bola yang lebih hati-hati dengan tidak menganggap remeh lawan.
Perhatikanlah anak Anda. Kalau mulai malas belajar, hentikanlah pujian, gantikan dengan teguran atau dorongan lain yang lebih positif. Kalau dia makin rajin belajar, artinya dia tahu bahwa pujian hanya sebuah cara untuk makin meningkatkan prestasinya.
Selamat memuji, tapi sebaiknya tetap waspada…
June 10th, 2008 at 2:02 pm
so true…