[Ada di saat dibutuhkan memang penting. Tapi, bukan berarti tidak ada selalu salah. Kadang ketiadaan sarat makna justru lebih penting daripada sekadar keberadaan hampa.] 

Malam itu, karib saya sedang bertugas memberikan pelayanan rohani kepada sejumlah umat yang berada di bawah bimbingannya. Supaya khusuk, dipilihlah tempat yang jauh dari keramaian. Tepatnya di sebuah kawasan perbukitan yang asri, sejuk, dan nyaman untuk menyelami jiwa. Dan, tentu saja agak susah dijangkau – baik dari segi waktu tempuh maupun pilihan moda transportasi. Kendala tersendiri jika ada situasi urgent yang harus segera direaksi. 

Dan, itulah yang terjadi. Dering telepon dari rumah membuat karib saya tergugu dalam suasana berkabung. Kabar menyesakkan disampaikan lewat komunikasi singkat dari seberang nun jauh di sana: ibunda tercinta telah meninggalkan dunia yang fana ini untuk selama-lamanya. Sejenak rohaniwan yang ditunjuk sebagai pemimpin pendalaman iman itu tersudut dalam situasi yang tak menyenangkan itu. Sadar membutuhkan waktu untuk merenung, dia pamit dengan sopan untuk masuk ke kamarnya.

Cukup lama dia menghabiskan waktu seorang diri dalam bilik permenungannya. Kami menduga dia akan segera keluar dan meminta ijin untuk segera turun ke kota untuk mendampingi masa-masa terakhir ibunda tercinta. Sebuah pilihan masuk akal dan sangat manusiawi yang rasanya akan diambil semua kita yang tengah berduka: pergi meninggalkan segala alas an untuk berada di sisi orang yang kita cintai. 

Tapi, dengarlah keputusannya malam itu. “Terima  kasih untuk kesediaan saudara/I sekalian memberi waktu saya untuk sendirian dan sejenak meninggalkan kewajiban saya memimpin acara ini. Mari kita lanjutkan kegiatan kita. Saya hanya meminta panjatkan sedikit doa agar arwah ibu kami bisa tenang menuju Tuhan Yang Maha Kuasa,” tuturnya pelan dengan nada kesedihan yang masih jelas terbaca.

Karib saya memutuskan untuk segera mengakhiri kedukaan dengan tetap melanjutkan tanggung jawab yang telah diembankan padanya. “Ibu saya akan mengerti dengan pilihan saya,” katanya jauh hari setelah acara itu selesai. “Beliau justru akan sangat sedih jika tahu anaknya meninggalkan tugas demi melepas jasadnya ke alam baka. Saat itu saya menganggap tugas sebagai rohaniwan lebih penting.” 

Sama dengan karib saya, Koebi Kuhn juga menganggap kepercayaan yang diberikan negaranya untuk melatih tim nasional Swiss juga sangat penting. Tanggung jawab yang tidak mau ditinggalkannya meski istrinya, Alice, tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit karena sakit yang masuk kategori parah. Kondisinya lemah, bahkan saat dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Bagi Kuhn, keadaan yang menimpa istrinya dating sungguh di waktu yang sangat salah. Tepat di hari yang dijadwalkan harus masuk base camp di pusat kota Swiss untuk bersiap berlaga di Euro 2008, kondisi istrinya memburuk dan sempat disinyalir masuk kategori mengkhawatirkan. Pelatih berumur 64 tahun itu minta ijin datang terlambat masuk training camp untuk mengantarkan istrinya ke Zurich University Hospital.  

Sesungguhnya, banyak pihak sudah bersiap dan akan mengerti jika pada akhirnya Kuhn memutuskan untuk meninggalkan tim asuhannya untuk menunggui istrinya menjalani hari-hari berat. Tim dokter meminta pers dan publik memberikan dukungan dan pengertian atas persoalan pribadi yang tengah menimpanya dan tidak semata-mata menuntut pelatih senior itu untuk tetap bertugas saat konsentrasinya sedang dipenuhi oleh kecemasan mengikuti perkembangan kondisi istrinya.

Bahkan, asosiasi sepak bola Swiss telah menyiapkan rencana darurat jika Kuhn memutuskan untuk absen. Banyak yang menduga kemungkinan Ottmar Hitzfeld yang bakal menggantikan Kuhn melatih Swiss usai Piala Eropa 2008 akan diminta mempercepat masa tugasnya jika Kuhn memutuskan pensiun lebih awal dari rencana. Namun hal itu ditampik oleh pihak yang berwenang memutuskan hal itu. 

“Kami berharap coach bisa meneruskan tugasnya selama Euro 2008,” kata manajer tim, Ernst Laemmli. “Namun kami sadar situasi bisa berubah setiap saat dan kami harus siap dengan kemungkinan terburuk. Kami tidak akan memanggil Hitzfeld untuk memulai tugasnya lebih cepat. Kami sudah memiliki tim pelatih yang tidak hanya terdiri dari Koebi Kuhn. Kami punya asisten pelatih Michel Pont yang mampu memikul tanggung jawab itu bersama tim pelatih lainnya.”

Di luar dugaan, Kuhn memilih tetap berangkat memimpin tim asuhannya sembari menyempatkan waktu menjenguk istrinya saat jeda latihan. “Ini masalah pribadi saya, tapi saya ingin mengatakan memiliki tim yang luar biasa, terutama para pemain. Semua memberikan dukungan penuh yang memberi semangat dan menguatkan keinginan untuk berada di sini,” jelas Kuhn tentang pilihannya tetap melatih. 

“Saya lega mengetahui bahwa penyakitnya masih bisa diatasi sampai sejauh ini. Alice tidak sedang menghadapi kematian dan hasil diagnosa medis menyatakan kondisinya terus membaik. Saya selalu bersamanya dengan keseluruhan pikiran dan hati saya. Tapi, saya bermaksud mengerjakan pekerjaan saya tanpa terganggu oleh keadaan orang lain. Saya pastikan saya akan bekerja 100 persen untuk memberikan yang terbaik bagi tim,” tutup Kuhn dalam sesi press conference.

Publik menanti bagaimana hasil kerja Kuhn yang harus memimpin timnya menjalani opening match melawan salah satu tim unggulan, Portugal. Apapun hasil akhirnya, Kuhn telah memenangkan pertarungan pribadinya melawan tikungan tajam perjalanan hidupnya. Dia memutuskan ”pergi” meninggalkan istrinya sejenak untuk mengemban tugas Negara. 

Tak seheroik Kuhn tentunya, tapi saya sangat terkesan dengan penjelasan karib saya mengenai keputusannya saat mendengar kabar duka, “Saya sangat mencintai ibu. Saya merasa sangat kehilangan dan ingin segera bersamanya untuk yang terakhir kalinya. Tapi saya tahu ibu akan meminta saya tetap di sana menjalankan tugas – justru sebagai bentuk penghormatan kepada beliau. Kedukaan itu justru saya maknai sebagai dorongan untuk member pelayanan sebaik mungkin demi kecintaan saya pada almarhumah. Semoga beliau bangga dengan keputusan anak bungsunya ini…”

Cinta memang sebaiknya diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Bukankah keteguhan menjalani tugas dan kewajiban juga salah satu bentuk perwujudan cinta? Bukti yang tidak kalah nyata dibandingkan memaksakan hadir menemani sang cinta dengan meninggalkan tanggung jawab…

Posted by injurytime, filed under Misteri Cinta. Date: June 7, 2008, 3:19 pm |

One Response

  1. latree Says:

    ketulusan cinta, memberi dengan ikhlas
    memberikan keadilan pada dua pilihan

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.