[Jika Tuhan saja selalu ikhlas memberi maaf, kenapa manusia tidak? Faktanya, ada banyak maaf yang tak bisa diterima dengan sempurna. Karena kita manusia, bukan Tuhan, yang masih terbujuk ihwal duniawi.]
Suatu malam, dalam dekap hening, bertuturlah sang hati kepada sang pencipta. “Tuhan, saya menyesal atas segala dosa yang telah saya perbuat. Saya kotor dan hina, tidak layak menghadapMu. Saya mohon ampun dan meminta segala maaf dariMu. Aku berjanji tidak akan berbuat dosa lagi kalau Kau mau mengabulkan permintaanku ini…”
Lantas mengalirlah sebait pinta seorang manusia kepada Sang Ilahi. Doa yang lagi-lagi meminta kebaikan Tuhan demi kepentingan dirinya sendiri. Hamparan damba yang dibalut sederet janji sebagai balasan padaNya. Reaksi spontan seorang manusia yang sesungguhnya tanpa sadar telah mengikat kontrak yang pantang diingkari…
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Adakah sang pendamba setia melaksanakan janjinya - meski Yang Kuasa telah menurunkan anugerah besar dengan mengabulkan segala permintaannya? Tidak. Banyak kita tetap saja bergelimang dosa meski entah berapa banyak doa kita yang dikabulkan. Seakan-akan menjadikan janji tobat sekadar pelengkap di ruang doa dan beban berat dalam dunia nyata.
Beruntunglah kita yang tak pernah digugat meski berkali-kali melanggar kontrak kehidupan kita sendiri. Sekian banyak kita meminta maaf, sekian banyak pula kita dimaafkan - dengan segala bonus dalam kehidupan kita yang tak pernah kita hitung sebagai hutang pada sang pemilik kehidupan.
Tapi, mari berkaca, seberapa sering kita - manusia - menjadikan ikatan kontrak sebagai dasar menjalani kehidupan? “Jika kami (Italia) gagal menembus babak semifinal (Euro 2008) dan tidak ada kesepakatan di antara kedua belah pihak untuk memperpanjang kontrak, maka perjanjian yang telah ditandatangani bisa dibatalkan. Jadi, tidak ada pemecatan (terhadap Roberto Donadoni,” kata Presiden FIGC, Giancarlo Abete, mencoba menjernihkan isu yang mengatakan pelatih tim nasional Italia akan segera dipecat. Read the rest of this entry »