[Jika Tuhan saja selalu ikhlas memberi maaf, kenapa manusia tidak? Faktanya, ada banyak maaf yang tak bisa diterima dengan sempurna. Karena kita manusia, bukan Tuhan, yang masih terbujuk ihwal duniawi.]

Suatu malam, dalam dekap hening, bertuturlah sang hati kepada sang pencipta. “Tuhan, saya menyesal atas segala dosa yang telah saya perbuat. Saya kotor dan hina, tidak layak menghadapMu. Saya mohon ampun dan meminta segala maaf dariMu. Aku berjanji tidak akan berbuat dosa lagi kalau Kau mau mengabulkan permintaanku ini…”

Lantas mengalirlah sebait pinta seorang manusia kepada Sang Ilahi. Doa yang lagi-lagi meminta kebaikan Tuhan demi kepentingan dirinya sendiri. Hamparan damba yang dibalut sederet janji sebagai balasan padaNya. Reaksi spontan seorang manusia yang sesungguhnya tanpa sadar telah mengikat kontrak yang pantang diingkari…

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Adakah sang pendamba setia melaksanakan janjinya - meski Yang Kuasa telah menurunkan anugerah besar dengan mengabulkan segala permintaannya? Tidak. Banyak kita tetap saja bergelimang dosa meski entah berapa banyak doa kita yang dikabulkan. Seakan-akan menjadikan janji tobat sekadar pelengkap di ruang doa dan beban berat dalam dunia nyata.

Beruntunglah kita yang tak pernah digugat meski berkali-kali melanggar kontrak kehidupan kita sendiri. Sekian banyak kita meminta maaf, sekian banyak pula kita dimaafkan - dengan segala bonus dalam kehidupan kita yang tak pernah kita hitung sebagai hutang pada sang pemilik kehidupan.

Tapi, mari berkaca, seberapa sering kita - manusia - menjadikan ikatan kontrak sebagai dasar menjalani kehidupan?  “Jika kami (Italia) gagal menembus babak semifinal (Euro 2008) dan tidak ada kesepakatan di antara kedua belah pihak untuk memperpanjang kontrak, maka perjanjian yang telah ditandatangani bisa dibatalkan. Jadi, tidak ada pemecatan (terhadap Roberto Donadoni,” kata Presiden FIGC, Giancarlo Abete, mencoba menjernihkan isu yang mengatakan pelatih tim nasional Italia akan segera dipecat. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: June 25, 2008, 10:25 pm | No Comments »

25  Jun
Magis ketiadaan

[Jangan pernah menyesali keterbatasan. Arungilah segala arus yang mengempaskan kita ke tubir jurang. Dan, saat kelokan terakhir terlampaui, kepalkanlah tanganmu! Berteriaklah sekeras-kerasnya! Yes, it’s done!!!]

Bak disambar petir di siang bolong, Dra. Irna Minauli, M.Psi hanya bisa meratap saat diberitahu dokter bahwa buah hatinya mengidap penyakit autis. Iqbal Rahyan, yang kini telah berumur 18 tahun, saat itu belum juga bisa berbicara layaknya teman-teman sebaya dan selalu terlihat ketakutan jika bertemu orang. Ternyata, Iqbal menderita autis yang membuat perkembangannya tidak normal dan menjadi berbeda dengan anak-anak lain.

“Saya menutup diri dan depresi selama setahun,” cerita Irna kepada Tabloid Nova mengenang masa-masa sulitnya. “Saya berhenti ikut pengajian dan arisan. Saya marah pada Tuhan.” Mengetahui orang yang sangat kita sayangi menderita dan diyakini bakal menanggung sekian banyak kesulitan dalam hidupnya tentu membuat kita semua menyalahkan keadaan dan Yang Kuasa. Reaksi yang sangat wajar.

Reaksi serupa juga muncul dari Herniwaty saat mengetahui anaknya, Natrio Catra Yososha atau Osha divonis dokter menderita autis karena ada kelainan otak. Dokter menyarankan untuk tidak memaksa Osha sekolah. Kalau hanya kuat sampai SMP ya jangan dipaksa terus ke SMA dan Perguruan Tinggi. Orangtua mana yang tega melihat anaknya tidak akan pernah bisa menjadi “orang” lewat bangku pendidikan?

“Saya terus menggugat kenapa semua ini bisa terjadi. Dokter kemudian bertanya, apakah saya mau tetap berjalan di tempat, sibuk mencari tahu penyebabnya - atau segera mencari jalan keluar? Akhirnya saya tersadar bahwa harus mencari tahu apa yang harus saya lakukan untuk Osha,” paparnya di tabloid yang sama.

Kini masa-masa suram itu telah lewat. Dengan segala perjuangan, kelelahan, dan air mata - Iqbal dan Osha tumbuh menjadi remaja normal. Iqbal tidak lagi perlu dibantu untuk melakukan aktivitas hariannya. Dia malah akan protes jika ada yang memperlakukannya sebagai orang cacat dan tak mampu. Osha malah membuat banyak orang tercengang karena kini telah lulus ujian saringan masuk Universitas Gadjah Mada - mencoba menggapai cita-citanya menjadi sejarahwan.

Fatih Terim tidak menderita autis. Anak-anak asuhannya semua juga terbilang pemain sepak bola pilihan dari negeri kecil bernama Turki - yang beberapa di antaranya bermain untuk klub-klub elite Eropa. Tapi, mantan pelatih AC Milan itu sadar sekali betapa tim yang dilatihnya bukanlah tim unggulan. “Saya ke sini hanya untuk mengingatkan orang supaya tidak lupa kepada Turki,” kata pelatih berjuluk The Emperor ini. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 25, 2008, 12:25 am | No Comments »

[Kala sukses, sekonyong-konyong semua menjadi benar. Sebaliknya, saat gagal, semua tiba-tiba menjadi salah. That’s life. Just accept it.]

“Apa-apaan ini!” murka bos besar kami. “Kayak anak kemaren sore aja! Sejak kapan kantor ini memproduksi barang rongsokan seperti ini? Kalau tidak niat kerja, bilang sekarang! Jangan banyak alasan! Kalau kita berani menjual barang sebobrok ini, bersiaplah cari pekerjaan dan kantor baru! Kita semua akan segera jadi pengangguran!!!”

Kami semua hanya bisa diam. Tertunduk. Mendengarkan saja pasrah segala semprotan yang diakhiri dengan nada tinggi dari orang yang paling berkuasa di kantor kami itu. Tak peduli dalam hati kami bersungut-sungut karena merasa sudah menjalankan semua dengan baik dan benar, faktanya barang yang keluar di pasar memang jauh di bawah standard. Sia-sia kami ngotot betapa kami sudah berusaha maksimal.

“Kita terima saja. Hasil kerja kita kali ini memang payah sekali. Tidak ada orang yang mau peduli dengan segala argumentasi dan pembelaan kita. Ada saatnya semua menjadi tidak benar, apalagi jika hasilnya memang mengecewakan. Mari kita balas dengan memproduksi yang lebih bagus. Percayalah, semua akan menjadi benar dengan sendirinya,” kata ketua regu kami mengembalikan semangat kami yang sudah berada di titik nadir.

Hari-hari ini sedikit sekali yang ingat pada penampilan spektakuler Belanda yang amat sangat perkasa di penyisihan Grup C Euro 2008. Berada di “The Group of Death” bersama Perancis, Italia, dan Rumania - anak asuh Marco van Basten ternyata sanggup melenggang mudah. Dengan total 9 gol yang dikemas ke gawang tiga lawan yang terbilang tak enteng itu - dan hanya kebobolan 1 gol - sontak meroketkan reputasi tim muda itu sebagai favorit juara yang diprediksi bakal sulit ditundukkan. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: June 24, 2008, 12:16 am | No Comments »

20  Jun
Membeli bahagia

[Masihkah sebuah kemenangan menjadi berarti tanpa kelengkapan sebuah prosesi? Semua menjadi sia-sia jika ada yang terluka karenanya.]

Apa yang akan kita lakukan jika suatu hari berada dalam setting cerita berikut ini? Pada suatu hari, seorang laki-laki pulang dari bekerja larut malam. Hari itu sangat melelahkan baginya. Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya yang berusia 5 tahun sudah menunggunya di depan pintu rumah.

Anak: “Ayah, boleh aku bertanya?”
Ayah: “Yeah, boleh, ada apa?” jawab sang ayah.
Anak: “Ayah, berapa gaji ayah dalam satu jam?”
Ayah: “Bukan urusanmu. Ngapain kamu nanya-nanya hal begitu?”
Anak: “Aku cuma pengen tahu ayah… tolonglah ayah, beritahu aku…”
Ayah: “Baiklah, gaji ayah cuma Rp.30.000 sejam.. puas?” jawab si ayah dengan ketus.
Anak: ” Oh… Boleh nggak aku minta Rp.15.000?” tanya si anak dengan ragu-ragu..
Ayah: “oh.. jadi kamu cuma mau minta uang untuk beli mainan2 nggak penting atau barang nggak berguna lainnya? Sekarang kamu cepat masuk ke kamar dan tidur! Ayah
kerja keras tiap hari untuk kamu dan mamamu, tapi kamu terus merengek.  Sana tudir” .

Dengan wajah sedih dan kepala menunduk, si anak segera masuk ke kamarnya tanpa berkata-kata. Pipinya mulai basah oleh tetsan air mata kesedihan. Sang ayah lalu duduk di kursi dan tanpa sengaja kembali memikirkan permintaan anaknya di tengah malam itu. Dia sangat kesal dan tak habis pikir kok tega-teganya anak kesayangannya itu minta di saat ia baru saja pulang dan capek setelah bekerja keras seharian. Perlahan suara batinnya mulai menyenandungkan nada penyesalan. Tak seharusnya dia melampiaskan kesal pada anaknya. Dia tahu telah menghancurkan hati anaknya itu…

Sukses atau pencapaian tertentu kadang memang memakan banyak sekali korban. Seperti kisah ayah di atas, Fatih Terim juga tak habis pikir kenapa prestasi besar Turki lolos ke perempat final Euro 2008 harus memakan korban. Usai menang 3-2 atas Rep. Ceko yang lebih diunggulkan di partai terakhir penyisihan Grup A, euforia kemenangan ternyata ada yang berujung pada petaka. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: June 20, 2008, 7:54 pm | No Comments »

19  Jun
Awas kesandung…

[Hidup memang sebaiknya selalu melihat ke depan. Tapi, awas, tanpa pijakan yang kokoh pada kekinian, tiada pernah kita bakal sampai ke tujuan.]

“Aku harus bisa!”

Dengarkan baik-baik, seberapa kerap kita menyerukan kalimat penyemangat itu untuk diri kita sendiri? Acap kali - entah sekadar dalam gumaman atau disertai pekikan dari hati. Sebagai penanda tekad yang berkobar-kobar. Stumulus yang seringkali amat jitu untuk mencapai apa yang kita inginkan - dengan segala daya kemampuan yang ada.

Seorang kawan mengeluh kariernya tak kunjung menanjak. Padahal, dia mengaku sudah menyiapkan segalanya sejak jauh-jauh hari. Terutama dengan bekal pendidikan tinggi yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Tak sekadar sekolah, kawan yang selalu menyabet gelar terbaik di setiap level yang dilewatinya itu tak sedikit pun membuang-buang waktunya untuk bersantai. Belajar, belajar, dan belajar.

“Aku pikir dengan menjadi pintar bakal menjamin kesuksesan seseorang,” tuturnya sambil menerawang. Jauh… entah ke mana. “Waktuku habis untuk sekolah, mengikuti banyak les dan kursus, serta belajar dan mengerjakan tugas. Aku jarang sekali bermain dengan teman-teman, apalagi dugem seperti anak sekarang.”

Baik. Benar. Tidak salah. Tapi, belakangan dia sadar betapa tekadnya mempersiapkan hari depan yang cemerlang tak otomatis membuat mimpi indahnya itu terwujud. Kekakuan sikap karena kurang berinteraksi dalam pergaulan sosial, sempitnya wawasan gara-gara merasa sayang membuang waktu untuk membaca informasi, keterampilan kerja yang pas-pasan akibat merasa tak perlu aktif dalam organisasi apa pun menjadi sederet kekurangan yang sulit diterima di lingkungan kerja profesional.

“Aku terlalu melihat ke depan. Aku kehilangan kesempatan besar karena tak hidup pada saat itu,” rutuknya dalam penyesalan mendalam. Sayang, Raymond Domenech tak bisa sebijak kawan saya itu. Pelatih timnas Perancis yang sarat kontroversi itu masih saja tenggelam dalam harapannya bahwa di depan sana ada masa gilang-gemilang bagi tim asuhannya. Dia lupa, masa depan harus diraih dengan meletakkan fondasi yang kokoh. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: June 19, 2008, 4:13 am | No Comments »

[Jangan mudah mencibiri orang kaya. Seakan-akan mereka semua tak punya hati dan hanya mengejar keuntungan semata. Terimalah… memang ada orang yang berhak dihargai lebih karena keistimewaannya. Bukan karena serakah dan atau menghalalkan segala cara.]

Kami punya seorang kawan yang sejak SMU memang brilian. Juara kelas tak pernah lepas dari genggamannya. Meski tak terlalu cemerlang di bangku kuliah, belakangan kariernya melaju pesat. Meninggalkan rekan-rekan seangkatannya dengan kecepatan yang tak bisa ditandingi siapapun. Gaji sudah lebih dari dua digit, mengendarai mobil termewah yang pernah kami bayangkan, berkantor di gedung tinggi dengan fasilitas wah.

“Dia memang benar-benar beruntung,” celetuk seseorang dalam sebuah reuni. “Bagaimana nggak sukses? Dia pandai me-lobby orang untuk memberinya pekerjaan yang lebih baik,” sambut yang lain. “Bayangkan, dalam 10 tahun dia sudah berpindah lebih dari 4 kali. Pantas saja kariernya cepat maju. Dasar kutu loncat,” timpal yang lain dengan nada tak senang. Cemburu tepatnya.

Padahal, kalau dipikir-pikir, tak ada yang salah dengan kawan seangkatan kami itu. Adalah hak setiap orang untuk mencari dan menemukan yang terbaik dalam hidupnya. Bahwa hal itu berarti karier bagus, keluarga harmonis, hidup serba berkecukupan - sama sekali tak ada yang salah. Apalagi kami tahu dia memang pintar, supel bergaul, dan pandai meyakinkan orang. Kemampuan yang - kalau mau jujur - tak semuanya kami miliki sehingga wajar jika kami tertinggal jauh.

Sia-sia mengumbar rasa iri dengan mencoba mencari sisi salah kawan kami itu. Sama tak bergunanya dengan mencoba menggugat keputusan Luiz Felipe Scolari yang tiba-tiba saja sudah ditunjuk menjadi manajer baru Chelsea. Begitulah yang tengah terjadi hari-hari ini - saat sejumlah kolumnis dan pemberitaan berusaha menyudutkan moralitas pelatih senior yang kini tengah menjalankan tugas memimpin timnas Portugal merengkuh piala bergengsi pertama dalam sejarah sepak bola negeri itu. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: June 17, 2008, 11:45 pm | 1 Comment »

17  Jun
The battle of life

[Hidup adalah perjuangan… Bukan sekadar dalam pesan iklan, tapi sungguh ada dalam tiap detik tapak hidup kita… Yang dengan sendirinya akan terapresiasi tanpa perlu uang miliaran rupiah kampanye media…]

“Hidup adalah perjuangan”. Begitu seorang pemimpin partai politik di negeri ini memenuhi ruang iklan di banyak media. Tak jelas benar sebenarnya apa pesan yang diusung tokoh itu - kecuali bahwa di setiap jenis iklan selalu memunculkan sosoknya sendiri sebagai bagian utama dari visualisasi iklan tersebut.

Sebaris kata di awal tulisan itu memang terkesan heroik. Bukankah hidup memang sekumpulan pilihan yang berujuang pada perjuangan untuk survive? Dan, betapa kita amat sangat mudah memberi simpati kepada underdog yang mampu mengejar mimpinya di langit ketujuh dengan segala ketidakberdayaan dan ketidakidealannya? Makin dramatis backround dan prosesnya, makin tersimpati kita karenanya.

Turki jelas bukan unggulan di Grup A Euro 2008. Sejak hasil undian diumumkan, peta kekuatan di grup ini menjagokan duet Portugal dan Rep. Ceko sebagai favorit untuk lolos ke babak perempat final sebagai juara dan runner up grup. Ramalan hampir menjadi kenyataan di partai hidup-mati tim asuhan Fatih Terim itu. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: June 17, 2008, 12:26 am | No Comments »

15  Jun
Salah berharap

[Jangan mudah percaya pada predikat. Hanya akan mengundang kecewa dan heran. Lihatlah saja realita - karena di sanalah letak hakikat predikat yang sesungguhnya.]

Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar kata “Agung”? Hanya orang bodoh yang mengartikan predikat itu sebagai “biasa-biasa saja”. Sebaliknya, hal itu identik dengan status “the best of the best“, yang terbaik di antara yang terbaik. Sang istimewa yang jauh berbeda dengan kita yang biasa-biasa saja. Memendarkan sinar berwarna emas - minus arang hitam pun jelaga. Karena keluarbiasaannya, bukan karena kebobrokannya.

Logikanya, lembaga yang berani menyandang nama Kejaksaan Agung tentulah berisi pribadi-pribadi terbaik sebagai ujung tombak penegakan keadilan di negerinya. Kumpulan aparat penegak hukum berintegritas yang pantang bekerja seadanya, tak mudah tergoda bujuk rayu, pun tegas menolak upaya menjual keputusan keadilan yang berada dalam genggaman tanggung jawabnya. Kita berharap banyak pada mereka semua.

Faktanya, kita terpaksa mengelus dada. Ternyata pilar-pilar keadilan kita itu mudah menyerah pada money power. Mengikuti pemberitaan media yang gencar mengulas skenario kongkalikong antara “terdakwa” dan “pendakwa”yang diperantarai oleh para petinggi “rumah keadilan, segera makin lunturlah kepercayaan kita pada mereka yang diharapkan menjadi ujung tombak penegakkan keadilan di negeri ini.

Dada kita makin sesak jika menyadari betapa ini bukan kasus pertama yang mencoreng reputasi lembaga tinggi negara. Memang, tak ada kesalahan yang bisa dihukum sebelum ada keputusan final di meja hijau. Sederet sangkalan mulai meluncur deras dari “rumah yang agung” itu. Pembelaan yang membuat kita makin mencibir melihat betapa keras usaha mereka membersihkan citra agung lembaganya yang jelas-jelas sudah penuh noda hitam. Wajahnya menghitam… meredupkan pancaran sinar emasnya…

Sekeras apa pun Joachim Loew menyangkal kekerdilan timnya saat kalah 1-2 dari Kroasia di partai kedua penyisihan Grup B Piala Eropa 2008, tetap saja publik dibuat kecewa oleh penampilan salah satu tim favorit tersebut. Pujian setinggi langit yang diperoleh Michael Ballack dkk saat mengandaskan Polandia 2-0 di partai pertama sontak menguap setelah Kroasia melesakkan dua gol telak ke gawang Jens Lehmann. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: June 15, 2008, 1:48 am | No Comments »

« Previous Entries