[Pelajaran ada di mana-mana. Bahkan dari sesuatu yang tampaknya sama sekali berbeda. Hanya perlu kesediaan membuka mata pada segala. Kadang, ada penemuan ajaib di sana.]
Apa hubungannya penyelenggaraan Pemilu dengan bisnis? Teman saya punya jawaban yang jitu: sama-sama butuh kemampuan menghitung hasil dengan cepat dan akurat! Nah, lho? Kok bisa? Teman saya memang jeli sekali. Latar belakang pendidikan politik dan sekaligus praktek sebagai aktivis jalanan memberinya ilham saat menjalankan profesi sebagai businessman.
“Begini penjelasannya,†jelasnya dalam sebuah pertemuan. “Lihatlah bisnis quick count yang belakangan marak dalam setiap Pemilu dan Pilkada di negeri ini. Banyak sekali lembaga yang menyediakan fasilitas penghitungan cepat dan akurat untuk memprediksi hasil akhir. Peserta Pemilu dan Pilkada tentu butuh suplai informasi untuk memonitor pencapaiannya tanpa perlu menunggu pengumuman resmi KPU.â€
“Nah,†lanjutnya antusias. “Bisnis kita juga bisa dilihat dalam kaca mata seperti itu. Kita juga membutuhkan informasi cepat dan akurat mengenai seberapa sukses produk kita diterima pasar. Bagaimana caranya? Sama dengan pemilu dan Pilkada, kita bisa memilih beberapa outlet sebagai sample yang dianggap mewakili secara keseluruhan tingkat penjualan produk kita.â€
Luar biasa!
Ide yang semula kami kira hanyalah joke belaka itu ternyata bisa dipraktekkan di lapangan. Persis seperti quick count, tim riset berhasil menemukan cara memilih sample untuk memprediksi sales total tanpa perlu menunggu laporan bulanan. Tinggal pencet, kami sudah tahu berapa banyak produk yang terjual sebagai gambaran akan seberapa laku produk tersebut. Dan, biasanya tingkat melesetnya juga sangat tipis.
Kuncinya adalah kejelian melihat sisi positif, bahkan dari sesuatu yang sepertinya tidak ada hubungannya. Persis seperti Pemilu dan bisnis, Joachim Loew juga mampu membangun korelasi antara sepak bola dan bola basket. Lho, kok bisa? Pelatih tim nasional Jerman itu menjawab, “Saya selalu terkesan dengan kemampuan pemain basket dalam bertahan dari serangan lawan. Saya piker kami bisa belajar banyak dari mereka untuk memperbaiki permainan kami.â€
Pelatih yang didaulat menggantikan Juergen Klinsmann sebagai der trainer tim Panzer Jerman selepas Piala Dunia 2006 ini tak sekadar mengagumi, namun mencari cara untuk melakukan transfer knowledge dari tangan pertama. Tanpa ragu dia mengundang Denis Wucherer, salah satu pemain basket anggota timnas Jerman yang kini bermain di sebuah klub di Belgia.
Loew kemudian mendaulat pemain basket senior berumur 34 tahun itu memimpin sesi latihan resmi saat timnas Jerman melakukan pemusatan latihan di Mallorca, Spanyol menjelang Euro 2008. Wucerer diberi dua kali sesi masing-masing selama 75 menit untuk mempraktekkan seni bertahan yang dikuasainya kepada pemain-pemain Jerman. Sesi unik yang, menurut pengakuan Loew, secara signifikan mampu meningkatkan kemampuan tiga pemain bertahannya: Tim Borowski, Per Mertesacker, dan Piotr Trochowski.
“Kami sengaja mengundang mantan pemain nasional basket Jerman sebagai pelatih basket kami untuk meningkatkan skill bertahan. Kami tdfak bermaksud melakukan revolusi permainan sepak bola, namun kami yakin berlatih basket akan member pengayaan terhadap para pemain,†jelas Loew.  “Saya merasa terlalu banyak pelanggaran yang dilakukan pemain Jerman. Saya menginginkan kami bisa mendesak lawan ke daerahnya sendiri tanpa perlu selalu menekan mereka secara fisik.â€
Bukan sekali ini saja Loew dan timnas Jerman berguru kepada ahli di luar sepak bola untuk mempersiapkan diri. Menjelang Piala Dunia 2006, misalnya, Jerman yang masih dilatih Juergen Klinsmann mengusulkan untuk mengangkat seorang ahli strategi olahraga hoki untuk menjadi penasehat teknis. Usul yang ditentang hebat dan akhirnya batal diimplementasikan. Untunglah keinginan Klinsmann meminta bantuan pelatih fitnes, ahli gizi, dan ilmuwan olahraga tak ditentang.
Belakangan setelah Michael Ballack cs berprestasi gemilang di Germany 2006, semua langkah controversial yang dilakukan Klinsmann itu baru dipuji setinggi langit. Kini Loew – yang saat itu masih menjadi asisten Klinsmann – mendapat manfaatnya karena tak mendapatkan resistensi berarti dari public dan pengamat sepak bola Jerman.
Klinsmann, Loew, dan timnas Jerman mengajarkan kita betapa banyak hal-hal di luar kita yang bisa diambil untuk memperbaiki diri. Tidak seperti katak dalam tempurung yang memang memilih tak tahu apa-apa dan mengurung diri dari dunia luar, mereka sengaja membuka tempurung itu, melongok keluar, berinteraksi dengan segala hal yang ditemui. Lantas secara selektif memilih hal-hal mana saja yang bisa dipraktekkan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan diri.
Tapi, tentu saja tak semua ide bisa diaplikasikan dalam bidang yang lain. Teman saya itu, contohnya, harus mengakui bahwa mencontoh para politisi yang hanya peduli pada popularitas saja tak layak kami terapkan. Bagi kami, kualitas produk adalah nomor satu dan otomatis akan menjadi iklan terbaik bagi konsumen. Tak perlu latah menghabiskan dana promosi besar-besaran seperti para politisi yang tak semuanya layak mempromosikan diri itu…