[Pelajaran ada di mana-mana. Bahkan dari sesuatu yang tampaknya sama sekali berbeda. Hanya perlu kesediaan membuka mata pada segala. Kadang, ada penemuan ajaib di sana.]

Apa hubungannya penyelenggaraan Pemilu dengan bisnis? Teman saya punya jawaban yang jitu: sama-sama butuh kemampuan menghitung hasil dengan cepat dan akurat! Nah, lho? Kok bisa? Teman saya memang jeli sekali. Latar belakang pendidikan politik dan sekaligus praktek sebagai aktivis jalanan memberinya ilham saat menjalankan profesi sebagai businessman.

“Begini penjelasannya,” jelasnya dalam sebuah pertemuan. “Lihatlah bisnis quick count yang belakangan marak dalam setiap Pemilu dan Pilkada di negeri ini. Banyak sekali lembaga yang menyediakan fasilitas penghitungan cepat dan akurat untuk memprediksi hasil akhir. Peserta Pemilu dan Pilkada tentu butuh suplai informasi untuk memonitor pencapaiannya tanpa perlu menunggu pengumuman resmi KPU.”

“Nah,” lanjutnya antusias. “Bisnis kita juga bisa dilihat dalam kaca mata seperti itu. Kita juga membutuhkan informasi cepat dan akurat mengenai seberapa sukses produk kita diterima pasar. Bagaimana caranya? Sama dengan pemilu dan Pilkada, kita bisa memilih beberapa outlet sebagai sample yang dianggap mewakili secara keseluruhan tingkat penjualan produk kita.”

Luar biasa!

Ide yang semula kami kira hanyalah joke belaka itu ternyata bisa dipraktekkan di lapangan. Persis seperti quick count, tim riset berhasil menemukan cara memilih sample untuk memprediksi sales total tanpa perlu menunggu laporan bulanan. Tinggal pencet, kami sudah tahu berapa banyak produk yang terjual sebagai gambaran akan seberapa laku produk tersebut. Dan, biasanya tingkat melesetnya juga sangat tipis.

Kuncinya adalah kejelian melihat sisi positif, bahkan dari sesuatu yang sepertinya tidak ada hubungannya. Persis seperti Pemilu dan bisnis, Joachim Loew juga mampu membangun korelasi antara sepak bola dan bola basket. Lho, kok bisa? Pelatih tim nasional Jerman itu menjawab, “Saya selalu terkesan dengan kemampuan pemain basket dalam bertahan dari serangan lawan. Saya piker kami bisa belajar banyak dari mereka untuk memperbaiki permainan kami.” Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: May 23, 2008, 7:47 pm | No Comments »

[Keunggulan pastilah membuat hati penuh bunga warna-warni. Tapi, masihkah dia tetap mekar bersemi jika kita diundang untuk ikut mengembangkan mereka yang kurang?]

Kenapa Ujian Akhir Nasional (UAN) mendapat banyak perlawanan? Entah itu dari siswa yang merasa belajar tahunan hanya dinilai dalam beberapa menit, para pendidik yang menolak materi soal yang sama, para pengamat yang menganggap hal itu sebagai sebuah kebijakan yang ambisius dan terlalu dipaksakan.

Semua setuju bahwa standard pendidikan harus ditingkatkan. Yang ditolak adalah cara instan dengan mengujikan soal yang sama untuk seluruh siswa - dengan harapan bisa segera mendongkrak kemampuan mereka. Persoalannya, mungkinkah memaksa seseorang menjadi pintar hanya dalam semalam? Jawabannya sudah ada dan terbukti: UAN justru memakan banyak korban. Prosentase kelulusan yang melorot jauh, maraknya bisanis bocoran jawaban, sampai penangkapan guru oleh Densus 88!

Tidakkah pemerintah melihat  kesenjangan kualitas pendidikan di kota besar dengan kota terpencil tak melulu disebabkan kebodohan dan kemalasan siswa? Bukankah mereka tahu ada jurang perbedaan sarana dan prasarana yang membuat hanya segelintir siswa dari daerah yang bisa menyaingi teman-temannya di kota besar? Apakah tidak sebaiknya memperbaiki syarat pendidikan secara merata lebih dulu daripada memaksakan setumpuk soal yang disusun berdasarkan standard terbaik ke seluruh pelosok negeri?

Jika dibiarkan, hanya mereka yang dididik dengan standard tertentu yang bisa lulus UAN dan melanjutkan sekolahnya. Sebaliknya, mereka yang gagal - karena memang tidak punya bekal cukup - otomatis akan kehilangan kesempatan merancang masa depan secerah teman-temannya yang beruntung berada di lokasi yang lebih baik dan didukung fasilitas memadai. Ketidakadilan yang harus setia dilawan.

Joseph S. Blatter punya prinsip serupa. Deep inside, Presiden FIFA ini menginginkan sepak bola menjadi permainan yang melibatkan sebanyak mungkin orang dari sebanyak mungkin latar belakang. Dia mulai risau melihat gejala tak sehat yang makin kencang mengarus berupa eksodus talenta-talenta terbaik dari negara-negara tertentu ke klub-klub dan negara-negara yang kekurangan pemain potensial. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: May 23, 2008, 6:16 pm | No Comments »