[Tidak semua yang baik sungguh benar-benar baik. Ada kalanya kebaikan justru mengawali keburukan. Waspadalah terhadap kebaikan di sekitar kita.]
“Pa… kasihan anak kita kalau sekolah harus naik kendaraan umum,” kata seorang istri kepada suaminya. “Papa kan tahu sendiri kualitas transportasi umum di sini. Sopirnya sering ugal-ugalan, di dalam juga banyak copet dan penjahat. Apa sebaiknya tidak kita belikan motor saja?”
Sambil tetap membaca koran pagi yang baru sempat dibaca sepulang kantor, si suami menjawab logis. “Anak kita kan masih kecil. Umurnya belum cukup untuk bikin SIM. Toh nggak apa-apa juga susah sekarang biar dia nggak jadi manja. Kita juga dulu susah jadi tahu bagaimana sulitnya untuk menjadi orang. Sudah jangan terlalu dimanja. Salah-salah dia malah celaka karena belum boleh naik motor di jalan besar.”
Pendapat yang masuk akal juga. Tapi, rasa sayang seorang ibu juga tak bisa disalahkan. Membayangkan anaknya kepanasan, berdesak-desakan, berpeluh campur bau ketika masuk gerbang sekolah tentu bukan keadaan yang menyenangkan bagi buah hatinya. Toh, dia merasa cukup mampu membelikan motor anaknya karena ada sedikit rejeki lebih. Setelah merayu berbulan-bulan lamanya, akhirnya sang suami setuju.
Tapi, mereka lupa bahwa kesulitan yang dihadapi sang anak hanya salah satu faktor dari sekian banyak faktor. Sampai suatu hari mereka menyadari betapa si kecil yang masih duduk di bangku SMS sudah jarang di rumah karena keasyikan mengukur jalan bersama teman-teman sepermainannya. Lupa belajar, hanya punya waktu sedikit buat keluarga, dan terutama makin sulit dikontrol karena merasa punya mainan baru.
Daniel Guiza pernah mengalami masa-masa buruk seperti “si kecil”. Striker Real Mallorca ini menjadi besar kepala karena merasa punya bakat brilian yang diminati banyak klub di Liga Spanyol. Dalam usia yang relatif masih sangat belia, dia sudah dipercaya membela klub papan tengah sekelas Xerez, Barcelona B, Recreativo Huelva, dan Getafe - sebelum akhirnya berlabuh di klub yang dibelanya sekarang.
Layaknya anak muda yang besar kepala karena merasa sedang di puncak dunia, dia tak peduli pada aturan, disiplin, dan kerja keras yang menjadi syarat mutlak untuk sukses. Sebaliknya, dia lebih senang menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang sembari menyelami kehidupan malam yang kelam. Bakatnya bukannya menjulang, malah redup karena sering mangkir latihan dan jarang bersinar saat turun berlaga di lapangan.
Sampai musim lalu, Guiza masih sekadar menjadi “calon pemain potensial”. Bernd Schuster, pelatihnya di Getafe musim lalu mengakui anak muda itu sesungguh-sungguhnya adalah “the best finisher in Spain football“. Sayang, pilihannya menomorsatukan pesta-pesta liar dan menomorsekiankan sepak bola menjadikannya “calon pecundang”.
Ketika sang calon bintang menyadari kesalahannya, dengan cepat bakatnya menyeruak ke permukaan. Musim ini adalah musim terbaik striker berumur 27 tahun itu. Di Mallorca, dia mencetak total 27 gol untuk merebut gelar El Pichichi alias pencetak gol tersubur di La Liga. Prestasi yang diganjar panggilan tim nasional untuk memperkuat skuad asuhan Luis Aragones di Piala Eropa 2008. Bersaing ketat dengan dua bintang muda yang lebih dulu bersinar: Fernando Torres dan David Villa.
Luar biasa!
Apa rahasia lesatan yang sedemikian pesat? Tak lain adalah kehadiran Nuri Bermudez, seorang aktris kondang di negeri itu yang dikenal tak sungkan melepas pakaiannya saat tampil di layar kaca. Jangan melihat sisi negatifnya, tapi cermatilah betapa besar pengaruh sang wanita dalam hidup Guiza. Dengan kehadiran seorang anak, lengkaplah kehidupan Guiza sehingga sisi pribadinya menjadi terarah, tenang, dan matang.
Arah cinta yang diberikan Bermudez tampaknya berhasil menyihir Guiza menjadi sosok yang sanggup mengoptimalkan talentanya. Kini, dia tengah merajut mimpi untuk kembali memperkuat tim elite. Meski mengaku butuh kerja keras, dia tahu bukan mustahil untuk kembali meniti karier di Barcelona yang tengah melakukan reparasi besar-besaran. Tanpa cinta Bermudez, boleh jadi saat ini Guiza masih menjadi pecundang yang ditendang kesana kemari.
Sepintas si kecil di keluarga itu beruntung memiliki cinta yang sangat membantunya. Tapi, rasa sayang itu berubah menjadi petaka ketika dua orangtua penuh kasih itu mendengar kabar anaknya masuk ke rumah sakit akibat kecelakaan sewaktu mengendarai motornya. Ternyata cinta mereka mengarahkan si kecil pada situasi yang belum sepenuhnya bisa dikontrol dan dikendalikannya dengan baik. Ajakan teman dan bakat ugal-ugalan mengantar keluarga itu dalam duka berkepanjangan.
Kita semua punya kasih, sayang. cinta. Kita semua punya pilihan untuk mengarahkannya ke arah mana. Syukur-syukur bisa membuat orang lain menjadi lebih baik, tapi pastikanlah tak membuat satu orang pun celaka karenanya.