[Sekali tertoreh, tak akan pernah dia tertutup dengan sempurna. Kutunggu waktuku untuk membalaskannya dengan sempurna. Entah kini atau esok kelak…]

Dua orang bersaudara tengah bertengkar. Tak usahlah disebut pangkal soalnya. Yang pasti, menyita sekian banyak energi untuk beradu argumentasi, bertukar bentakan, pun berebut gebrakan meja. Suasana panas tak juga kunjung mereda. Sampai keluarlah sebuah kalimat penutup yang ternyata menjadi awal perpisahan berkepanjangan.

“Ini rumahku!” teriak sang pemilik rumah. “Tidak kubiarkan seorang pun membentak-bentak di dalam pekaranganku. Sekarang pergilah, keluar dari rumah ini dan jangan pernah lagi berani menginjakkan kakimu di sini!” Ending sempurna untuk mengakhiri perselisihan, namun sekaligus perfect start untuk sebuah pembenaran kebencian berkepanjangan. Tanpa akhir, tanpa jembatan, tanpa maaf…

Sang lawan pertengkaran tiba-tiba diam. Mengeras, menunjukkan rasa marah yang luar biasa dengan air muka merah padam. Dia berbalik tanpa suara, membawa segumpal marah bercampur dendam yang tiada cara membasuhnya. Hanya tekad untuk membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih kasar dan akibat yang lebih pedih. Entah kapan…

Kemarahan punya banyak wajah. Ibarat luka, ada yang cuma tergores, tapi juga ada yang butuh waktu tahunan untuk sembuh. Ada yang akhirnya bisa seratus persen pulih, ada yang meninggalkan bekas - terlihat maupun tidak. Bekas itulah yang kini mendasari keputusan Clarence Seedorf menolak panggilan Marco van Basten untuk memperkuat Belanda di Piala Dunia 2008.

“Saya terkejut karena tidak mengharapkan hal itu (penolakan-red). Saya katakan pada Seedorf bahwa saya sangat menghormatinya sebagai pemain dan pribadi. Sayangnya dia tidak mau meralat keputusannya itu,” kata pelatih muda yang mengemban tanggung jawab berat untuk menggapai prestasi tinggi bagi Belanda yang tidak terlalu bersinar performanya di pentas dunia.

Nama Seedorf memang sempat lama tak terpakai oleh timnas negaranya, pada periode 2004 sampai 2006. Namun, gelandang kelahiran Suriname ini diyakini pengamat bakal menjadi salah satu figur penting di timnas Belanda yang akan berlaga di Austria/Swiss 2008. Terutama setelah melihat peran vital yang dipertontonkannya di Serie-A bersama AC Milan. Kehadiran Pato yang diprediksi bakal meredupkan sinarnya ternyata tidak terjadi. Seedorf justru makin penting dalam skema permainan I Rossonerri.

Saat banyak pihak mengernyitkan dahi tanda tak mengerti pada keputusan itu, Seedorf dengan gamblang memberi jawabannya. “Adalah mimpi saya memperkuat Belanda. Sayang, mimpi itu telah direnggut dari saya sewaktu Piala Dunia 2006 bergulir. Maka saya tidak punya pilihan lain kecuali menarik diri dari skuad jika tidak ingin melawan integritas saya sendiri,” jelasnya kepada pers.

Rupanya gelandang berusia 32 tahun ini masih mendendam perilaku Van Basten beberapa tahun lalu. “Mengapa Van Basten sudah memiliki pandangan tersendiri mengenai saya yang mempengaruhi peniliannya terhadap saya sebagai pemain? Suatu kali dia pernah menyebut saya seperti “bintang Hollywood”. Saya mengharapkan yang terbaik untuk Belanda di Euro 2008. Lebih baik Van Basten memilih para pemain yang dipercayainya penuh.”

Jelas bahwa Seedorf tak bisa menerima penolakan Van Basten bertahun-tahun lalu. Meski sebagai pemain dia mengerti betul bahwa pelatih memiliki hak penuh untuk memilih pemainnya, tetap saja dia merasa ditolak dan sangat tersakiti karenanya. Alasan kebutuhan taktik saat itu dan level permainannya yang sedang buruk tidak bisa diterima sebagai alasan yang masuk akal. Ketika panggilan itu datang, sesuai kondisi yang sudah berubah, Seedorf bergeming. Luka hatinya membuat keputusannya menjadi bulat dan tidak bisa ditawar lagi.

Aroma balas dendam terasa benar dalam penolakan Seedorf. Sebabnya karena dia mengaku akan bersedia membela negaranya lagi jika bukan Van Basten tak lagi menjadi pelatih. Memang kontrak pelatih muda itu bakal berakhir selepas Euro 2008 dan bakal digantikan oleh Bert van Marwijk. “Saya siap memberikan kontribusi penuh di kualifikasi Piala Dunia 2010 jika pelatih baru membutuhkan saya,” kata Seedorf mengisyaratkan dia belum mau pensiun dari karier tim nasional.

Lihat, betapa dendam tak terbasuh bahkan dalam hitungan tahun. Dua saudara itu tetap saja saling memusuhi hingga kini. Tak satu pun cara untuk mendamaiakan mereka berhasil. Mungkin masing-masing mereka menyimpan rasa rindu dan sesal, tapi api amarah selalu berhasil membakar rasa itu hingga lenyap tanpa bekas.

Posted by injurytime, filed under Bara Hati. Date: May 19, 2008, 2:31 am |

2 Responses

  1. puang Says:

    salam kenal dari bandung
    saya suka membaca artikelnya, jangan tanya kenapa

  2. baby Says:

    Nice website!!

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.