19  May
The right love

[Tidak semua yang baik sungguh benar-benar baik. Ada kalanya kebaikan justru mengawali keburukan. Waspadalah terhadap kebaikan di sekitar kita.]

“Pa… kasihan anak kita kalau sekolah harus naik kendaraan umum,” kata seorang istri kepada suaminya. “Papa kan tahu sendiri kualitas transportasi umum di sini. Sopirnya sering ugal-ugalan, di dalam juga banyak copet dan penjahat. Apa sebaiknya tidak kita belikan motor saja?”

Sambil tetap membaca koran pagi yang baru sempat dibaca sepulang kantor, si suami menjawab logis. “Anak kita kan masih kecil. Umurnya belum cukup untuk bikin SIM. Toh nggak apa-apa juga susah sekarang biar dia nggak jadi manja. Kita juga dulu susah jadi tahu bagaimana sulitnya untuk menjadi orang. Sudah jangan terlalu dimanja. Salah-salah dia malah celaka karena belum boleh naik motor di jalan besar.”

Pendapat yang masuk akal juga. Tapi, rasa sayang seorang ibu juga tak bisa disalahkan. Membayangkan anaknya kepanasan, berdesak-desakan, berpeluh campur bau ketika masuk gerbang sekolah tentu bukan keadaan yang menyenangkan bagi buah hatinya. Toh, dia merasa cukup mampu membelikan motor anaknya karena ada sedikit rejeki lebih. Setelah merayu berbulan-bulan lamanya, akhirnya sang suami setuju.

Tapi, mereka lupa bahwa kesulitan yang dihadapi sang anak hanya salah satu faktor dari sekian banyak faktor. Sampai suatu hari mereka menyadari betapa si kecil yang masih duduk di bangku SMS sudah jarang di rumah karena keasyikan mengukur jalan bersama teman-teman sepermainannya. Lupa belajar, hanya punya waktu sedikit buat keluarga, dan terutama makin sulit dikontrol karena merasa punya mainan baru.

Daniel Guiza pernah mengalami masa-masa buruk seperti “si kecil”. Striker Real Mallorca ini menjadi besar kepala karena merasa punya bakat brilian yang diminati banyak klub di Liga Spanyol. Dalam usia yang relatif masih sangat belia, dia sudah dipercaya membela klub papan tengah sekelas Xerez, Barcelona B, Recreativo Huelva, dan Getafe - sebelum akhirnya berlabuh di klub yang dibelanya sekarang. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Misteri Cinta. Date: May 19, 2008, 10:04 pm | No Comments »

[Sekali tertoreh, tak akan pernah dia tertutup dengan sempurna. Kutunggu waktuku untuk membalaskannya dengan sempurna. Entah kini atau esok kelak…]

Dua orang bersaudara tengah bertengkar. Tak usahlah disebut pangkal soalnya. Yang pasti, menyita sekian banyak energi untuk beradu argumentasi, bertukar bentakan, pun berebut gebrakan meja. Suasana panas tak juga kunjung mereda. Sampai keluarlah sebuah kalimat penutup yang ternyata menjadi awal perpisahan berkepanjangan.

“Ini rumahku!” teriak sang pemilik rumah. “Tidak kubiarkan seorang pun membentak-bentak di dalam pekaranganku. Sekarang pergilah, keluar dari rumah ini dan jangan pernah lagi berani menginjakkan kakimu di sini!” Ending sempurna untuk mengakhiri perselisihan, namun sekaligus perfect start untuk sebuah pembenaran kebencian berkepanjangan. Tanpa akhir, tanpa jembatan, tanpa maaf…

Sang lawan pertengkaran tiba-tiba diam. Mengeras, menunjukkan rasa marah yang luar biasa dengan air muka merah padam. Dia berbalik tanpa suara, membawa segumpal marah bercampur dendam yang tiada cara membasuhnya. Hanya tekad untuk membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih kasar dan akibat yang lebih pedih. Entah kapan…

Kemarahan punya banyak wajah. Ibarat luka, ada yang cuma tergores, tapi juga ada yang butuh waktu tahunan untuk sembuh. Ada yang akhirnya bisa seratus persen pulih, ada yang meninggalkan bekas - terlihat maupun tidak. Bekas itulah yang kini mendasari keputusan Clarence Seedorf menolak panggilan Marco van Basten untuk memperkuat Belanda di Piala Dunia 2008. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Bara Hati. Date: May 19, 2008, 2:31 am | 2 Comments »