[Tataplah ke depan, jangan sekali-kali menengok ke belakang. Betul, tapi sempatkanlah beberapa jenak untuk melihat sekelilingmu.]
Ini cerita nyata. Terjadi di sebuah rumah kontrakan kecil di sebuah gang kecil di pojok Bagusrangin - sebuah kawasan yang cukup terkenal bagi penyantap makanan khas di Kota Kembang itu. Tempat segerombolan pelaku aktivitas parlemen jalanan berkumpul menyewa beberapa kamar kost sebagai markas sekaligus tempat rapat dadakan.
Malam itu, dalam temaram cahaya lilin karena terkena pemadaman PLN, tokoh-tokoh mahasiswa dari berbagai kota sedang menggelar rapat penting. Kalau tidak salah ingat, agenda utamanya adalah membahas rencana aksi demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan Pemerintah RI soal penanganan kasus Timor Timur. Kala itu belum ada Timor Leste karena daerah itu masih menjadi anggota Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Saat ini keadaan sedang genting,” buka pemimpin rapat sekaligus korlap aksi esok hari. “Malam ini kita harus menyiapkan segala sesuatunya agar rencana berjalan lancar dan tidak ada satu pun yang tertangkap aparat serta berakhir damai. Setiap orang akan diberi tanggung jawab sehingga tidak ada satu hal pun terlewat. Saya minta keseriusan semua untuk memastikan pesan kita sampai ke pihak yang berwenang lewat bantuan kawan-kawan pers yang berada di belakang kita.”
Heroik. tegang. Serius. Jam-jam berikutnya diisi diskusi, debat, bahkan perdebatan panjang plus pertukaran volume suara tinggi dan perlombaan gebrakan tangan. Seru. Semalam suntuk rumah kontrakan itu sibuk melakukan ini-itu. Menjanjikan sebuah aksi besar yang rapi, tertib, aman. Mau tahu hasil akhir rapat mahasiswa idealis pembela rakyat itu? Aksi gagal total karena para peserta rapat - yang merupakan pelaku inti aksi - ternyata… tak ada di lokasi seperti jadwal yang disepakati!
Acap kali kita melupakan hal-hal kecil sehingga mimpi-mimpi besar urung terwujud. Patrick Evra tahu betul prinsip dasar itu. Bek muda Manchester United itu merasakan bagaimana gabungan talenta brilian, kesempatan bagus, dan atmosfer menyenangkan tak otomatis membuatnya dekat dengan cita-citanya menjadi pemain besar. Tanpa kemampuan beradaptasi dengan hal-hal kecil, sinar pemain kelahiran Senegal ini sempat meredup dan nyaris hilang dari peredaran.
“Sungguh sangat berbeda hidup di Manchester dengan hari-hari di Monte Carlo,” ucapnya mengenang hari-hari pertama kepindahannya dari Monaco, Perancis ke Manchester United, Inggris. “Saya harus melakukan penyesuaian yang tak terbayangkan sebelumnya. Bukan hal mudah bagi saya dan keluarga saya.”
Evra mengenang bagaimana waktu pertandingan yang tidak teratur di Liga Inggris membuatnya sulit mengatur ritme tubuh. Menu pasta yang wajib disantap saat sarapan jika MU harus bertanding siang hari malah membuatnya muntah-muntah setelah pertandingan. Pergerakan cepat sepak bola Inggris dengan skema kick and rush membuatnya kesulitan mempertontonkan skill individu yang menjadi keunggulannya saat menjadi pemain andalan salah satu klub papan atas Perancis, Monaco.
Sederet kendala yang langsung meredupkan pamor pemain yang memiliki paspor Perancis ini. Dia kemudian mengaku shock saat menyadari namanya tidak ada dalam daftar pemain yang dipanggil untuk berlaga memperkuat The Bleus di Piala Dunia 2006. “Saya marah pada diri sendiri karena gagal berangkat ke Germany 2006. Sejak itu saya bertekad memperbaiki diri untuk segera kembali pada penampilan terbaik.”
Begitulah… Evra kemudian berusaha keras menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya di tanah rantau. Dengan cepat dia bisa menerima variasi menu dan waktu makan tim, pola permainan dan strategi pelatih, serta ritme pertandingan cepat di Premier League. Kini posisinya sebagai bek di Manchester United boleh dikatakan sudah kembali pada posisi andalan. Begitu juga peluangnya mewakili Perancis di Euro 2008 diprediksi sejumlah pengamat masih terbuka lebar jika melihat level permainannya hari-hari ini.
Evra berharap tak ada lagi hal-hal kecil yang terlupa sehingga klubnya tak perlu gagal meraih gelar Liga Champions pekan depan di Rusia melawan Chelsea. Dia tak ingin mengulang kegagalan kalah 0-3 dari FC Porto di final Liga Champions 2004 saat masih berbaju Monaco. Dulu, kenangnya, Monaco samasekali tak siap karena memang tidak diproyeksikan sampai ke final. Ibaratnya, dulu dia berangkat ke final mengendarai “Fiat Monaco”, kini dia mengemudikan “Ferrari MU” untuk menantang Chelsea.
Mau tahu kenapa para demonstran yang heroik dan gagah berani itu gagal menjalankan aksi? Karena… mereka terlambat bangun! Terlalu bersemangat mempersiapkan segala sesuatunya menjadi sempurna, mereka lupa bahwa tubuh mereka juga membutuhkan istirahat. Karena persiapan berlangsung sampai dini hari, nyaris semua tak bisa bangun untuk mengejar jam 10 pagi sesuai undangan yang terlanjur disebar ke publik.
“Ini hal terbodoh yang pernah kita lakukan,” kata salah satu tokoh pergerakan senior. “Bagaimana mungkin kita menyelamatkan rakyat jika bangun pagi saja tidak bisa?” Kami tertawa kecut menyadari betapa hal-hal kecil bisa menjadi sebab keruntuhan hal-hal besar. Rapat sih rapat, tapi jangan lupa bangun dong…