May
14
Sini temani aku…
May 14, 2008 |
[Kenapa hidup terasa indah? Karena ada sederet hal baru yang kita temui dengan segala rasanya. Betapa membosankan hari-hari ini jika menemui segala yang sewarna, senada, seragam.]
Bisik-bisik di belakang punggung pimpinan. “Awas, jangan sekali-kali bikin salah. Kariermu bakalan tamat,” kata seseorang. Yang lain menimpali, “Iya, dia nggak pernah mau ngalah. Jangan harap idemu diterima kalau nggak sejalan dengan kemauannya.” Merasa masih kurang, karyawan lain menimpali dengan cerita pengalaman buruknya, “Pernah sebuah rapat tanpa kehadirannya memutuskan A. Begitu dia datang esoknya, semua keputusan diralat hanya karena dia tidak bisa menerimanya. Sejak itu orang takut beride, lebih baik diam dan menerima saja apa pun perintahnya.”
Jelas, itu sebuah gerundelan sosial sejumlah karyawan tentang pimpinannya. Tentang sebuah kantor yang dipimpin oleh pimpinan yang otoriter, yang mau menangnya sendiri, yang sangat dominan. Situasi berbahaya dari kondisi one man show yang - bisa diduga - membuat kantor seperti kuburan tanpa suara, tanpa sanggahan, tanpa perdebatan. Suasana membosankan yang dijamin membuat banyak manusia akan memilih pindah dan pergi ke tempat lain - jika bisa memilih…
Sesuatu yang menyandang predikat “terlalu” biasanya akhir-akhirnya akan berujung pada kenegatifan. Lihatlah dominasi Bayern Muenchen di kompetisi Liga Jerman yang mulai membuat khawatir banyak pihak. Bundesliga 1, nama resmi kompetisi sepak bola di Jerman, mulai merasakan efek negatif superioritas klub berjuluk FC Hollywood yang musim ini untuk empat kalinya hanya dalam kurun waktu 4 musim meraih “domestic double glory” alias menjuarai dua kompetisi sekaligus (Liga Jerman dan Piala Jerman).
“Sangat berbahaya jika Bayern Muenchen kita biarkan memenangkan kejuaraan tiga atau empat kali dalam lima tahun ke depan,” kata Direktur Bayer Leverkusen, Rudi Voeller. Kecemasan yang amat sangat wajar jika melihat tak satu pun klub lain di Jerman yang sanggup menandingi kekuatan finansial klub yang musim depan akan dilatih oleh Juergen Klinsmann itu. Di saat klub lain berhemat, awal musim lalu mereka sanggup mendaratkan striker Italia Luca Toni, gelandang Perancis Franck Ribery, serta striker utama Jerman Miroslav Klose dengan dana mencapai 100 juta dollar AS.
Menjelang musim depan kabarnya klub yang sering diwarnai konflik internal para bintangnya itu sudah melepas tawaran gaji senilai 6 juta dollar AS per musim ke meja Gennaro Gattusso demi memperkuat tim untuk mengejar ambisi menjadi jawara di Eropa. Jika jadi bergabung, talenta gelandang pekerja yang kini bermain di AC Milan itu bakal makin memperkokoh lini tengah tim. Realita yang membuat pelatih VfB Stuttgart, Armin Veh, pesimis ada klub lain yang bisa mengadang sepak terjang Muenchen, “Tugas kami makin sulit karena tim itu (Muenchen-red) akan makin stabil dan kompak di tahun-tahun ke depan.”
Dominasi Muenchen memang membuat puas publik Allianz Arena - kandang mereka, namun membuat pengamat dan publik was-was. Di satu sisi, liga yang hanya mampu menghadirkan satu kekuatan utama saja akan membuat putaran roda kompetisi terlihat dangat membosankan karena juaranya 99 persen sudah diketahui. Di lain sisi, rivalitas yang timpang membuat klub jawara itu tak teruji kualitasnya. Mungkin itu bisa menjelaskan kenapa sejarah Muenchen di Liga Champions terbilang sangat jelak dan musim ini malah secara mengejutkan tersingkir di kompetisi kelas dua Eropa, Piala UEFA dari FC Zenith Petersburgh, Rusia.
Memimpin sejak pekan pertama sampai pekan terakhir, musim ini Muenchen hanya kalah dua kali dari juara bertahan VfB Stuttgart dan Energie Cottbus. Itu pun melulu karena penampilan jelek dan sedikit kesialan sehingga hasil itu diwartakan sebagai kejutan karena di atas kertas Muenchen terlalu perkasa.
Sialnya, tak ada yang bisa disalahkan dari dominasi Muenchen di tanah Bavaria. Mustahil menyalahkan ambisi manajemen klub di bawah kepemimpinan sang presiden legendaris, Franz Beckenbaeur yang secara sadar membangun timnya menjadi “the best of the best team in German League“. Susah juga menuding para pemain bintang mata duitan karena faktanya Muenchen lah yang berani paling tinggi membayar nilai kontrak dan gaji mereka. Satu-satunya solusi yang bisa diambil adalah mendorong klub lain segera berbenah untuk mengadang langkah raksasa Muenchen sehingga kompetisi menjadi lebih punya greget.
Karena, sia-sia menyalahkan dominasi jika faktanya tak ada yang berbuat apa pun untuk meredam superioritas tanpa tanding yang membosankan itu. Sama seperti bos di atas yang tak bisa dengan mudah disalahkan. Apalagi setelah saya berkesempatan mendengar keluh-kesahnya di ruang kerjanya yang berantakan karena terlalu banyak menumpuk kertas kerja dan barang-barang yang tak perlu.
“Saya tahu mereka membicarakan saya,” katanya membuka curhat. “Tapi, saya punya alasan untuk semua keluhan itu. Bagaimana mungkin saya menjalankan keputusan yang tidak bagus untuk bisnis? Bagaimana saya tidak marah jika mereka tidak pernah datang dengan ide matang dan argumentasi kuat? Bagaimana bisa saya mempromosikan karyawan yang belum menunjukkan prestasi mengesankan?”
Dua-duanya benar. Dua-duanya tidak salah. Masing-masing punya argumen untuk menguatkan penilaiannya. Pertanyaannya, apa sih nikmatnya menjalani hidup tanpa gejolak, dinamika, perbedaan - namun menyimpan bara amarah di dada?
Mari sini temani aku… Aku membutuhkan kehadiran kalian untuk menemani perjalananku, sparring partner seimbang, sehingga aku tak kau biarkan sendiri pongah dan jumawa…
Tapi, jangan minta aku memberikannya… Kejar, perjuangkan, raihlah aku…
Comments
1 Comment so far
uh. dalem nih. pak angry young man emang bisa bikin angry eh adem.