07  May
Dahaga Ahmad Dhani

[Tiada kenikmatan yang lebih sempurna selain melihat musuh tersungkur melata, mengerang, menggelepar. Kadang kemenangan saja tak cukup untuk melepas dahaga kepuasan diri.]

Tanpa bermaksud melawan seruan boikot terhadap Ahmad Dhani - karena ucapannya di sebuah acara infotainment yang menyebut “orang yang membuat blog di Internet adalah orang yang kurang kerjaan” dan “orang yang membaca blog di Internet adalah orang-orang bodoh”, saya mengakui adalah salah satu dari sekian banyak pengagum Ahmad Dhani, frontman grup musik Dewa 19 yang sering menjadi pusat pemberitaan.

Tak bisa dipungkiri bahwa pria kelahiran Surabaya pada 1972 itu adalah musisi bertalenta istimewa - sebagai musisi, vokalis, pencipta lagu, pengaransemen lagu, pun produser dan talent scouter. Tanpa dia, Dewa 19 tak akan setenar sekarang ini. Berkat sentuhan tangannyalah banyak lagu menjadi hits dan sejumlah artis meroket menembus persaingan ketat blantika musim Indonesia.

Tapi, bukan berarti saya 100 persen setuju dengan bapak tiga anak yang lucu-lucu itu. Terutama menyangkut pilihan-pilihan sikapnya dalam menghadapi persoalan dan kontroversi yang seperti senang bersahabat dengannya. Suatu kali saya pernah membaca artikel tentang sosoknya dan seperti memperoleh sedikit pembenaran akan perangainya yang tergolong tidak biasa itu. “Sejak kecil saya memang menyukai yang hebat-hebat,” katanya ketika ditanya apa kekurangan yang ada dalam dirinya.

Dalam banyak hal, kehebatan Dhani sulit disangsikan. Sayang, dalam sejumlah hal, kehebatan Dhani juga merasuki hal-hal yang tidak pada tempatnya. Salah satu yang paling mengganggu adalah keinginannya menjadi suami yang baik dengan mensyaratkan kesetiaan total istrinya. Jika tidak sejalan, dia akan melakukan apa saja untuk memastikan Maia tersadar dan kembali ke jalan yang menurutnya benar.

Tidak ada yang salah dengan niat menjadi suami dan bapak yang hebat. Adalah wajar belaka jika suami ingin mendidik istri tercinta. Hanya, menjadi pertanyaan besar jika caranya adalah dengan menjelek-jelekkan istrinya di depan publik, menebar teror dalam beragam jenis, pun sengaja menyakiti hati dengan rupa-rupa aksi yang aneh-aneh.

Adakah menjadi hebat punya arti ketika pihak lain menjadi kalah, menderita, dipermalukan akibat kita menginginkan kesempurnaan menjadi yang terbaik?

Diakui atau tidak, keinginan untuk menegaskan kemenangan total kini tengah merasuki hati skuad Real Madrid yang baru saja meraih gelar La Liga ke-31 sepanjang sejarah usai menang 2-1 atas Real Osasuna beberapa hari lalu. Meski sudah dipastikan juara, El Real masih menyimpan bara untuk mengalahkan Barcelona kala mereka menjamu musuh abadinya itu di Stadion Santiago Bernabeu, dini hari ini. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: May 7, 2008, 10:20 pm | 2 Comments »