[Berdiri di atas tak hanya berarti berhak atas kekuasaan belaka. Keistimewaan yang sesungguhnya sia-sia belaka jika tak berwujud konkrit. Tidak terkecuali saat berhadapan dengan kompleksitas peraturan yang terlihat seperti barang keramat.]
Sesekali saya suka mendengarkan radio saat meretas kemacetan di Jakarta. Beberapa hari lalu saya tertarik menyimak sebuah acara di Radio Hard Rock FM, kalau tidak salah, tentang upaya radio itu menolong para pendengarnya yang menghadapi persoalan pelik. Mulai dari persoalan keluarga, pekerjaan, sampai sekadar bunga-bunga percintaan. Unik, menarik, sekaligus mengundang keingintahuan.
Hari itu, misalnya, ada seorang pendengar yang meminta crew radio menolongnya mendapat tambahan cuti dari pimpinannya. Ceritanya dia ingin terbang ke Australia menemui pacarnya yang butuh waktu sekitar 5 hari kerja, sementara bosnya hanya memberi cuti 3 hari lamanya. Sang pimpinan, yang adalah seorang wanita disiplin, mengatakan 3 hari sudah lebih dari cukup di saat beban kerja kantornya sedang cukup berat. Keputusan yang berusaha dilunakkan oleh seorang penyiar radio itu yang diutus berangkat untuk bernegoisasi langsung dengan bos pendengar yang minta bantuan itu.
Setelah Manchester United mengalahkan Barcelona dan memastikan bakal terjadinya all England final di final Liga Champions 2008 melawan Chelsea yang sehari kemudian berhasil menekuk Liverpool, para pejabat UEFA resah setengah mati menyadari kemungkinan kekacauan penyelenggaraan partai puncak sepak bola Eropa tersebut. Masalahnya, Rusia – tuan rumah final yang akan digelar di Luzhniki Stadion, Moskow – menerapkan aturan ketat soal kedatangan turis atau warga asing. Tanpa kecuali, semua visitor harus dibekali visa yang sah untuk masuk ke negara tersebut.
Bisa dibayangkan betapa mustahilnya kerja Departemen Luar Negeri Rusia memproses puluhan ribu permohonan visa hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Padahal, prosedur resmi permohonan visa baru bisa selesai paling cepat dalam waktu 4 minggu. Bisa dipastikan jika peraturan itu diterapkan, Stadion Luzhniki akan kekurangan penonton yang dikhawatirkan bakal membuat kemeraiahan gelaran akan banyak tereduksi. Apalagi menyebut konflik bilateral di antara Inggris dan Rusia yang belum 100 persen selesai akibat sebuah kasus pembunuhan di London yang terjadi pada tahun 2006.
Awalnya, pihak Rusia menegaskan akan tetap mewajibkan semua suporter memiliki visa yang sah untuk bisa masuk ke negara itu. Tidak ada pengecualian. Rule is a rule. “Kami akan membuat prosedur khusus untuk memudahkan proses pengurusan visa dan menjamin semua orang akan mendapatkan visa tepat pada waktunya. Prosedur itu jauh lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan aturan yang diberlakukan Pemerintah Inggris kepada warga Rusia yang hendak menonton pertandingan di Inggris,†demikian pernyataan tertulis Deplu Rusia - masih dengan bahasa diplomatik yang menyertakan sindiran halus kepada Pemerintah Inggris itu.
Kabarnya pihak Rusia sudah bersedia membuka kantor perwakilan sementara di London dan Manchester – tempat kedua klub finalis bermarkas – untuk memproses lebih dari 43.000 permohonan. Di pihak lain, pejabat UEFA juga berusaha menghormati aturan Rusia dan tidak memaksakan kehendak untuk kepentingannya sendiri. “Semua penonton harus memiliki visa yang sah sesuai aturan yang diberlakukan tuan rumah. Kita harus menghormati otoritas pihak Rusia, meski berharap mendapat sejumlah kemudahan untuk melancarkan segala sesuatunya,†kata pejabat UEFA berusaha meredam gejolak yang sempat muncul akibat kasus ini.
Jika para penguasa berpijak pada aturannya sendiri-sendiri dan tidak mau lebih fleksibel dan menyesuaikan dengan keadaan, dijamin persoalan ini akan berlarut-larut. Mengharapkan aparat Negara Rusia yang terkenal sedikit kaku itu melonggarkan aturan demi mempermudah kedatangan warga asing boleh jadi terlalu berlebihan. Sementara meminta ribuan suporter bersabar dan mengerti peliknya persoalan protokoler yang dihadapi pemerintah Rusia sehingga tidak memunculkan keonaran juga terlalu sulit diimpikan mengingat karakter suporter Inggris yang terbilang tak kenal kompromi.
Beruntunglah sepak bola adalah dunia yang sangat universal. Dunia yang kadang bisa memecahkan sebuah persoalan pelik dengan amat sangat mudah – melampaui prediksi dan analisa paling akurat sekalipun. Tanpa diduga, perkembangan yang terjadi berlangsung amat sangat cepat. Hanya dalam hitungan hari, persoalan demi persoalan cepat teratasi. Dan, hari Senin ini, muncul pengumuman resmi yang sangat melegakan semua pihak.
“Suporter dapat datang tanpa visa dan masuk ke Rusia hanya dengan berbekal tiket yang telah divalidasi, paspor yang masih berlaku, dan dokumen imigrasi yang sah,†kata Alexei Sorokin, salah satu pejabat di Rusia yang bertanggung jawab atas persiapan partai final. “Ini sungguh sebuah keputusan yang tidak terduga yang dihasilkan oleh pemerintah Rusia.â€
What a decision!
Tidak terbayangkan sebelumnya Rusia – eks salah satu dari dua negara Super Power yang selama ini tak sudi diatur oleh siapapun – mau rendah hati mengakomodasi sebuah peristiwa yang terbilang tidak terlalu penting untuk para pejabat pemerintah: final Liga Champions 2008. Sulit menerima bahwa pemerintah Rusia mau menghapus aturan ketat, meski hanya untuk sementara, dan berisiko kedatangan penyusup di antara puluhan ribu manusia yang dating mengatasnamakan pencinta sepak bola – sebuah skenario yang sangat wajar dan masuk akal bagi pejabat keamanan negeri beruang itu.
Kali ini wajah kekuasaan berubah ramah terhadap publik. Tak ada ketakutan berlebihan, kecemasan menghambat, pun kecurigaan tak pada tempatnya. Sebaliknya, yang muncul adalah sikap penuh pengertian terhadap kebutuhan ribuan orang dan sungguh bersikap sebagai abdi masyarakat yang bertugas memberi kenyamanan bagi warganya – meski itu adalah warga asing. Citra aparat pemerintahan dimanapun yang sangat dirindukan warganya, termasuk di negeri ini, Indonesia tercinta, yang sepertinya masih menjadi angan-angan belaka.
Fleksibilitas toh bisa menguntungkan semua pihak. Penyiar radio di atas, misalnya, pada akhirnya mendapat credit point tersendiri setelah berhasil melunakkan hati sang bos disiplin itu – meski dengan syarat harus mau mengantarkan si bos belanja pada satu hari libur. Jangan ditanya betapa girangnya sang pemohon bantuan itu yang sudah membayangkan bisa berlama-lama menghabiskan waktu dengan kekasihnya di Negeri Kanguru. Sementara si bos? Jangan salah, dia justru mendapat paling banyak keuntungan: menegakkan reputasi bijak kepada anak buahnya, mendapat kesempatan langka belanja ditemani penyiar radio terkenal, dan mendapat simpati pendengar acara radio tersebut yang jumlahnya tentu tak sedikit.
Lihat, mengalah tak selamanya berarti kalah, bukan?