[Berdiri di atas tak hanya berarti berhak atas kekuasaan belaka. Keistimewaan yang sesungguhnya sia-sia belaka jika tak berwujud konkrit. Tidak terkecuali saat berhadapan dengan kompleksitas peraturan yang terlihat seperti barang keramat.]

Sesekali saya suka mendengarkan radio saat meretas kemacetan di Jakarta. Beberapa hari lalu saya tertarik menyimak sebuah acara di Radio Hard Rock FM, kalau tidak salah, tentang upaya radio itu menolong para pendengarnya yang menghadapi persoalan pelik. Mulai dari persoalan keluarga, pekerjaan, sampai sekadar bunga-bunga percintaan. Unik, menarik, sekaligus mengundang keingintahuan.

Hari itu, misalnya, ada seorang pendengar yang meminta crew radio menolongnya mendapat tambahan cuti dari pimpinannya. Ceritanya dia ingin terbang ke Australia menemui pacarnya yang butuh waktu sekitar 5 hari kerja, sementara bosnya hanya memberi cuti 3 hari lamanya. Sang pimpinan, yang adalah seorang wanita disiplin, mengatakan 3 hari sudah lebih dari cukup di saat beban kerja kantornya sedang cukup berat. Keputusan yang berusaha dilunakkan oleh seorang penyiar radio itu yang diutus berangkat untuk bernegoisasi langsung dengan bos pendengar yang minta bantuan itu.

Setelah Manchester United mengalahkan Barcelona dan memastikan bakal terjadinya all England final di final Liga Champions 2008 melawan Chelsea yang sehari kemudian berhasil menekuk Liverpool, para pejabat UEFA resah setengah mati menyadari kemungkinan kekacauan penyelenggaraan partai puncak sepak bola Eropa tersebut. Masalahnya, Rusia – tuan rumah final yang akan digelar di Luzhniki Stadion, Moskow – menerapkan aturan ketat soal kedatangan turis atau warga asing. Tanpa kecuali, semua visitor harus dibekali visa yang sah untuk masuk ke negara tersebut. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: May 6, 2008, 11:42 am | No Comments »