[Diam-diam kita kerap bangga melihat “kebakaran” di rumah sendiri. “Lihat, apa yang terjadi setelah kutinggalkan..,” begitu kita bergumam bangga. Padahal, bukankah itu justru menandakan kegagalan dalam membangun fondasi rumah kita?]
Dalam sebuah pelatihan manajemen, seorang peserta bertanya kritis, “Apakah yang harus kita lakukan ketika posisi terancam dan akan ada orang baru yang masuk? Menyiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin agar pengganti kita lebih mudah melanjutkan pekerjaan atau justru membuat keadaan sulit supaya calon pengganti kita kesulitan memperbaiki keadaan dan pada akhirnya akan gagal?”
Sebuah pertanyaan yang aneh, namun ternyata sulit sekali dijawab. Dengar penjelasan lanjutan dari manajer muda yang mengajukan pertanyaan itu, “Kalau kita membuat semuanya menjadi baik sebelum pergi, bukankah yang akan mendapat nama adalah pengganti kita itu? Kalau orang baru itu gagal, ‘kan ujung-ujungnya keberhasilan kita saat berada di sana akan tetap diingat orang bukan?”
Hmmm… we got the point!
Sadar atau tidak, kita mungkin tidak rela membantu orang lain untuk sukses, berhasil, mendapatkan nama baik. Kita lebih suka menjadi pribadi yang menonjol - bahkan ketika sudah tidak berada di tempat tersebut. Maka, bisa dipahami jika sebagian kita memilih menyiapkan keburukan bagi pengganti kita daripada menyediakan fondasi kuat untuk memudahkan jalan bagi orang lain. Namun, menarik juga untuk mencoba memahami pilihan Ottmar Hitzfeld ketika tahu posisinya akan segera diambil alih oleh Juergen Klinsmann di awal musim depan.
Hitzfeld yang kenyang pengalaman melatih banyak tim besar dengan sejumlah prestasi besar itu tak tergoda mempertahankan reputasi dengan mengorbankan orang lain. Dia justru bekerja keras untuk menyiapkan the champion-winning team untuk memudahkan pekerjaan yuniornya nanti. Pelatih senior yang akan menangani timnas Swiss usai gelaran Piala Eropa 2008 itu tidak merasa terancam dengan kemungkinan kesuksesan yang akan diraih penggantinya kelak berdasarkan kerangka kerja yang dibangunnya kini.
“Saya bersyukur bisa menyerahkan tim hebat kepada Klinsmann,” kata Hitzfeld usai memastikan gelar juara Liga Jerman dengan menahan imbang Wolfsburg, 1-1. “Tim ini punya potensi untuk meraih sukses di tahun-tahun mendatang jika ditangani dengan benar. Saya berharap Klinsmann bisa membuat tim ini menjadi lebih hebat dari yang telah ada sekarang ini.”
Pernyataan yang tentulah mengundang simpati besar dari pers dan publik. Seorang incumbent secara sadar dan sengaja memilih melempangkan calan bagi calon suksesornya - plus segunung harapan agar dia bisa meneruskan pekerjaannya dengan lebih hebat di masa-masa yang akan datang. Sebuah kejadian yang tidak biasa dan bahkan terbilang langka untuk dunia sepak bola yang dikenal sportif sekalipun.
Suksesi pelatih di lingkup klub-klub elite biasanya memang tidak mulus. Seorang pelatih baru akan diganti jika menunjukkan performa jelek, entah dengan alasan kontrak habis atau secara terbuka dikatakan gagal memenuhi target yang diembankan. Jarang sekali terjadi sebuah tim sudah menyiapkan pelatih pengganti saat pelatih yang sedang menjabat masih menunjukkan prestasi mengesankan.
Itu yang membuat kebanyakan pelatih baru dihadapkan pada kondisi tim yang tidak ideal sehingga sulit menjawab tantangan untuk menghasilkan prestasi yang lebih baik dari pendahulunya. Dan jika pada akhirnya memang berhasil, pelatih baru itu bisa menepuk dada akan kerja kerasnya - yang secara otomatis menegasi kerja keras pelatih terdahulu.
Hitzfeld sendiri datang ke Bayern Muenchen dalam situasi yang tidak terlalu kondusif. Februari tahun lalu, dia didaulat mereparasi Bayern Muenchen yang tengah sekarat setelah manajemen klub memecat Felix Magath yang dianggap gagal menghadirkan sepak bola atraktif dan terutama gelar juara. Sayang, hanya punya waktu beberapa bulan membuat Hitzfeld gagal memenuhi target meloloskan Muenchen ke zona Liga Champions.
Tapi, hal itu dibayar dengan penampilan hebat sepanjang musim 2007-08. Peraih 7 gelar Liga Jerman sebagai pelatih itu secara jitu mampu menggabungkan kekuatan Luca Toni sebagai mesin gol, Franck Ribery sebagai motor lini tengah, dan mengembalikan sentuhan emas Miroslav Klose. Hasilnya, selain mendominasi kompetisi liga, tim asuhannya juga meraih gelar Piala Jerman dan Piala Liga Jerman. Sayang, gelar Piala UEFA gagal dibawa pulang karena dipermalukan FC Zenit dengan skor telak, 0-4!
“Ini musim yang sangat unik bagi Muenchen karena tuntutan yang begitu tinggi kepada kami. Pengeluaran klub sangat besar (sekitar 100 juta dollar AS-Red) sehingga wajar jika tuntutannya juga sangat tinggi. Semua terbayar lunas saat kami memastikan gelar juara. Saya bangga karena klub ini sudah kembali ke habitatnya sebagai klub nomor satu di Jerman,” tutup Hitzfeld di masa akhir kepelatihannya.
Tugas Hitzfeld usai sudah. Saatnya kini dia memberi jalan kepada Klinsmann. Dengan filosofi ingin memberi tim terbaik kepada penggantinya, Hitzfeld tentu akan merasa ikut gagal jika Klinsmann tak sanggup membangun tim juara kelak. Inilah teladan kepemimpinan yang pantas kita contoh: memberi yang terbaik, meski ada risiko hasil karya kita diakui sebagai pencapaian orang lain.
Kembali ke kelas manajemen tadi, fasilitator menjawab tak kalah cerdik. “Bayangkan Anda punya sebuah mobil kesayangan yang sudah saatnya diganti mobil baru. Apakah Anda tega menjualnya dalam keadaan rusak dan membiarkan pemilik baru memaki-maki mobil kesayangan Anda karena terlalus ering mogok? Atau Anda lebih senang melepas mobil kesayangan dalam kondisi prima sehingga si pembeli makin rajin merawat mobil kesayangan Anda?,” kata motivator ulung itu berumpama.
“Ilmu manajemen tidak mengajarkan bagaimana cara menjawab pertanyaan Anda. Saya hanya bisa menyerahkan jawaban itu kepada Anda mana yang menurut Anda paling sesuai dengan karakter Anda: senang dipuji karena kegagalan orang lain atau ikut tersenyum melihat keberhasilan orang lain karena tahu Anda punya andil di dalamnya - meski tak selalu diketahui orang lain.”