[Kemenangan tetaplah kemenangan. Tak peduli dicapai dengan cara yang elegan, penuh puja-puji, sarat sensasi atau hanya dalam diam, gurat masam duka, jauh dari kata mengesankan.]
Saya paling tidak suka tampil necis, rapi, wangi. Sebisa mungkin saya menghindari terjebak dalam penampilan yang menurut saya tak terlalu penting itu. Buat saya, rambut yang sedikit gondrong tak rapi tanpa sentuhan sisir rambut, kemeja casual yang tak perlu dimasukkan ke dalam celana, plus jeans bahan yang tak perlu licin-licin diseterika sudah lebih dari cukup. Bagi saya yang penting apa isi kepala saya dan bagaimana kelakuan saya. Tapi, sayangnya tak semua setuju.
Entah berapa kali rekan kerja saya menyindir penampilan saya yang super seadanya itu. Buat mereka – yang kebetulan bergerak di bidang bisnis – kesan pertama dan impresi yang terwujud dari penampilan dianggap sangat penting. “Jika kesan pertama sudah bagus, itu sudah 50 persen dari keberhasilan deal. Kalau belum-belum mereka udah eneg ngliat lu, bagaimana mau lanjut ke deal?†ketus teman saya suatu ketika. Tak salah, karena memang begitulah faktanya.
Siapa tak kenal Jose Mourinho yang begitu elegan saat dipercaya menangani sebuah tim? Baik ketika masih di Barcelona, FC Porto, dan terakhir di Chelsea, sang manajer sangat peduli pada penampilan dan bagaimana dia dilihat oleh publik. Entah saat memakai training suit club di tempat latihan, dengan jas dan dasi di pinggir lapangan, atau lewat serangkaian kalimat yang memukau di hadapan para wartawan. Pendeknya, tak boleh ada penampilan tanpa berita – juga sensasi – dalam kamus hidupnya. Read the rest of this entry »