Kita semua pasti pernah khilaf. Berbuat salah – entah disengaja atau tidak. Tapi, tentulah tidak semua kita pernah merasakan bagaimana perih pedih didera ketakutan akibat sang alpa. Sebuah fase – menurut para pelakunya – yang sungguh membuat depresi dan frustrasi. Membuat kesalahan saja sudah berat, apalagi dibumbui baying-bayang risiko besar sebagai efek peristiwa yang biasanya terlambat kita sesali itu.
Bagi kita yang berstatus orang biasa alias warga kebanyakan mungkin sedikit penyimpangan tak mengapa. Lain soal bagi mereka yang dipercaya menjadi sosok sentral dalam komunitasnya. Entah itu pejabat, selebritis, atau tokoh organisasi. Nama baik, citra bersih, reputasi terhormat kadang menjadi segala-galanya bagi public figure itu. Sedikit saja tercoreng, kerapkali berarti kemunduran atau bahkan kematian kecemerlangan mereka. Meredupkan segala kebenderangan yang terpancar dari sosok jati diri.
Itu sebabnya kenapa hari-hari ini Ronaldo merasa perlu menutup diri dan hidupnya untuk sementara waktu usai ulahnya menjadi berita utama media-media sekolong jagat. Mengunci diri di rumah, menolak komunikasi dengan pihak luar, membatalkan dua appoinment tampil di acara televisi lokal yang telah disepakati jauh-jauh hari sebelumnya. Alasan resmi yang dipublikasikan adalah Ronaldo memerlukan waktu sendiri untuk melanjutkan sesi fisioterapi. Padahal, sesungguhnya, striker AC Milan itu tengah berupaya memulihkan mentalnya. Read the rest of this entry »