28  May
Memegang merpati

[Kenapa harus ada abu-abu di dunia ini? Mungkin karena kita kerap tak merasa cukup dengan hanya punya warna hitam dan putih belaka.]

Setujukah Anda dengan hubungan artis bernama Rico Ceper yang kini dikabarkan tengah menjalin asmara dengan Stachy Vianda Lubis? Sesungguhnya tak ada satu alasan pun untuk menolak mengingat - katanya - panah asmara tak pernah pandang bulu. Bulu apa pun dan siapa pun bisa terkena tusukannya yang mematikan itu.

Namun, menjadi lain jika kita menyinggung perbedaan usia di antara keduanya yang sangat jauh, sekitar 18 tahun. Rasanya tidak elok melihat Rico yang sudah memasuki usia matang di angka 34 menyunting Stachy yang terbilang masih bau kencur karena baru menyentuh angka 16. Tak heran jika kedua orangtua pihak wanita merasa sangat keberatan dan sampai nekat melaporkan pacar anaknya ke pihak yang berwajib. Kejadian yang sempat menyita perhatian publik penggemar infotainment.

Sayang, masalah tak jua selesai. Stachy makin mengeraskan perlawanan terhadap kedua orangtuanya sendiri itu. Dia tetap tak mau kembali ke rumah dan memilih menghabiskan masa minggatnya dengan tinggal di rumah salah seorang kerabatnya. Gadis muda ini membatukan keinginannya untuk tetap boleh menjalin cinta dengan “Papa” Rico. Sebaliknya, pihak orangtua juga tak mau beringsut dari pendiriannya bahwa Stachy dianggap masih terlalu muda untuk berpikir soal pernikahan - apalagi dengan seorang duda yang nyaris memasuki kepala 4.

Bahkan kehadiran seorang Seto Mulyadi - yang dikenal kerap menjadi penengah konflik keluarga itu - tak banyak membantu. Kak Seto - begitu dia kerap disapa - tahu benar bahwa konflik sepelik ini tak bisa diselesaikan dengan cepat, “Menghadapi remaja ibarat menggenggam merpati. Kalau digenggam kencang, nanti mati. Kalau enggak digenggam, terbang. Jadi, harus ada tarik-menarik yang lembut.”

Hmmm… tarik-menarik yang lembut… filosofi sederhana yang sepertinya memang sering menjadi kunci penyelesaian banyak masalah dalam keseharian kita… Tidak hanya menarik, tapi juga mau mengulur. Dan satu yang tak boleh dilupakan, harus lembut. Dalam bahasa orang bijak, pandai-pandailah berada di wilayah abu-abu. Tidak hitam, tidak juga putih. Persis seperti yang kini tengah dipraktekkan oleh Fabio Capello kepada John Terry cs di skuad asuhannya, St. George Cross. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: May 28, 2008, 7:07 pm | No Comments »

[Setiap kita mungkin merasa menjadi pihak yang paling menderita, paling susah, paling tertekan. Benarkah? Jangan-jangan ada seseorang yang lebih segalanya dari kita… Siapa dia?]

Sungguh malang nasib Widyawati. Aktris yang harus saya akui membuat saya kagum setengah mati karena kecantikan dan citra dirinya itu. Tiga puluh tahun lebih memiliki kesempurnaan hubungan dengan Sophan Sophian terenggut hanya dalam beberapa detik kealpaan.

Sang suami yang mungkin alpa menjaga stamina sehingga mempengaruhi konsentrasi mengemudi moge-nya, sang dewi fortuna yang alpa melindungi sang pengemudi dari musibah, pun pihak yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan fasilitas umum berupa jalan yang mulus dan rata. Sederet alpa yang membawa pulang sang pahlawan ke hadapan Ilahi.

Satu lagi contoh betapa mudah kita menderita karena orang yang amat dekat dengan kita. Orang yang amat sangat kita sayangi, kita cintai, kita kasihi. Ibarat kata, setipis apa pun goresan di kulitnya juga bakal ikut terasa perih kita dibuatnya. Derai air mata hanyalah sebuah awal mula dari kesepian tanpa ujung yang mau tidak mau harus dihadapi Widyawati dengan ketabahan luar biasa.

Sepintas kita hanya melihat bagaimana seorang Avram Grant harus berjuang sendiri menghadapi tekanan dalam mengarahkan Chelsea FC yang dikemudikannya. Sejak kepergian Jose Mourinho di tengah musim berjalan, pria Israel ini secara mengejutkan ditunjuk menjadi pelatih The Blues. Keputusan yang ditanggapi sinis oleh nyaris semua pihak. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Misteri Cinta. Date: May 26, 2008, 3:46 pm | No Comments »

[Pelajaran ada di mana-mana. Bahkan dari sesuatu yang tampaknya sama sekali berbeda. Hanya perlu kesediaan membuka mata pada segala. Kadang, ada penemuan ajaib di sana.]

Apa hubungannya penyelenggaraan Pemilu dengan bisnis? Teman saya punya jawaban yang jitu: sama-sama butuh kemampuan menghitung hasil dengan cepat dan akurat! Nah, lho? Kok bisa? Teman saya memang jeli sekali. Latar belakang pendidikan politik dan sekaligus praktek sebagai aktivis jalanan memberinya ilham saat menjalankan profesi sebagai businessman.

“Begini penjelasannya,” jelasnya dalam sebuah pertemuan. “Lihatlah bisnis quick count yang belakangan marak dalam setiap Pemilu dan Pilkada di negeri ini. Banyak sekali lembaga yang menyediakan fasilitas penghitungan cepat dan akurat untuk memprediksi hasil akhir. Peserta Pemilu dan Pilkada tentu butuh suplai informasi untuk memonitor pencapaiannya tanpa perlu menunggu pengumuman resmi KPU.”

“Nah,” lanjutnya antusias. “Bisnis kita juga bisa dilihat dalam kaca mata seperti itu. Kita juga membutuhkan informasi cepat dan akurat mengenai seberapa sukses produk kita diterima pasar. Bagaimana caranya? Sama dengan pemilu dan Pilkada, kita bisa memilih beberapa outlet sebagai sample yang dianggap mewakili secara keseluruhan tingkat penjualan produk kita.”

Luar biasa!

Ide yang semula kami kira hanyalah joke belaka itu ternyata bisa dipraktekkan di lapangan. Persis seperti quick count, tim riset berhasil menemukan cara memilih sample untuk memprediksi sales total tanpa perlu menunggu laporan bulanan. Tinggal pencet, kami sudah tahu berapa banyak produk yang terjual sebagai gambaran akan seberapa laku produk tersebut. Dan, biasanya tingkat melesetnya juga sangat tipis.

Kuncinya adalah kejelian melihat sisi positif, bahkan dari sesuatu yang sepertinya tidak ada hubungannya. Persis seperti Pemilu dan bisnis, Joachim Loew juga mampu membangun korelasi antara sepak bola dan bola basket. Lho, kok bisa? Pelatih tim nasional Jerman itu menjawab, “Saya selalu terkesan dengan kemampuan pemain basket dalam bertahan dari serangan lawan. Saya piker kami bisa belajar banyak dari mereka untuk memperbaiki permainan kami.” Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: May 23, 2008, 7:47 pm | No Comments »

[Keunggulan pastilah membuat hati penuh bunga warna-warni. Tapi, masihkah dia tetap mekar bersemi jika kita diundang untuk ikut mengembangkan mereka yang kurang?]

Kenapa Ujian Akhir Nasional (UAN) mendapat banyak perlawanan? Entah itu dari siswa yang merasa belajar tahunan hanya dinilai dalam beberapa menit, para pendidik yang menolak materi soal yang sama, para pengamat yang menganggap hal itu sebagai sebuah kebijakan yang ambisius dan terlalu dipaksakan.

Semua setuju bahwa standard pendidikan harus ditingkatkan. Yang ditolak adalah cara instan dengan mengujikan soal yang sama untuk seluruh siswa - dengan harapan bisa segera mendongkrak kemampuan mereka. Persoalannya, mungkinkah memaksa seseorang menjadi pintar hanya dalam semalam? Jawabannya sudah ada dan terbukti: UAN justru memakan banyak korban. Prosentase kelulusan yang melorot jauh, maraknya bisanis bocoran jawaban, sampai penangkapan guru oleh Densus 88!

Tidakkah pemerintah melihat  kesenjangan kualitas pendidikan di kota besar dengan kota terpencil tak melulu disebabkan kebodohan dan kemalasan siswa? Bukankah mereka tahu ada jurang perbedaan sarana dan prasarana yang membuat hanya segelintir siswa dari daerah yang bisa menyaingi teman-temannya di kota besar? Apakah tidak sebaiknya memperbaiki syarat pendidikan secara merata lebih dulu daripada memaksakan setumpuk soal yang disusun berdasarkan standard terbaik ke seluruh pelosok negeri?

Jika dibiarkan, hanya mereka yang dididik dengan standard tertentu yang bisa lulus UAN dan melanjutkan sekolahnya. Sebaliknya, mereka yang gagal - karena memang tidak punya bekal cukup - otomatis akan kehilangan kesempatan merancang masa depan secerah teman-temannya yang beruntung berada di lokasi yang lebih baik dan didukung fasilitas memadai. Ketidakadilan yang harus setia dilawan.

Joseph S. Blatter punya prinsip serupa. Deep inside, Presiden FIFA ini menginginkan sepak bola menjadi permainan yang melibatkan sebanyak mungkin orang dari sebanyak mungkin latar belakang. Dia mulai risau melihat gejala tak sehat yang makin kencang mengarus berupa eksodus talenta-talenta terbaik dari negara-negara tertentu ke klub-klub dan negara-negara yang kekurangan pemain potensial. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: May 23, 2008, 6:16 pm | No Comments »

19  May
The right love

[Tidak semua yang baik sungguh benar-benar baik. Ada kalanya kebaikan justru mengawali keburukan. Waspadalah terhadap kebaikan di sekitar kita.]

“Pa… kasihan anak kita kalau sekolah harus naik kendaraan umum,” kata seorang istri kepada suaminya. “Papa kan tahu sendiri kualitas transportasi umum di sini. Sopirnya sering ugal-ugalan, di dalam juga banyak copet dan penjahat. Apa sebaiknya tidak kita belikan motor saja?”

Sambil tetap membaca koran pagi yang baru sempat dibaca sepulang kantor, si suami menjawab logis. “Anak kita kan masih kecil. Umurnya belum cukup untuk bikin SIM. Toh nggak apa-apa juga susah sekarang biar dia nggak jadi manja. Kita juga dulu susah jadi tahu bagaimana sulitnya untuk menjadi orang. Sudah jangan terlalu dimanja. Salah-salah dia malah celaka karena belum boleh naik motor di jalan besar.”

Pendapat yang masuk akal juga. Tapi, rasa sayang seorang ibu juga tak bisa disalahkan. Membayangkan anaknya kepanasan, berdesak-desakan, berpeluh campur bau ketika masuk gerbang sekolah tentu bukan keadaan yang menyenangkan bagi buah hatinya. Toh, dia merasa cukup mampu membelikan motor anaknya karena ada sedikit rejeki lebih. Setelah merayu berbulan-bulan lamanya, akhirnya sang suami setuju.

Tapi, mereka lupa bahwa kesulitan yang dihadapi sang anak hanya salah satu faktor dari sekian banyak faktor. Sampai suatu hari mereka menyadari betapa si kecil yang masih duduk di bangku SMS sudah jarang di rumah karena keasyikan mengukur jalan bersama teman-teman sepermainannya. Lupa belajar, hanya punya waktu sedikit buat keluarga, dan terutama makin sulit dikontrol karena merasa punya mainan baru.

Daniel Guiza pernah mengalami masa-masa buruk seperti “si kecil”. Striker Real Mallorca ini menjadi besar kepala karena merasa punya bakat brilian yang diminati banyak klub di Liga Spanyol. Dalam usia yang relatif masih sangat belia, dia sudah dipercaya membela klub papan tengah sekelas Xerez, Barcelona B, Recreativo Huelva, dan Getafe - sebelum akhirnya berlabuh di klub yang dibelanya sekarang. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Misteri Cinta. Date: May 19, 2008, 10:04 pm | No Comments »

[Sekali tertoreh, tak akan pernah dia tertutup dengan sempurna. Kutunggu waktuku untuk membalaskannya dengan sempurna. Entah kini atau esok kelak…]

Dua orang bersaudara tengah bertengkar. Tak usahlah disebut pangkal soalnya. Yang pasti, menyita sekian banyak energi untuk beradu argumentasi, bertukar bentakan, pun berebut gebrakan meja. Suasana panas tak juga kunjung mereda. Sampai keluarlah sebuah kalimat penutup yang ternyata menjadi awal perpisahan berkepanjangan.

“Ini rumahku!” teriak sang pemilik rumah. “Tidak kubiarkan seorang pun membentak-bentak di dalam pekaranganku. Sekarang pergilah, keluar dari rumah ini dan jangan pernah lagi berani menginjakkan kakimu di sini!” Ending sempurna untuk mengakhiri perselisihan, namun sekaligus perfect start untuk sebuah pembenaran kebencian berkepanjangan. Tanpa akhir, tanpa jembatan, tanpa maaf…

Sang lawan pertengkaran tiba-tiba diam. Mengeras, menunjukkan rasa marah yang luar biasa dengan air muka merah padam. Dia berbalik tanpa suara, membawa segumpal marah bercampur dendam yang tiada cara membasuhnya. Hanya tekad untuk membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih kasar dan akibat yang lebih pedih. Entah kapan…

Kemarahan punya banyak wajah. Ibarat luka, ada yang cuma tergores, tapi juga ada yang butuh waktu tahunan untuk sembuh. Ada yang akhirnya bisa seratus persen pulih, ada yang meninggalkan bekas - terlihat maupun tidak. Bekas itulah yang kini mendasari keputusan Clarence Seedorf menolak panggilan Marco van Basten untuk memperkuat Belanda di Piala Dunia 2008. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Bara Hati. Date: May 19, 2008, 2:31 am | 2 Comments »

[Tak banyak kita yang punya stok maaf melimpah. Apalagi jika mengingat bekas tusukan luka bernanah yang dulu pernah ditorehkan sedemikian dalam pada kita.]

Pernah menonton salah satu acara reality show berjudul Cinta Lama Bersemi kembali (CLBK)? Mungkin kita dibuat mengernyitkan dahi betapa kreatifnya para produser acara televisi sampai-sampai hal yang seremeh-temeh itu bisa dijadikan salah satu menu acara. Lebih membingungkan lagi betapa kita - masyarakat, penonton, pengiklan - ternyata juga menyukai tayangan yang sepertinya tidak mendidik itu.

Tidak mendidik? Benarkah? Hmm… sepintas memang terkesan terlalu cemen. Buat apa menonton blow up cerita mantan kekasih yang berusaha keras merayu pacar lamanya untuk come back? Kayak nggak ada acara lain yang lebih bagus aja! Memang sih, tapi sebenarnya kita bisa sedikit belajar tentang kesalahan dan dendam di acara itu. Bagaimana sebuah kesalahan di masa lalu bisa menoreh luka sedemikian dalam dan kerapkali menjadi sulit dimaafkan - meski sudah mengaku salah dan meminta maaf.

Kebanyakan episode memperlihatkan betapa sang mantan akan susah sekali menerima pacar lamanya kembali - dengan beragam alasan dan argumentasi. Tak peduli si mantan sudah melakukan apa saja untuk memenangkan hati mantannya, tetap saja luka di masa lalu susah sekali dihapus dari memori.Jika ditarik dalam perspektif yang lebih luas, bukankah itu cerminan diri kita sendiri yang juga kerap tak mudah menerima maaf dan membuka pintu tobat bagi mereka yang pernah membuat alpa dan khilaf pada kita?

Hanya segelintir orang yang bisa berdamai dengan masa lalu pahit dan kemudian memberi kesempatan sekali lagi untuk sang salah. Tak banyak pribadi yang beruntung mendapat pintu maaf setelah menoreh luka sedemikian dalam. Nelson de Jesus Dida berada dalam daftar pendek itu. Kiper kawakan yang beruntung dibukakan pintu maaf oleh klub yang dulu membesarkannya sekaligus klub yang dulu pernah menganggapnya sebagai pemain yang tak tahu diri. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: May 16, 2008, 10:44 am | No Comments »

[Tataplah ke depan, jangan sekali-kali menengok ke belakang. Betul, tapi sempatkanlah beberapa jenak untuk melihat sekelilingmu.]

Ini cerita nyata. Terjadi di sebuah rumah kontrakan kecil di sebuah gang kecil di pojok Bagusrangin - sebuah kawasan yang cukup terkenal bagi penyantap makanan khas di Kota Kembang itu. Tempat segerombolan pelaku aktivitas parlemen jalanan berkumpul menyewa beberapa kamar kost sebagai markas sekaligus tempat rapat dadakan.

Malam itu, dalam temaram cahaya lilin karena terkena pemadaman PLN, tokoh-tokoh mahasiswa dari berbagai kota sedang menggelar rapat penting. Kalau tidak salah ingat, agenda utamanya adalah membahas rencana aksi demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan Pemerintah RI soal penanganan kasus Timor Timur. Kala itu belum ada Timor Leste karena daerah itu masih menjadi anggota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Saat ini keadaan sedang genting,” buka pemimpin rapat sekaligus korlap aksi esok hari. “Malam ini kita harus menyiapkan segala sesuatunya agar rencana berjalan lancar dan tidak ada satu pun yang tertangkap aparat serta berakhir damai. Setiap orang akan diberi tanggung jawab sehingga tidak ada satu hal pun terlewat. Saya minta keseriusan semua untuk memastikan pesan kita sampai ke pihak yang berwenang lewat bantuan kawan-kawan pers yang berada di belakang kita.”

Heroik. tegang. Serius. Jam-jam berikutnya diisi diskusi, debat, bahkan perdebatan panjang plus pertukaran volume suara tinggi dan perlombaan gebrakan tangan. Seru. Semalam suntuk rumah kontrakan itu sibuk melakukan ini-itu. Menjanjikan sebuah aksi besar yang rapi, tertib, aman. Mau tahu hasil akhir rapat mahasiswa idealis pembela rakyat itu? Aksi gagal total karena para peserta rapat - yang merupakan pelaku inti aksi - ternyata… tak ada di lokasi seperti jadwal yang disepakati!

Acap kali kita melupakan hal-hal kecil sehingga mimpi-mimpi besar urung terwujud. Patrick Evra tahu betul prinsip dasar itu. Bek muda Manchester United itu merasakan bagaimana gabungan talenta brilian, kesempatan bagus, dan atmosfer menyenangkan tak otomatis membuatnya dekat dengan cita-citanya menjadi pemain besar. Tanpa kemampuan beradaptasi dengan hal-hal kecil, sinar pemain kelahiran Senegal ini sempat meredup dan nyaris hilang dari peredaran. Read the rest of this entry »

Posted by injurytime, filed under Sang Pemimpi. Date: May 14, 2008, 5:06 pm | No Comments »

« Previous Entries