Dewi PersikSetujukah Anda dengan pencekalan Dewi Persik oleh sejumlah pejabat di negeri ini? Bagi yang setuju, itu adalah tindakan tegas bagi artis yang dinilai telah keluar dari batas-batas kewajaran. Bagi yang menolak, pelarangan itu makin menguatkan citra betapa represifnya negeri ini menangani kebebasan berekspresi.

Pasti ada yang setuju, ada juga yang tidak. Masing-masing punya argumentasi yang jika diperdebatkan tampaknya tak akan pernah bisa menghasilkan kata sepakat. Yang satu akan menuduh pihak lain sok moralis, sementara pihak lain akan menuding kubu lawan sebagai perusak norma-norma kemasyarakatan.

Mari kita bandingkan dengan pertanyaan ini: setujukah Anda jika seorang pemain sepakbola diberi kebebasan sebebas-bebasnya untuk berekspresi di lapangan hijau? Sebuah pertanyaan sederhana yang lagi-lagi akan memicu debat berkepanjangan. Ada yang kontra karena menganggap ekspresi, kebebasan, dan improvisasi adalah nyawa utama permainan paling populer di Indonesia tersebut. Ada juga yang pro karena menilai sikap sportif berdasarkan nilai penghormatan pada lawan adalah prinsip utama yang tak boleh dikalahkan hanya atas nama ekspresi.

Supaya menyingkat perdebatan, baiklah kita melihat saja hasil akhirnya yang sudah disahkan oleh FIFA - yang diikuti nyaris tanpa reserve dari organisasi-organisasi underbow regulator sepakbola dunia itu. Selebrasi usai mencetak gol, misalnya, seorang pemain yang nekat membuka kaosnya sekarang pasti terkena kartu kuning. Alasannya? Itu tindakan yang berlebihan, tidak sopan, dan menyinggung lawan dan suporter.

Masih ingat Steffan Effenberg yang terpaksa dicoret dan dipulangkan pelatih Berti Vogts saat Jerman tampil di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat? Hanya gara-gara kesal dicemooh penonton saat membela Korea Selatan, gelandang andalan asal Bayern Muenchen itu tak kuasa menahan emosi dan mengacungkan jari tengahnya ke arah suporter Jerman. “Pemain harus menunjukkan hormat kepada penonton. Tindakan Effenberg sangat keterlaluan dan bisa merusak moral tim. Dia terpaksa kami pulangkan ke Jerman,” ujar Vogts yang segera mencoret sang pemain yang baru dua kali tampil di AS ‘94 itu akibat tekanan pers dan publik.

Tanyakan juga kepada trio Arsene Wenger, Alex Ferguson, dan Jose Mourinho yang entah berapa kali mendapat teguran - bahkan denda - akibat mengekspresikan emosinya di pinggir lapangan atau menyatakan pendapatnya secara bebas di depan media. Meski hanya secara verbal, apalagi secara fisik, menyerang lawan adalah tindakan yang dilarang dan layak terkena hukuman dengan beragam jenjang dan jenis.

Sejauh ini sepakbola sadar benar posisinya sebagai sesuatu yang mudah mempengaruhi masyarakat. Maka, para decision maker menyadari benar betapa banyak hal yang harus diatur agar tontonan ini makin disukai masyarakat. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka lebih memilih penberimaan publik daripada sekadar membela ekspresi, kebebasan, pun improvisasi di lapangan - yang diakui menjadi salah satu daya tarik terbaik permainan ini.

Marilah kembali ke Dewi Persik. Tidak ada yang melarangnya mencari nafkah sebagai artis. Toh, saya juga harus jujur mengakui kerap terhibur dengan aksi-aksinya. Hanya, jika memang ada sekelompok orang yang merasa keberatan dengan gesture itu, tak bisa juga kita memvonis mereka sok moralis. Sama halnya dengan penonton yang pasti akan sangat marah melihat pemain lawan “menghina” tim favoritnya.

Masalahnya, beda dengan sepakbola yang punya aturan jelas dan mekanisme pengambilan keputusan yang diakui oleh komunitasnya, negeri ini tak punya dua hal mendasar itu. Jadi, mudah sekali kita menuduh si anu kebablasan, si itu sewenang-wenang. Sama mudahnya mengapungkan opini lewat media yang malah justru membingungkan masyarakat.

Sejauh dua hal mendasar itu tak bisa dibereskan, akan terus muncul pro dan kontra untuk kasus sejenis aksi Dewi Persik. Jadi, nikmati saja pro dan kontra itu karena dalam banyak hal kita - masyarakat - tak punya kuasa apa-apa atas pro-kontra itu. Amannya, jika Anda tak suka, jangan tonton Dewi Persik. Jika suka, silakan ikuti goyang aduhainya…

Hanya, sang bijak berkata… tak ada salahnya berekspresi, tapi… pertimbangkan juga reaksi orang atas ekspresimu itu…

Posted by injurytime, filed under Menjadi Bijak. Date: April 28, 2008, 10:23 pm |

6 Responses

  1. herdian Says:

    Dewi-dewi itu yang kurang kerjaan… Menurut saya yang `gituan` itu bukan arts melainkan `eksplorasi` tubuh lantaran tiada lagi yang dapat dijual kecuali tubuhnya. Masih lebih terhormat PSK, malah. Meski sama-sama mengeksplorasi tubuh, setidaknya pada saat bekerja, PSK selalu dalam ruang tertutup.

  2. baratayudha Says:

    Saya kadang-kadang juga kurang setuju dengan dewi yang satu ini memamerkan ‘tari kejang’, tapi mari kita berlatih menerima perbedaan dan keberagaman. Memang berat tapi harus dicoba

  3. jenk Says:

    inilah buah reformasi kebablasan. Menurut Aristoteles, kebebasan tanpa tanggung jawab adalah anarki…hmmm.

  4. Khairuddin Lahat Says:

    Ada teman saya yang bilang kalo kelakuan si Persik yang ‘ngelantur’ itu akibat ’stress’ lantaran masalah pribadinya dengan si Jamil. Tp apapun alasannya seharusnya si Persik harus sadar bahwa dia itu seorang Muslimat. Nah kalo dia sudah merasa benar2 manusia muslimat, maka dia takkan melakukan goyang kejang yang layaknya perbuatan kaum Jahiliyah dimasa lampau.

  5. bambytop Says:

    ego “keakuan” berlebihan melahirkan kebebasan tanpa tanggun jawab,
    kebebasan tanpa tanggung jawab melahirkan anarkis,
    anarkis melahirkan kerusakan,
    kerusakan melahirkan kehancuran,
    kehancuran melahirkan ketiadaan

    awalnya dari mendahulukan “keakuan” ego yang berlebihan, awalnya dari yang serba berlebihan.

    mari secukupnya, ketika mau mbeli mobil, uangnya cukup, mau makan, makanannya cukup :)

  6. eeb Says:

    ………sebenarnya standarnya hanya satu….aturan “DIA”…DIA suka gak dengan perbuatan itu, bukannya penilaian penonton, pengamat seni (seni beneran apa nafsu juga gak tau)………jd sebenarnya gak perlu ad pro-kontra to………..

    salam

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.