22  Apr
Kanker kehidupan

Raul dan istriDokter mengatakan hidupnya sudah tinggal sebentar lagi. Sel-sel kanker telah menggerogoti seluruh tubuhnya. Menjalar ke mana-mana, termasuk ke bagian-bagian vital tubuhnya. Entah sudah berapa macam obat yang ditelannya, termasuk terapi kemoterapi yang luar biasa menyakitkan - dan sejumlah pengobatan alternatif yang dengan antuasias dijalaninya serta bergunung-gunung doa yang dipanjatkannya.

Tapi, tak sedikit pun kemajuan didapatnya. Gadis muda yang hanya bisa terbaring lemah di pembaringan, nyaris tanpa masa depan dan keceriaan seperti layaknya wanita seusianya. Adakah dia menyerah? Di satu sisi dia menyadari betapa hanya mukjizat yang bisa menjadikannya normal kembali, namun di lain sisi dia tak pernah lelah menjalani segala demi kesembuhannya.

“Aku mungkin tidak akan pernah sembuh,” ucapnya lirih di pembaringan yang telah didiaminya berbulan-bulan. “Waktuku mungkin tinggal sebentar lagi. Tapi biarlah kuisi hari-hariku dengan semua obat dan terapi ini. Harapanku memang sudah sangat tipis, tapi siapa tahu Tuhan akan mengasihaniku jika Dia melihatku berusaha melawan penyakit ini.”

Diam-diam bulu kuduk saya merinding. Sederet kalimat keputusasaaan yang toh masih menyeruakkan semangat untuk terus hidup. Meski lentera harapan kian meredup, dia menolak untuk menyerah. Tidak menyalahkan sang lentera, namun justru memacu diri untuk membujuk sang lentera mengirimkan sinarnya…

Dalam skala yang rasanya jauh berbeda, Raul Gonzalez pun kini menyadari betapa harapannya untuk tampil di Piala Eropa 2008 amatlah sangat tipis. Namun, sebagai pejuang sejati, kapten Real Madrid ini menolak untuk menyerah - apalagi menyalahkan pihak lain atau keadaan - sebagai reaksi atas mimpinya yang nyaris kandas itu.

“Saya punya lebih banyak nafsu (desire) daripada harapan (hope). Situasinya sangat pelik ketika Anda sudah lama tidak dipanggil untuk bermain dan di saat bersamaan ada sejulah orang yang sudah terbukti mampu bermain baik. Sangat wajar jika pelatih mempercayai mereka,” kata Raul menanggapi sikap keras kepala pelatih timnas Spanyol, Luiz Aragones. “Ada 23 tempat tersedia untuk berangkat ke Austria/Swiss 2008. Saya percaya jika terus bermain seperti ini maka saya tetap punya kesempatan untuk menjadi bagian dari 23 pemain yang dipanggil itu.”

Ya, melihat penampilan Raul musim ini, sebenarnya tak ada alasan bagi Aragones mencoretnya. Golnya ke gawang Sevilla dua pekan lalu membuatnya total mencetak 16 gol musim ini. Sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah Real Madrid dengan koleksi 290 gol. Hanya kurang 17 gol untuk menyamai rekor yang dipegang Alfredo di Stefan.

Sayang, Aragones tak jua merubah pendiriannya. Terakhir kali pelatih kontroversial ini memakai jasa Raul adalah ketika Spanyol kalah 2-3 dari Irlandia Utara, September 2006, di kualifikasi Euro 2008. Raul lantas dikambing-hitamkan untuk menunjuk performa jelek Tim Matador di Piala Eropa 2004. Atas nama peremajaan, nama Raul - dan sejumlah nama senior lain - digusur dari tim.

Marahkah Raul? Pemilik caps 102 kali memperkuat negerinya ini tentu saja kecewa. Tapi, dia dengan rendah hati berusaha menerima keputusan itu. Ketika pers dan publik menekan Aragones untuk memanggilnya, Raul secara terbuka memberi penjelasan kepada pers bahwa dia menerima keputusan Aragones dan mendoakan yang terbaik bagi rekan-rekannya untuk sukses mengejar gelar juara.

“Saya tidak perlu membuktikan apapun. Masa-masa itu sudah lewat. Saya hanya ingin menikmati permainan saya dan membiarkan orang lain melakukan tugasnya untuk menilai apakah saya layak masuk timnas atau tidak,” kata Raul berusaha meredakan ketegangan. Bukannya melunak, Aragones malah makin kekeuh dengan keputusannya.

“Dia sudah tampil di 3 Piala Dunia dan 2 Piala Eropa, tapi tidak pernah sekalipun memenangkannya!” ketus Aragones, Oktober tahun lalu. “Peluang Raul sangat kecil. Sekarang sudah ada satu kelompok pemain yang siap tampil di Euro 2008. Raul memang pemain terbaik Spanyol, tapi masanya sudah lewat. Jika memang dia layak dipanggil, saya akan memakainya. Tapi, bukan karena tekanan pers atau masyarakat,” tegas Aragones baru-baru ini.

Harapan boleh saja terus menjauh, tapi bukan alasan untuk tidak melakukan yang terbaik dalam hidup kita. Raul tetap bermain sepenuh jiwa dalam setiap detiknya di lapangan hijau. Sahabat saya juga tetap berjuang melawan segala perih-pedihnya dalam setiap hembusan nafasnya, meski tim dokter makin hari makin menunjukkan wajah murah berdasarkan data-data medis.

Tak ada salahnya terus berjuang, sekecil apapun peluang yang terhampar di depan kita. Daripada menyerah, tentu jauh lebih bermartabat jika kita tak berhenti memberi yang terbaik dalam hidup kita. Kalaupun “kalah”, saya tahu dari siapa saya akan belajar tentang bagaimana mensyukuri setiap hembusan nafas kita.

Jika sang sahabat masih tegar digerogoti kanker, adakah alasan saya - kita - untuk menyerah dengan kerikil-kerikil kehidupan yang jauh lebih ringan dari penyakit ganas itu?

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: April 22, 2008, 1:11 am |

One Response

  1. dmsnugraha Says:

    wh2….bkin kget aj…tenyta akhirnya ttg spak bola to???!!! Krain it bnr2 tjd..tnyta cm kiasan..;p
    Kta liat aj y bsk Euro 2008 yg mng sp??
    Apakah Italy akn mngulang kejayaannya ktka Piala Dunia 2006 Germany kmrn??
    Ataukh ad juara baru??

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.