“Bagaimana jika kelak calon istrimu melarangmu merokok?” tanya saya iseng kepada seorang kawan - yang saya kenal benar adalah perokok berat. Tak kalah dengan kereta api saat berjalan dan tanpa henti mengepulkan asap dari lokomotifnya.

“Tentu saja aku akan memilih wanita yang mau menerimaku apa adanya, termasuk kebiasaanku merokok” jawabnya yakin. “Tapi,” lanjutnya, “kalau calon istriku nekat memintaku berhenti merokok, aku lebih baik putus dan mencari calon lain,” lanjutnya tegas tanpa bermaksud bercanda.

Bertahun-tahun berlalu sejak percakapan ringan itu terjadi. Kini, setelah sang kawan memiliki tiga anak yang lucu-lucu, saya mendapatinya bersih tanpa bau tembakau. Spontan saya merangkulnya dan berbisik pelan, “Pasti istimewa sekali istrimu sehingga kamu lebih memilih berpisah dengan rokok kretek daripada mencari calon lain yang mau menerima hobimu merokok.”

Kira-kira seperti itu jugalah posisi Kristen Pazik dalam hidup Andriy Shevchenko - striker Chelsea yang secara konsisten dibayangi isu bakal segera “pulang kandang” ke AC Milan karena mendadak mandul begitu dibeli Roman Abramovich. Apalagi santer terdengar bahwa kepindahannya itu - yang memang sangat mengejutkan - tidak didasari semata-mata oleh pertimbangan profesional, melainkan lebih karena argumentasi personal.

Jika pertimbangannya profesional, banyak yang meragukan itu adalah keputusan terbaik. Semua tahu betapa vitalnya peran Sheva bagi I Rossonerri sejak dibeli dari Dynamo Kiev pada 1999 seharga 25 juta dollar AS. Bukan hanya 173 gol yang bisa dicetaknya untuk Milan dalam 208 penampilan di semua kompetisi dan sejumlah gelar bergengsi (juara Serie-A 02/03, juara Coppa Italia 03/04, juara Liga Champions dan Piala Super 2004), striker yang identik dengan kostum nomor 7 itu juga dinobatkan sebagai Pemain terbaik Eropa pada tahun 2004.

Relasi Sheva dengan Berlusconi juga dikenal sangat dekat. “Banyak peristiwa dalam kehidupan Sheva yang saya ikuti dari dekat seperti saat ayahnya menjalani operasi dan ketika anak pertamanya lahir saat saya dipercaya menjadi wali baptisnya. Sheva sudah saya anggap seperti anak sendiri,” kata Berlusconi yang baru saja terpilih sebagai Perdana Menteri Italia yang baru itu.

Kecintaan publik pada Sheva tak mudah luntur meski di akhir masa baktinya di Milan sempat mandul akibat gangguan cedera. Hanya segelintir Milanista yang bakal mengangguk setuju jika ditanya pendapatnya mengenai kepindahan striker kedua tersubur sepanjang sejarah Milan ini - dan hanya kalah dari rekor Gunnar Nordahl. Saking cintanya, beberapa orang menganggapnya sebagai pengkhianat saat memutuskan menerima pinangan Chelsea senilai 30 juta pounds pada 2006.

Benarkah Sheva berkhianat pada I Rossonerri yang telah memberinya segala? “Berkali-kali saya memang mengatakan tidak ingin pindah karena masih betah di Milan,” kata Sheva kepada wartawan tentang keputusannya. “Tapi ada perubahan yang terjadi dalam hidup saya setelah menikah dan memiliki anak. Saya harus mempertimbangkan yang terbaik bagi keluarga saya. Keputusan pindah ke Chelsea bukan karena saya tidak mencintai Milan lagi, tapi karena pertimbangan personal dan keluarga.”

Bisik-bisik yang beredar menyebutkan bahwa sudah sejak lama Kristen Pazik mendesak Sheva segera hijrah dari Italia. Wanita cantik yang berprofesi sebagai model papan atas itu menginginkan anak-anak mereka tumbuh di sebuah wilayah yang menggunakan bahasa Inggris. Visi global sang istri membuatnya merasa tak terlalu nyaman menetap di Italia. Link Sheva ke Chelsea makin mudah karena Kristen Pazik adalah kawan akrab Roman Abramovich, sang penguasa Chelsea.

Langsung mencetak gol dalam debutnya bersama Chelsea di ajang Community Shield, ternyata karier sang striker tidak berjalan lancar seperti harapan publik. Dia terlihat kesulitan beradaptasi dengan gaya klub-klub Inggris sehingga pundi-pundi golnya melorot drastis. Keputusan Jose Mourinho mencoret Sheva sebagai striker utama membuat karirnya makin redup. Saat Avram Grant masuk menggantikan Mourinho, kegemilangan Sheva pun tak kunjung terlihat.

Tak heran jika terus-menerus meniupkan spekulasi kepulangan Sheva ke Milan. Entah berapa kali pers memergoki pencetak gol kedua terbanyak di kompetisi Eropa di bawah Gerd Muller ini menyambangi mantan klubnya jika kebetulan punya waktu. Sheva, misalnya, terlihat berada di bus pemain Milan saat klub itu bakal berlaga melawan Arsenal di Emirates Stadium. Wartawan juga memergoki Sheva berbincang akrab dengan Berlusconi.

Adakah Sheva tergoda untuk kembali? Jawabannya sangat ditentukan oleh bagaimana pendapat Sheva tentang cinta. Jikadia masih mengutamakan keluarga dan siap menanggung segala risiko,sulit dipercaya dia akan meralat keputusan yang telah diambil. Namun, jika dia mulai goyah untuk juga mulai memikirkan masa depan dan kariernya di lapangan hijau, boleh jadi kepulangannya ke San Siro hanya menunggu waktu dan finalisasi kontrak.

Apa jawaban Sheva? “Ya, saya berbincang dengan Silvio (Berlusconi). Kami berbincang tentang berapa banyak peluang yang saya buang dengan pindah ke London. Tapi, itu sebatas pembicaraan dan belum ada keputusan apa-apa. Di atas segalanya, saya tetap harus mempertimbangkan kepentingan keluarga saya. Itu di atas segala-galanya,” tegasnya sekali lagi tentang posisinya.

Sheva tahu benar konsekuensi yang harus dihadapinya dengan menempatkan keluarga sebagai yang utama. Sejauh dia setia pada keyakinannya itu, tak ada yang berat untuk dijalani. Namun, jika dia mulai tergoda untuk mempertanyakan kepercayaannya pada cinta dan segala konsekuensinya, niscaya bakal sering muncul godaan rasa sesal dan meralat keputusannya dulu.

Tak mudah memang mendapatkan cinta yang sempurna… Biasanya selalu ada sisi yang tak menyenangkan untuk dijalani… Terpulang kepada kita untuk mau tetap bersetia demi cinta itu sendiri atau mengubah haluan demi kesenangan saat ini…

Posted by injurytime, filed under Misteri Cinta. Date: April 18, 2008, 6:01 pm |

One Response

  1. Khairuddin Lahat Says:

    Buat saya rencana jangka panjang lebih menjadi prioritas utama ketimbang rencana jangka pendek. Toch sheva telah memiliki segalanya -uang banyak, istri cantik dan anak yg lucu- karier sepak bola prof itu hanya sebentar.Jd bila peluang masuk timnas tertutup buat saya ga masalah, khan anak2nya nantinya bs jago bahasa inggris…Toch seandainya dia tidak dimasukan dalam line-up utama chelseapun dia tetap menerima gaji khan?

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.