Pernahkah Anda membayangkan dunia ini tak punya matahari? Mungkin belum pernah ya… Karena, tiap hari kita terbiasa disapa sang mentari kira-kira selama 12 jam – bisa kurang, bisa lebih. Sumber kehidupan manusia di siang hari yang amat sangat berarti. Memberi panas, terang, energi kepada miliaran umat manusia.

Dan, beruntunglah kita hanya punya satu matahari – yang bisa memenuhi kebutuhan semua. Tak ada yang protes. Bahkan, bagian terdingin belahan dunia pun – kawasan Antartika – masih sempat dikunjungi, meski hanya sesaat. Jika pun ada keirian, melulu karena banyak orang di banyak tempat yang merasa kurang dimanjakan. Jangan heran jika banyak manusia rela menghambur-hamburkan uang hanya untuk berjemur.

Bayangkan jika ada banyak matahari. Tidakkah dunia ini bakal runyam dicabik-cabik prahara? Pasti tiap orang dan kelompok merasa berhak mendapatkan dan bahkan memiliki sumber kehidupan itu. Mirip ladang minyak yang diperebutkan oleh nyaris semua pemilik kuasa dan uang. Mengingatkan kita kepada situasi di lapangan hijau.

Jika ditelusuri, terlalu banyak matahari yang beredar di orbit sepak bola internasional. Kebetulan, makin hari makin banyak saja pihak-pihak yang memerlukan jasa, tenaga, dan pikiran mereka. Sejalan dengan perkembangan industri yang makin menggurita, para pemain bintang menjadi komoditas yang diperebutkan. Di titik inilah lantas muncul banyak persoalan yang merecoki peredaran sekumpulan matahari itu.

Kisah seorang matahari bernama Ronaldinho, misalnya. Tahun 2000, dia naik daun usai melakukan debut gemilang untuk timnas Brasil. Muda, punya skill hebat, tak minder bermain di tim terbaik dunia. Gremio – pemiliknya saat itu – berusaha keras menahannya. Ketika Paris Saint German (PSG) menyodorkan kontrak kepada pemilik tendangan indah mematikan itu, Gremio dirampok di siang hari bolong. Akibat lalai memperbaharui kontrak, sang matahari bisa pindah ke klub lain. Tindakan hukum dilancarkan Gremio. FIFA akhirnya melarang Ronaldinho tampil membela PSG selama beberapa saat.

“Itu masa terburuk dalam karierku,” kata sang bintang muda. Berbulan-bulan dia hanya bisa berlatih. Kehilangan kesempatan menyinari Kota Paris. Publik menunggu lama untuk melihat betapa hangat dan nyamannya sang matahari menari-nari di lapangan hijau. Penantian pun berakhir. Sayang, tak lama. Hanya dua purnama.

Dua tahun kemudian sang matahari merasa harus segera pergi. Dia butuh orbit baru yang lebih menantang. Namun, PSG menghalangi segala pendekatan yang dilakukan oleh Real Madrid, Manchester United, dan Barcelona. Bakat Ronaldinho mulai redup karena terlalu sering berselisih paham dengan manajemen dan pelatih Luiz Fernandez.

Kini periode pahit itu usai sudah. Di Barcelona – setelah menolak pinangan MU dan disindir sebagai “tak bernyali” – Ronaldinho bersinar terang di Kota Barcelona. Ketika hatinya tenang, permainannya makin menawan. Sempat menjalani debut musim yang tak terlalu mengenakkan, perlahan tapi pasti sang matahari menjadi nyawa sukses El Barca.

Tapi, lagi-lagi sinarnya meredup… di saat publik mengira bersinarnya matahari-matahari lain dalam sosok Lionel Messi, Samuel Eto’o, dan Thierry Henry bakal meringankan tugas Ronaldinho sebagai actor utama aksi-aksi tim asal Catalan itu. Alih-alih makin bersinar, persoalan demi persoalan mengurung matahari asal Brasil itu dalam pusaran penurunan performa yang tiada berujung.

Tudingan demi tudingan mengalir deras menutupi pancaran keindahan permainannya. Kehidupan malam yang membuat kondisi fisiknya tidak prima, komitmen jadwal dengan sejumlah sponsor yang menyita banyak perhatiannya, gangguan cedera yang membuatnya sering absen, sampai perseteruan dengan anggota tim lain yang membuatnya seperti terpojok sendirian di ruang sunyi pergulatan pribadi.

Saat itulah AC Milan mendekat. Pendekatan yang langsung disambut hangat kubu Ronaldinho sebagai salah satu alternatif mengembalikan keceriaan dan sinarnya lagi. Seperti kata Johan Cruyff, “Jika memang seorang pemain memang sudah merasa tidak cocok di sebuah klub, dan klub juga sudah merasa tidak mampu menanganinya, memang sebaiknya sang pemain pergi mencari tempat baru.”

Ah…andai semua matahari bisa bersinar sebebas-bebasnya tanpa hambatan apa pun…

Memiliki matahari memang penting. Tapi, jauh lebih penting untuk memastikan dia bisa menjalankan takdirnya dengan baik. Tak ada gunanya diperebutkan. Biarlah dia menetapkan pilihan. Karena, kebebasan pilihannyalah yang akan menentukan terang-tidaknya sinar yang dia pancarkan.

Memaksa, menahan, menghalang-halanginya – dengan alasan mulia sekalipun – malah hanya akan membuat dunia menjadi kacau-balau. Dan, tanpa sadar, mungkin kita pun sering membuat matahari di sekitar kita justru meredup. Bersinarlah hai semua matahari. Sayang, kita tak seberuntung dunia yang hanya punya satu matahari.

Posted by injurytime, filed under Rimba Pilihan. Date: April 15, 2008, 1:05 pm |

2 Responses

  1. sulfan Says:

    kapan ya ada matahari yang benderang terbit dari negeri ini?

  2. truntum Says:

    Gimana kalo ada A Thousand Splendid Suns? he he he… Bukunya Khaled Hosseini ini endingnya sama ama kisahnya Ronaldinho. Layla bersinar lagi setelah menemukan tempat baru, menemukan kebebasannya, dan menemukan kembali cinta sejatinya ;)

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.