Ini kisah nyata. Seorang anak menangis tergugu di pangkuan ibunya. Bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu tak habis mengerti kenapa dia tak bisa seperti anak-anak lain. “Aku nggak mau sekolah lagi! Aku nggak mau diejek teman-teman. Mereka bilang aku anaknya orang miskin, nggak punya mobil seperti mereka. Aku mau lapor polisi karena bapak nggak mau beli mobil… Padahal bapak kan pejabat to bu?” keluhnya pada ibunda tercinta. Logika bocah ingusan pada fantasi sosok polisi pembela memenuhi benaknya yang tengah buntu menemukan jawaban.
Sang ibu kehabisan kata-kata untuk menenangkan buah hatinya yang gundah gulana. Hanya jemari lembutnya spontan membelai rambut si bocah sebagai jawaban dalam diam. Mana mungkin menjelaskan prinsip suaminya yang tak mau menerima apapun di luar gaji bulanannya sebagai kepala instansi pemerintah di daerah terpencil. Mustahil menceritakan “kelurusan” suaminya yang tegas menolak komisi atas proyek yang harus mendapat persetujuannya - meski itu adalah praktek lazim dalam birokrasi pemerintahan. Mana bisa mengatakan suaminya melarang keras seluruh anggota keluarga memakai mobil dinas dan jatah bensin untuk keperluan pribadi.
Berteguh pada prinsip memang kerap memunculkan godaan. Apalagi jika di sekitar kita berserak realita yang berlawanan dengan prinsip itu - dan bahkan menjadi cara terbaik untuk menuju garis akhir: entah itu kesuksesan, keberhasilan, atau sekadar kepuasan. Protes sang anak tadi mirip kesangsian publik dan pengamat atas kinerja Arsene Wenger di Arsenal belakangan ini.
Kekalahan 1-2 dari Manchester United di kompetisi Liga Inggris hari Minggu lalu memastikan The Gunners bakal memperpanjang deret musim tanpa gelar selama 3 musim. Setelah tersingkir dari Piala Carling dan Piala FA serta tergusur secara menyesakkan di Liga Champions dari Liverpool pekan lalu, kepastian terlempar dari perburuan gelar juara Liga Inggris membuat posisi Wenger makin tersudut. Idealismenya mengorbitkan bintang-bintang muda tanpa nama menjadi icon-icon baru sepakbola dunia yang tergabung dalam “the most attractive and offensive football in the world” mulai memunculkan pesimisme dalam kaca mata pragmatisme.
Di saat koleganya sibuk membeli pemain-pemain bintang untuk mengatrol tim, Wenger memilih mengorbitkan pemain dari tim reserve. Kalaupun membeli, dia hampir selalu memilih bintang muda yang belum punya reputasi besar tapi punya potensi besar untuk dimatangkan di camp pelatihan. Pengeluaran Wenger tak sebanding dengan Alex Ferguson yang menggelontorkan 40 juta pounds untuk Nani, Teves, dan Hargreaves. Atau Rafael Benitez yang memboyong Fernando Torres senilai 27 juta pounds dan Chelsea yang mendatangkan Nicolas Anelka seharga 15 juta pounds.
Adakah Wenger merasa harus mengubah prinsipnya dalam melatih dan mengelola tim Tidak! “Saya bangga dengan tim ini,” katanya usai mengaku menyerah kalah dari MU dalam perebutan juara Premier League. “Saya percaya batas antara sukses dan gagal sangat tipis musim ini. Seperti Anda lihat, saya tidak merasa inferior dibandingkan MU dalam hal kualitas dan teknik permainan.”
“Saya pikir,” lanjut Wenger, “kami telah banyak berbuat untuk mempromosikan Liga Inggris ke seluruh dunia dengan permainan terbaik. Tapi, saya bukan idealis murni. Saya juga ingin menang dan merebut piala. Saya kecewa kami gagal. Tapi, kami ingin meraih sukses dengan bermain sesuai gaya kami dan kami bermaksud melakukan itu dengan lebih baik lagi di masa mendatang.”
Dengan kata lain, Wenger tetap ingin setia pada prinsipnya untuk mempercayai bahwa sebuah tim terbaik harus bisa memainkan sepakbola terbaik yang diisi oleh pemain-pemain terbaik pula - dan secara khusus memegang komitmen untuk memberi tempat lebih luas kepada bakat-bakat muda layaknya mutiara yang belum terasah. Baginya, hasil akhir akan datang cepat atau lambat. Meski disadarinya, “Sekarang kita berada dalam jaman saat sang pemenang mendapat seluruh kredit nyaris tanpa cela, sementara yang kalah sama sekali tak mendapatkan poin apa-apa atas kekalahannya itu - tak peduli bagaimana bagusnya penampilan dan potensi mereka. I think football is more than that…”
Asal tahan terhadap segala godaan - dan terutama siap dengan segala konsekuensi kesetiaan pada pilihan yang tidak lazim - tak ada alasan untuk mengarus dalam kecenderungan umum. Hmmm… sangat heroik dan menantang ya? Betul, karena dalam banyak hal pilihan yang tak seirama dengan kelaziman jaman kadang membawa kita pada sebuah jalan panjang yang sepi dan sunyi…
Persis seperti sang bapak di atas yang tetap tak pernah bisa menjadi kaya raya di hari tuanya - meski dia bisa tersenyum lega dalam syukur karena sang anak tak hanya batal melaporkannya ke polisi, tapi bahkan kini memilih mengikuti prinsip-prinsip yang ditegakkannya…