Setujukah Anda dengan pencekalan Dewi Persik oleh sejumlah pejabat di negeri ini? Bagi yang setuju, itu adalah tindakan tegas bagi artis yang dinilai telah keluar dari batas-batas kewajaran. Bagi yang menolak, pelarangan itu makin menguatkan citra betapa represifnya negeri ini menangani kebebasan berekspresi.
Pasti ada yang setuju, ada juga yang tidak. Masing-masing punya argumentasi yang jika diperdebatkan tampaknya tak akan pernah bisa menghasilkan kata sepakat. Yang satu akan menuduh pihak lain sok moralis, sementara pihak lain akan menuding kubu lawan sebagai perusak norma-norma kemasyarakatan.
Mari kita bandingkan dengan pertanyaan ini: setujukah Anda jika seorang pemain sepakbola diberi kebebasan sebebas-bebasnya untuk berekspresi di lapangan hijau? Sebuah pertanyaan sederhana yang lagi-lagi akan memicu debat berkepanjangan. Ada yang kontra karena menganggap ekspresi, kebebasan, dan improvisasi adalah nyawa utama permainan paling populer di Indonesia tersebut. Ada juga yang pro karena menilai sikap sportif berdasarkan nilai penghormatan pada lawan adalah prinsip utama yang tak boleh dikalahkan hanya atas nama ekspresi. Read the rest of this entry »
