04  Mar
Sembunyikan dadamu

Adakah di antara kita yang menolak untuk sukses, menjadi pusat perhatian, diperlakukan istimewa atas segala bakatnya? Mungkin ada, tapi rasanya sedikit sekali jumlahnya. Sebagian kita - diakui atau tidak - adalah manusia-manusia optimis (kalau tidak boleh disebut ambisius) yang selalu mengejar pujian, penghargaan, pengakuan. Kebutuhan untuk ada dan diakui yang kerap membuat kita tak bisa terima saat tiba-tiba kita menjadi orang biasa.

“I am Imperatore (kaisar-Red) and you must respect me!” sembur Adriano kepada pers yang mewawancarainya baru-baru ini. “Kemaren aku memang mengatakan jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Tapi, sekarang aku berubah pikiran. Aku pantas mendapatkan predikat itu dan Anda tidak bisa menghancurkan semua yang kuraih dengan kerja keras sepanjang karirku.”

Sang Kaisar murka. Anak muda yang sempat menjadi icon sepakbola Brasil dan Italia itu kini justru disorot karena beragam sisi buruknya. Mulai dari kemandulannya di lapangan, permainannya yang buruk, diusir Inter Milan ke San Paolo untuk menjalani masa rehabilitasi, kebiasaan buruknya mabuk-mabukan dan akrab dengan dunia malam, serta kegagalan cinta dan perkawinannya. Belakangan pemain yang pernah sangat produktif ini dihukum klub barunya karena mangkir dari latihan setelah dilarang main dua kali akibat sengaja mencederai lawan di lapangan.

Hilang sudah puja-puji terhadap bocah ajaib yang pernah menjadi rebutan klub-klub elite terbaik di dunia. Bahkan kabarnya, orang yang selama ini sangat membelanya - agen Adriano, Gilmar Veloz - juga sudah menyerah dan diisukan berniat mengakhiri kontrak secepat mungkin. Presiden Inter Massimo Moratti yang tak lelah melindunginya pun kehabisan akal dan kata-kata sehingga merelakan striker kesayangannya itu dibuang ke kampung halamannya. Apalagi setelah untuk kesekian kalinya Adriano kembali berulah, membuat publik makin mencibir tak mengerti.

Sungguh sia-sia kemarahan Adriano. Tiada guna membusungkan dada di saat dirinya penuh luput dan alpa. Dada itu tak bicara apa-apa, selain menunjukkan rasa frustrasi yang makin memuncak akibat tak kuasa mengembalikan jati dirinya. Bukan serentetan prestasi masa lalu yang dibutuhkan, melainkan bukti performa nyata di lapangan. Bukan kemarahan penuh egoisme pribadi yang dinanti, tetapi sikap rendah hati untuk mengakui keterpurukan dan kembali bangkit menggapai mimpi.

Kata orang bijak, hidup ibarat roda. Sayang, tak banyak kita yang bisa memaknai itu dengan tindakan nyata. Tak sudi kita berada di bawah, selalu ingin di atas, di puncak orbit yang membuat orang terkesima. Maka sering kita dengar orang yang masih saja menepuk dadanya, meski dada itu sudah kosong melompong. Sebaliknya, jarang sekali kita melihat orang yang jalan membungkuk dengan sopan, meski begitu banyak harta karun yang tersimpan di dalam sosoknya.

Sebaiknya sembunyikanlah dadamu… Dada itu akan berbicara sendiri, didengar dan dilihat orang tanpa perlu ditepuk… Menepuk-nepuk dada dengan keras hanya membuktikan bahwa kita tak cukup percaya bahwa dada kita sesungguhnya sudah layak dibanggakan…

Posted by injurytime, filed under Jatuh Bangun. Date: March 4, 2008, 12:09 am |

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.