[Jatuh itu sakit. Apalagi jika terjun bebas dari ketinggian. Luar biasa pedih! Tapi, diam-diam seringkali muncul kenikmatan yang tanpa kita sadari justru membuat kita enggan berdiri lagi.]
Teman kami sedang amat sangat down. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kariernya hancur berantakan, nama baiknya tercemar, plus persoalan pribadi yang kebetulan datang bersamaan. Pendeknya, nyaris tak ada cahaya dalam kesehariannya. Detik demi detik dilalui dengan gugat parau pada keadilan sang empunya hidup. Situasi buruk yang membawa petaka dalam hari-harinya.
Sebagai kawan-kawan sejati, kami semua berusaha ikut bersimpati - dan sebisanya membantu. Yang paling mudah tentulah dengan kalimat-kalimat penghiburan… “Ayo, jangan menyerah! Buktikan bahwa kamu memang orang hebat. Jadikan pengalaman buruk ini sebagai pelajaran dan cambuk untuk bangkit”. Dan serendeng kalimat-kalimat penyemangat lain yang tak bosan kami lantunkan.
Sebisa mungkin kami juga mengajaknya untuk ikut serta dalam setiap proyek yang kami dapatkan. Sekadar mau mengatakan bahwa masih ada orang yang mempercayainya dan selalu ada yang bisa dikerjakannya. Sudah tak terhitung berapa kali kami mengangsurkan bantuan untuk meringankan beban ekonominya. Pun, tak terhitung berpuluh-puluh kali kesempatan diluangkan untuk mendengarkan keluh-kesahnya.
Hari berganti hari, bulan bergulung bulan, tak jua terlihat kemajuan dari karib kami - yang sebenarnya sarat potensi itu. Masih saja jadi pengangguran, tetap saja mengulang cerita ketidakadilan yang menderanya, selalu saja punya alasan menolak setiap peluang kecil untuk kembali bangkit. Adakah dia terlena dalam keterpurukannya? Merasakan banyak kemudahan dari teman-teman dan lingkungannya dengan setumpuk simpati dan uluran tangan yang senantiasa diterimanya?
Pemaafan - apapun bentuknya dan siapapun pelakunya - sepertinya cenderung membuat kita terbuai. Tidak ada yang menyangkal bakat besar Alvaro Recoba sebagai pemain brilian. Bakat El Chino, julukan Recoba, ditemukan oleh Sandro Mazzola, legenda Inter Milan pada era ‘60an, ketika menyaksikan Nacional of Montevideo, Uruguay bermain. Saat itu, pada 1996, remaja Recoba di usianya yang baru menginjak 20 tahun telah sanggup mencetak 30 gol dalam 27 pertandingan dengan bekal skill di atas rata-rata dan gol-gol yang terbilang spektakuler. Read the rest of this entry »