Menumbuhkan “rambut” yang lain

[Kita beruntung jika bisa mengadakan yang tidak ada untuk memperbaiki hidup. Tapi, sesungguhnya dengan apa adanya saja sudah jauh lebih dari cukup.]

Mari iseng bertanya pada Nazaruddin, “Apakah triliunan rupiah yang kamu punya kini mampu membahagiakanmu?” Dengan teknik scanning empati sederhana via pemberitaan media cetak dan terutama blow up raut mukanya di layar kaca, niscaya jawabannya adalah yang terakhir.

Mantan Bendahara Partai Demokrat yang kabarnya belum dipecat sebagai wakil kita - rakyat - di DPR itu pasti lebih memilih hidup tenang dengan segala kesederhanaannya ketimbang stres berkepanjangan gara-gara tumpukan uang – yang entah dimana saja disimpannya. Andai saja pengusaha muda yang tiba-tiba menjadi politikus papan atas itu tak tergoda menumpuk fulus halal, dia tak perlu minta pengampunan Presiden RI hanya untuk menjadi bapak dan suami yang baik.

Kisah ajaib Nazaruddin adalah potret umum negeri ini – dan juga seluruh kolong jagat. Cerita tentang anak manusia yang berhasrat raksasa memperbaiki kemuliaan hidupnya namun sayangnya menempuh cara-cara picik dan kerdil. Padahal, sesungguhnya ada cara halal nan manis untuk meraih mimpi kita – asal kita cukup kreatif melihat persoalan dan menyiasati keadaan.

Kisah transplantasi rambut ala Wayne Rooney mungkin bagi sebagian orang adalah cerita biasa. Tak lebih dari sekadar human interest story bagi jurnalis sepakbola atau content ledekan pemain-pemain Manchester United. Tapi, sesungguhnya, rambut baru Rooney adalah kisah sarat makna.

Gara-gara “rambut barunya” itu, problem kemandulan produktivitas striker MU itu seolah-olah sontak teratasi. Musim lalu, striker 25 tahun ini hanya mampu mencetak 16 gol bagi klubnya di semua ajang - jauh di bawah catatan 36 gol yang dia kemas pada musim 2009-10. Aksinya di timnas Inggris pun sama jebloknya: sepanjang tahun hanya mencetak 2 gol dari 11 pertandingan dan gagal bersinar di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.  Continue reading

Posted in Menjadi Bijak | Leave a comment

Merindu negeri tanpa “komisi”

“Hidup adalah sekumpulan pilihan yang berisiko. Jika kita tak berani menanggung konsekuensi dari sebuah pilihan, tak layak kita menyebut diri sang pemimpin.”

Mari kita iseng-iseng menyebut berapa banyak jumlah komisi independen di negeri ini. Nyaris semua bidang kehidupan memiliki lembaganya masing-masing. Baik itu yang resmi diakui alias masuk dalam struktur bermasyarakat dan negara, maupun yang sifatnya swadaya masyarakat tanpa cap resmi dari pihak yang berwenang.

Kasus yang paling besar dan paling mengemuka hari-hari ini, misalnya, dengan gagah menempatkan Pansus Century untuk menyelidiki kasus Bank Century yang kian hari kian pelik, berbelit-belit, dan tak jelas ujung-pangkalnya. Padahal, seharusnya, bukankah masalah itu bisa diselesaikan dengan mudah oleh para pejabat yang berwenang di sektor keuangan?

Mundur ke belakang, kita ingat betapa ingar-bingarnya fenomena Koin Pritta. Sebuah komisi independen yang bergulir otomatis berangkat dari rasa simpati masyarakat terhadap arogansi sebuah lembaga pelayanan kesehatan yang didukung penuh oleh perangkat hukum dan peradilan. Jika tak ada gerakan sejuta koin itu, niscaya kasus yang kontroversial ini tak kunjung selesai – meski bisa diselesaikan dengan santun dan berperi kemanusiaan oleh pejabat kesehatan dan pengadilan tanpa perlu membakar rasa ketidakadilan masyarakat.

Terakhir, lagi-lagi lembaga resmi yang semestinya menjadi andalan masyarakat terkesan lamban dan mandul dalam memfasilitasi penanganan terhadap Bilqis Anindya Passa. Kementerian Kesehatan baru tergerak membantu ketika gerakan Koin Untuk Bilqis makin membesar di facebook dan diangkat besar-besaran oleh Media. Kabarnya, dana yang terkumpul sudah mencapai 2 M – praktis tanpa bantuan dari institusi resmi yang seharusnya menjadi pintu pertama yang diketuk.

Mari kita renungkan, betapa banyak masalah di negeri ini yang bukan hanya tidak selesai, tapi bahkan tidak ditanggapi sebagaimana mestinya oleh pihak berwenang. Jika sebuah kasus membesar, jawaban pertama yang kerap kali mengemuka adalah… “Nanti kami cek terlebih dahulu.” atau… “Masalah ini sudah kami koordinasikan dengan pihak-pihak terkait.”… atau… “Pemerintah akan segera membentuk tim khusus, tim independen, tim penyelidik sehingga tahu persis duduk masalahnya.”

Jika setiap masalah perlu penyelidikan, dengan membentuk komisi independen… lantas di mana peran lembaga dan pejabat terkait yang seharusnya bertanggung jawab atas masalah itu? Tidakkah mereka merasa wajib mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, tepat, dan akurat? Tanpa perlu mengalihkan tanggung jawab itu kepada orang atau pihak lain dengan alasan agar obyektif dan menyeluruh? Bukankah penunjukkan seseorang menjadi pemimpin sudah memperhitungkan kemampuannya menyelesaikan krisis tanpa terlalu banyak membebani orang atau pihak lain?

Meski mengambil sikap yang berbeda, Carlo Ancelotti dan Fabio Capello sama-sama menunjukkan keteladanan bagaimana seharusnya bersikap sebagai leader dalam menyikapi kasus yang menerpa John Terry. Mencari tahu duduk soal yang sebenarnya, memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai pertimbangan, menimbang segala situasi yang akan dihadapi, lantas dengan tegas mengetukkan palu keputusan. Adil atau tidak, itu relatif. Tergantung dari sisi mana sebuah persoalan dilihat.

Ketika kasus perselingkuhan Terry terungkap di media, Ancelotti tanpa pikir panjang – dan tanpa perlu membentuk tim pencari fakta, dengan tegas mengatakan tak akan mencopot posisi mapun ban kapten Terry di tim asuhannya Chelsea. “Saya tak peduli dengan urusan pribadi para pemain,” tegas Ancelotti. “Bagi saya, yang penting adalah bagaimana mereka berlatih dan bermain sebagai pemain sepak bola.” Sebuah keputusan yang diambil berdasarkan kewenangannya sebagai pemimpin di Chelsea. Keputusan berani yang didasari pertimbangan matang dan terbukti efektif meredakan ketegangan dalam tim. Continue reading

Posted in Menjadi Bijak | Tagged , , , , , | 1 Comment

Football Avatar

[Kalau mampu menaklukkan dunia dengan jerih payah sendiri, kenapa harus tergoda memiliki Avatar di dunia lain untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang mustahil?]

Jake Sully mulanya menerima tugas untuk menggantikan kakaknya dalam program Avatar melulu karena keterbatasan pilihan. Fisik yang tak sempurna sepulang dari medan pertempuran tak banyak memberi peluang hidup. Daripada hidup di atas kursi roda dan harus pensiun sebagai prajurit, tidak ada ruginya menerima tawaran masuk ke dalam tabung simulator untuk menjalankan mahluk hybrid yang bernama Avatar di negeri Pandora.

Begitulah awal plot film Avatar yang hari-hari ini masih diputar di sejumlah bioskop. Film fiksi ilmiah dengan setting pada tahun 2154 ini menggambarkan usaha ras manusia di masa depan untuk mengenal, berinteraksi, menguasai dunia lain yang dihuni habitat asli bernama suku Na’vi. Segala hambatan bisa diatasi dengan kecanggihan teknologi yang memungkinkan manusia memiliki “kembarannya” di alam lain hanya dengan menggabungkan pikiran ke dalam sesosok mahluk rekaan di dunia luar.

Dalam keadaan “tidur” di tabung simulator super canggih, Jake Sully yang diperankan oleh Sam Worthington lantas mampu menjalankan peran, fungsi, dan hidup baru. Dia bukan hanya bisa berjalan, tapi bahkan berlari, berburu, dan terbang mengarungi buasnya kehidupan Pandora – dibumbui aneka rupa rasa peristiwa layaknya kehidupan di dunia nyata.

Ide masuk dalam simulator untuk mengendalikan citra diri seseorang di alam lain mengingatkan saya pada keseharian seorang pelatih sepakbola yang bertugas menterjemahkan segala visi dan kemampuannya untuk membentuk sebuah tim yang kuat. Jika Jake Sully hanya bertanggungjawab pada sesosok citra diri, maka seorang pelatih harus mengendalikan minimal sebelas sosok yang diatur dengan fungsi dan perannya masing-masing dalam sebuah skema permainan sepanjang 90 menit. Lengkap dengan konflik dan segala masalah yang mengemuka sepanjang proses yang dibutuhkan – plus perlawanan keras dari avatar-avatar lain milik kesebelasan lain yang dihadapinya.

Continue reading

Posted in Jatuh Bangun | Leave a comment

Hedonisme adalah pilihan

[Bayangkan posisi ini: Anda masih muda belia, bergelimang uang, dan tengah berada di pucuk dunia... Tidakkah Anda tergoda menjadi sang penguasa dunia - meski dengan risiko menjadi orang yang tukang pamer, menyebalkan, dan mudah menyinggung perasaan pihak lain?]

Usai tebak-tebakan komposisi kabinet pemerintahan kedua SBY resmi ditutup dengan pengumuman resmi, kita kembali disuguhkan pada pro dan kontra yang tak kalah seru. Bagaimana tidak seru jika topiknya menyangkut gaji para pembantu Presiden RI itu – yang oleh sementara kalangan dianggap masih berada di bawah standar dan selayaknya untuk segera dinaikkan.

Mudah ditebak… komentar miring bin sinis bersliweran di ranah publik dalam sejumlah berita dan media. Di satu sisi ada yang mengatasnamakan beban berat sebagai pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas lancar tidaknya roda pemerintahan berjalan sehingga wajar jika diberi apresiasi tinggi. Di lain sisi, tak sedikit yang mengkritik usulan itu sebagai upaya menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyat – yang banyak di antaranya terpaksa terjerembab di bawah garis kemiskinan.

“Memang, gaji pokok seorang menteri hanya 18 juta yang terdiri dari gaji pokok dan tunjangan jabatan,” kata seorang pengkritisi membuka kejengkelan. “Tapi, jangan lupa, seorang menteri juga mendapatkan honor-honor lainnya yang kalau ditotal jumlahnya bisa lebih dari 100 juta per bulan. Lebih dari cukup untuk sekadar hidup sejahtera. Tapi, kalau boros, bermewah-mewah, dan doyan plesiran ke luar negeri ya pasti tidak cukup dan harus cari talangan dengan cara lain.”

Singkat kata, para menteri dan pejabat tinggi di negeri ini disinyalir dekat dengan dunia hedonisme. Gaya hidup yang memuja pemuasan hasrat duniawi manusia semaksimal mungkin. Dan karena kebanyakan menyangkut pemenuhan kebutuhan fisik, kasat mata, dan harus dibeli… maka tak heran jika membutuhkan biaya berkarung-karung jumlahnya.

Fenomena hedonisme ternyata juga merambah lapangan hijau. Sinyalemen itu mulai dibuka oleh Jose Mourinho, pelatih Inter Milan, yang mengkritik keras gaya hidup pemain muda sekarang yang mudah tergoda gemerlapnya dunia. “Anak muda sekarang hanya berpikir tentang Ferrari dan clubbing,” katanya mengomentari sejumlah ulah buruk pemain muda. Continue reading

Posted in Menjadi Bijak | 1 Comment

Membebaskan lilitan keterikatan

[We all need a shoulder to cry on... Pilar kekuatan yang justru akan menjadi kanker mematikan jika kitaterlalu melebur padanya, gagal mengambil jarak darinya, kesulitan memaknai pengalaman kehilangan sang bahu sandaran utama.]

Teman saya punya kebiasaan unik. Setiap kali dia pergi ke luar negeri, tasnya selalu penuh dengan dus-dus mie instan aneka jenis dan merk. Tak peduli berkunjung dalam dinginnya London atau panasnya Arab Saudi, bekal yang satu itu tak pernah ketinggalan. Meski harus panjang lebar menjelaskan kepada petugas imigrasi di setiap airport yang dimasuki, tak kapok dia dibuatnya.

“Gue nggak pernah bisa menemukan makanan yang pas buat perut gue selama di luar negeri,” cerita seorang kawan yang sering bepergian ke manca negara dalam kapasitasnya sebagai jurnalis. “Pertama kali dinas luar negeri, gue hanya kuat sehari karena nggak ada makanan yang pas. Sejak itu, bini gue nggak pernah lupa ngebawain mie instan berapapun lamanya gue pergi,” lanjutnya sembari menceritakan betapa tersiksanya dia memiliki kebiasaan yang sangat unik itu.

Keterikatan, apapun bentuk, jenis, dan macamnya, memang kerap merepotkan. Untung saja kawan saya hanya terikat pada “makanan Indonesia”. Relatif masih mudah diatasi, meski menimbulkan konsekuensi yang tak ringan. Tapi, bayangkanlah jika keterikatan itu berwujud pada sesosok manusia yang akan sangat mempengaruhi keseharian kita…

“Sejak Ayah saya meninggal, saya didera depresi berat yang hanya bisa disembuhkan oleh alkohol. Saya hanya bisa merasa bahagia ketika minum dan mabuk. Dan saya tak pernah berhenti. Saya pergi setiap malam, menengguk semua minuman yang ada di depan saya… anggur, wiski, bir…”

Begitulah pengakuan Adriano baru-baru ini, membuka misteri fenomena “slump of the year” saat bakat besar pemain brilian tiba-tiba hilang tak berbekas. Christian Vieri, sahabat Adriano saat membela Inter Milan, memberi testimoni senada, “Adriano adalah pemain yang paling jarang berlatih karena dia punya talenta luar biasa. Dia selalu menghabiskan malam untuk pergi ke pub sampai jam 5 atau 6 pagi. Ketika saya tidur beberapa jam dan kemudian pergi ke lapangan untuk latihan, dia masih meringkuk di tempat tidur ditemani cemilan dan minuman penghangat badan.” Continue reading

Posted in Misteri Cinta | Leave a comment

Mempermalukan diri

[Hanya ada dua pilihan saat kita merasa dipermalukan: berteriak-teriak menghujat sang penyebab... atau bekerja keras untuk mengalahkan sang penyebab.]

Marah! Itulah reaksi pertama saya ketika merasa didudukkan di posisi yang – menurut saya – tidak pada tempatnya. Saya merasa punya kemampuan dan kualitas yang – saya rasa – lebih dari cukup untuk berada di tempat lain. Yang lebih tinggi, lebih baik, lebih sesuai harapan.

Ada hari-hari ketika saya merasa keadaan akan menjadi lebih baik dengan umpatan, makian, dan rengekan. Siapa tahu mereka akan mendengarkan protes saya, menyadari kekeliruannya, dan memindahkan saya ke better place.

Reaksi yang sepertinya sangat normal bagi siapapun yang merasa tengah diperlakukan dengan tidak adil. Reaksi yang juga ditunjukkan oleh Luca Toni yang menggugat keputusan pelatih Bayern Muenchen, Louis Van Gaal mengirim sang bintang ke tim reserve yang hanya boleh berlaga di kompetisi Divisi III Liga Jerman. Continue reading

Posted in Jatuh Bangun | 1 Comment

Demi kemuliaan orang lain

[Ketika seseorang berada di puncak, kita kerap iri melihatnya. Apalagi jika kita merasa lebih berhak berada di atas karena punya jasa besar atas diraihnya singgasana itu.]

 

Nama Mario Teguh pasti sudah tak asing di telinga kita. Pembicara di banyak forum yang mengaku dijuluki sebagai motivator oleh publik dan media itu memang sangat memukau. Banyak kalimat-kalimat bijak yang keluar dari mantan vice president sebuah bank internasional ini.

 

Salah satu yang masih terngiang di telinga saya berbunyi, “Gunakanlah keistimewaan Anda demi kemuliaan orang lain.” Kalimat sederhana yang sarat makna. Setiap orang, setiap kita, pasti punya kelebihan, dan… gunakanlah itu untuk memuliakan orang lain – bukan demi sukses diri sendiri.

 

Di Hungaria, ada sebuah klub bernama Debrecen. Klub kecil yang menjadi sorotan bukan hanya karena berstatus debutan di kompetisi Liga Champion Eropa musim ini, namun juga karena perilaku “menyimpang” di tengah belantara bisnis sepakbola modern. Jika rata-rata klub berusaha keras mempertahankan pemain mudanya yang potensial dan pemain bintangnya yang dibeli dengan harga mahal, klub yang berdiri tahun 1902 ini malah senang hati jika ada klub lain mengincar aset mereka.

 

“Jika ada klub yang tertarik, kami tak akan menghalangi para pemain jika ingin pindah. Dewasa ini sangat sulit membuat pemain bagus bertahan,” kata sang pelatih, Andras Herczeg. Tawaran yang sangat menggiurkan jika mencermati tradisi dan performa mereka.

 

Secara tradisi, Debercen dikenal punya akar sangat kuat dalam hal pembinaan pemain muda. Klub juara Liga Hungaria 4 kali dalam 5 tahun terakhir ini memiliki tim muda di semua lini usia. Bahkan, satu tim cadangan mampu berlaga di Divisi II sebagai reserve team untuk tim senior. “Setiap tahun, beberapa pemain muda dipromosikan naik ke tim pertama,” jelas Csaba Bartha, Direktur Olahraga Debrecen. Siklus yang terus dipertahankan sehingga di klub utama nyaris tanpa bintang mahal.

 

Namun, meski tanpa pemain bintang, performa Debrecen tak mengecewakan. Debut di kompetisi Eropa dilalui dengan baik. Mereka memberi perlawanan berarti meski akhirnya kalah tipis 0-1 dari raksasa Eropa bernama Liverpool. Hasilnya, estimasi harga para pemain yang sebelumnya diprediksi hanya senilai 2,9 juta euro meroket menjadi 11,55 juta euro!

 

Musim ini, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub, Debrecen terpaksa membeli pemain baru untuk berlaga di kompetisi Eropa yang memang lebih berat. Maka datanglah Laszlo Bodnar (Dynamo Kiev, Roda, Salzburg), Zoltan Szelesi (Cottbus, Strasbourg), dan Adamo Coulibaly (Anvers) yang masuk kategori pemain kelas dua di bursa transfer.

 

Tapi, tak ada yang berubah di klub ini. “Kami tetap ingin menjadi klub penjual (pemain) yang baik,” tegas Herczeg. Baginya, dan bagi seluruh klub – termasuk Gabor Szima, pemilik klub yang adalah orang terkaya nomor 32 di Hungaria, tidak ada yang salah dengan menjadi pelayan bagi klub lain. Bekerja keras membina pemain muda dengan biaya tidak sedikit, memberi kesempatan bermain dan pengalaman berharga, serta kemudian mementaskan bakat-bakat mereka untuk kemudian dimanfaatkan klub lain meraih kejayaan.

 

Debrecen akan tetap tersenyum bahagia melihat pemain binaan mereka akhirnya sukses di tempat lain. Prestasi yang tak perlu pujian pun penghargaan. Hanya perlu kerelaan untuk menjadi anak tangga keberhasilan pihak lain.

 

Persis seperti kata-kata bijak Pak Mario Teguh… gunakanlah keistimewaanmu untuk kemuliaan orang lain…

 

Maukah kita?

Posted in Menjadi Bijak | 1 Comment

Jangan menyerah

[Kadang, roda hidup berputar cepat... cepat sekali. Tiba-tiba saja kita sudah berada di bawah, terbata-bata mencari penjelasan dan... penyelesaian.]

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Lagu adalah ungkapan hati. Dendang jiwa dalam beragam nada. Tak heran jika kerap kita merasa lebih nyaman ditemani lantunan lagu yang terasa pas di hati kala berhadapan dengan sejumlah peristiwa. Ada lagu untuk bersedih, juga bersenang. Menguatkan hati, menenangkan jiwa.

Saya pastilah bukan satu-satunya orang yang seketika merasa dikuatkan dengan lirik lagu Jangan Menyerah yang belakangan rajin menyapa indra dengar kita di sejumlah media. Sebuah pesan yang menyiratkan dukungan untuk mereka, kita, yang tengah menghadapi masa-masa sulit lewat dendang merdu D’Masiv.

Tak ada yang perlu disesali, tak perlu ada yang harus diakhiri, hanya perlu dijalani…

Persis seperti itulah hari-hari yang tengah dihadapi Phil Brown, manajer Hull City yang tengah mendapat tekanan untuk segera keluar dari siklus buruk klub yang diasuhnya. Usai dihancurkan Liverpool dengan skor telak, 1-6!, Brown mendapati timnya duduk di peringkat ke-19 alias dua terbawah dari klasemen dengan rekor terburuk kemasukan 19 gol dalam tujuh pertandingan terakhir.

Tekanan untuk segera memecat sang manajer – lazimnya perilaku sebuah klub modern jika menghadapi serentetan hasil buruk, datang bertubi-tubi dari sejumlah suporter fanatik dan media yang mencoba kritis. Pernah menyandang status klub kejutan yang sempat menaklukkan Arsenal musim lalu serta merepotkan tim-tim besar lain, kini The Tigers hanya menjadi klub medioker. Bisa bertahan di Premier League musim lalu bisa dibilang sebagai kejutan besar, kalau tidak bisa disebut keajaiban, jika mengingat kualitas tim yang memang seadanya itu.

Untunglah Brown punya bos yang penyabar. Paul Duffen, Chairman Hull, justru marah besar kepada pihak-pihak yang menuntut penggantian manajer kesayangannya itu. Baginya, prestasi buruk hari ini tidak bisa dengan mudah mengubur pencapaian-pencapaian hebat Brown di masa lalu. Hujan sehari tak seharusnya menghapus panas setahun.

“Prestasi buruk dalam beberapa pertandingan tidak seharusnya membuat kita melupakan jasa seseorang. Jangan lupakan apa yang Phil Brawn perbuat di sini. Dia menyelamatkan klub dari ancaman degradasi di Championship, lalu membawa kami promosi ke Premier League, dan mampu bertahan hingga hari ini dengan susah payah,” bela Duffen yang harus menghadapi tekanan publik untuk segera mengganti manajernya.

“Brawn masih tetap seorang manajer yang meraih penghargaan “Manager of the Month” dua belas bulan lalu. Masih terlalu dini untuk bersikap panik dan mengambil langkah radikal. Kami baru memasuki pertandingan ke-7 musim ini,” lanjut Duffen. “Tim masih punya semangat untuk bangkit. Phil Brawn baru menjalani tahun kedua dari tiga tahun masa kontraknya. Kami percaya dan tahu betul apa yang bisa dilakukannya untuk klub ini.”

Lantunan nada pembelaan yang jauh lebih berarti ketimbang sebuah lagu berjudul Jangan Menyerah. Kadang, seseorang hanya membutuhkan dukungan untuk segera keluar dari kemelut saat dihadapkan pada situasi sulit. Bukan hardikan, kemarahan, apalagi pemecatan.

Sisanya, tentu saja serahkan pada Yang Kuasa untuk menunjukkan jalanNya…

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa

Posted in Jatuh Bangun | 1 Comment